Kenang Aku Seperti Aku Mengenangmu

Alhamdulillah ... saya menutup tahun ini dengan memposting karya saya yang terpilih sebagai Best Of  The Night untuk tema "KENANGAN" tanggal 29 Desember 2010 yang diadakan oleh klub menulis @writingsession dan diumumkan hari berikutnya pada tanggal 30 Desember 2010. 

Keterangannya sila baca disini :
Best Of The Night 29 Desember 2010 


Bagi saya, terpilihnya saya dari sekian banyak teman penulis yang menulis dengan tema yang sama, bukan berarti karya saya yang paling bermutu diantara mereka. Maka alangkah hinanya saya jika saya merendahkan karya teman-teman penulis lain. Terpilihnya karya ini adalah motivasi bagi saya di akhir tahun ini agar saya bisa lebih rajin belajar menulis di tahun 2011, lebih rajin membuat karya yang kreatif dan tidak monoton. Itulah makna kebahagiaan saya hari ini.


Karya ini sesungguhnya hanya fiksi, namun akhirnya menjadi refleksi kisah cinta saya sendiri dan menjadi penutup kisah cinta saya di tahun 2010. Semoga saya bisa melakukan apa yang dilakukan oleh tokoh utama dalam cerita ini. Selamat memandangi, mengamati, dan (mungkin) mengagumi :) 


Bisa juga dibaca disini :
http://writingsessionclub.blogspot.com/2010/12/kenang-aku-seperti-aku-mengenangmu.html



Kenang Aku Seperti Aku Mengenangmu 



Hal terberat dalam sebuah perpisahan adalah hilangnya kebiasaan-kebiasaan. Dua insan yang biasanya melakukan sesuatu bersama-sama, biasanya tertawa bersama, biasanya menangis bersama, entah apa lagi yang biasanya dilakukan bersama, kemudian harus beradaptasi dengan kesendirian yang tidak biasa. Kebersamaan yang hilang digantikan oleh kenangan. Bukan perpisahan itu sendiri yang menyakiti, tapi kenangan. Karena  kenangan sanggup membuat kita tidak bisa saling melepaskan.

Aku sudah berusaha untuk tidak mengenangmu. Tapi  setiap kali membuka mata di pagi hari, aku ingat senyummu. Di sampingku kau pernah tersenyum, mengusap minyak yang tebal di hidung dan keningku. Dengan mulut yang sama-sama berbau tak sedap meski semalam sama-sama menggosok gigi, kau selalu menyapaku dengan kalimat hangat “Selamat pagi, matahariku,”

Ah, aku berusaha bangun tanpa ingin mengingatnya lagi. Tapi setiap kali melakukan sesuatu, aku selalu mengingatmu. Banyak hal. Dari hal besar sampai hal-hal sepele. Aku adalah kamu dan kamu adalah aku. Ketika dua sudah menjadi satu, melepaskanmu seolah melepaskan jiwa dengan tubuh. Tubuhku kehilangan jiwa. Aku seperti mayat hidup bertahun-tahun.

Sekeras apapun aku berusaha menepis kenangan, satu persatu kenangan itu justru hadir menemani detik demi detikku. Lama-lama aku terbiasa, lama-lama aku akrab, dan akhirnya aku berdamai dengan kenyataan. Kenyataan bahwa kenangan adalah pengganti sosokmu. Kenangan bukan lagi makhluk gaib yang menghantui langkahku. Kenangan adalah sahabatku, yang selalu menyadarkanku bahwa aku pernah punya kekasih yang melengkapiku. Aku pernah merasakan utuhku tergenapi dalam sosok seorang lawan jenis. Kau pernah jadi bagian hidupku, begitu pula aku, pernah menjadi bagian alurmu. Kini kenangan adalah rindu yang tak beku.

Maka hari ini, ketika kau kembali, ketika akhirnya aku tak lagi berbincang dengan bayang-bayang, aku justru memilih berhenti.  Aku memilih berhenti  berharap memilikimu karena aku memutuskan untuk hidup bersama  kenangan. Aku takut jika kita memulainya lagi, akan ada kenangan baru yang mungkin saja merusak kenangan kita sebelumnya. Aku telah sangat menikmati kenangan yang pernah kita ukir beberapa tahun lalu. Cukup itu saja untuk membuatku bahagia. Aku sudah membuka lembaran baru ketika kau bilang hubungan kita harus berakhir.

Akhir adalah awal yang baru. Bertahun-tahun aku mencoba berdamai dengan kata-kata itu. Aku harap kau bisa melakukannya juga. Kenang aku sebagaimana aku mengenangmu. Aku yakin kamu bisa, sebagaimana aku yang juga bisa. Karena kita bukan lagi dua, tapi satu. Meski dalam ruang dan jarak yang tak lagi sama.

Comments