Aku dan Cintaku Pada Hujan

Bisa juga dibaca di sini :

Aku dan Cintaku Pada Hujan

Berdiri di sudut jendela adalah rutinitas yang tak pernah membosankan bagiku. Aku sangat menikmatinya, terutama ketika langit menumpahkan tangis. Entah sebatas rintik gerimis atau derasnya, guyuran air dari langit yang dinamakan manusia sebagai hujan itu sungguh ajaib. Kadang aku ikut menangis bersama langit, tapi kadang justru tersenyum hingga tertawa.

Aku tersenyum mengingat ibuku. Sejak kecil aku tak boleh bermain hujan karena takut tubuhku jatuh sakit. Hujan menjadi demikian menakutkan bagi ibuku hingga saat gerimis pun aku harus segera berlari untuk berteduh. Ibu tak pernah lupa memasukkan payung dan jas hujan ke dalam tasku. Setiap berangkat dan pulang sekolah aku harus selalu mengenakan jaket. Tapi ibu tak pernah tahu, aku justru paling suka bermain dalam hujan. Setiap kali hujan datang, aku akan bermain-main mengenakan jas hujan yang ibu masukkan ke dalam tasku. Tubuhku terlindungi jas hujan, dan aku sengaja hujan-hujanan. Sungguh mengasikkan. Ibu adalah wanita karier yang selalu berada di rumah ketika aku sudah terlelap. Jadi ibu tak pernah tahu aku sering bermain dengan hujan, bukan menghindarinya.

Ibu dipanggil Tuhan saat usiaku tujuh belas. Pemakaman ibu tepat di hari ulang tahunku, dan hujan seakan ingin menemaniku yang sedang berduka. Hujan teramat deras datang membasahi para pelayat yang mengantarkan ibu ke tempat peristirahatan terakhirnya. Semua orang berlari untuk berteduh, sedangkan para penggali kubur berusaha secepat mungkin menyelesaikan pekerjaannya menguburkan jasad ibu. Aku, berdiri terpaku menatap ibu. Air mataku beradu dengan derai hujan. Tak ada yang tahu aku menangis karena aku tak terisak, tak tampak gerak-gerik yang menunjukkan aku sedang menangis. Hujan menyembunyikan tangisku karena derasnya pun lebih deras dari air mataku. Aku terus terpaku menatap jasad ibu yang perlahan-lahan hilang tertutup tanah. Tangisku nyata tapi tak tersapa mata mereka.

Sejak kematian ibu, aku tak pernah lagi membawa jaket, jas hujan, atau payung di dalam tasku. Membawanya berarti mengingat ibu. Meski tujuan ibu baik, dan meski membawa benda-benda itu berarti menghargai ibu, aku lebih memilih untuk tidak pernah membawanya lagi. Aku tersenyum mengingat betapa perhatiannya ibu kepadaku. Aku terharu pada perhatiannya, tapi bagaimanapun aku sangat suka hujan, aku tak mau benda-benda itu menghalangi tubuhku yang ingin selalu dekat dengan hujan. Setiap kali hujan datang, aku akan sengaja bermain dengan rintik-rintiknya, gerimis ataupun derasnya. Aku tertawa melihat orang-orang yang panik setiap kali hujan datang.  Mereka berlarian agar tubuh tak basah dan agar sakit tak menyapa. Padahal aku, bertahun-tahun aku akrab dengan hujan, tak pernah tubuhku demam atau sakit karena kehujanan. Ketahanan tubuh yang sangat ku syukuri hingga sekarang.

Aku masih berdiri di sudut jendela, menikmati langit yang menumpahkan tangisnya. Sejak usiaku bertambah, aku mulai jarang bermain dengan hujan. Apalagi sejak lulus kuliah dan berstatus karyawan dengan rutinitas hidup yang mengekang. Aku jarang menikmati hujan. Aku terpaksa menghindari hujan agar pakaian kantorku tak basah. Aku terpaksa menghindari hujan agar esok tak mendadak demam. Bertambahnya usia membuatku kini sering diserang demam jika tubuhku disentuh hujan. Akhirnya disinilah aku setiap kali hujan. Aku hanya bisa berdiri di sudut jendela, baik sudut jendela kantor ataupun sudut jendela apartemen. Hanya memandanginya, hanya bisa mencintai hujan tanpa bisa menyentuhnya lagi.

Lantas aku teringat kisah cintaku. Aku pun kini hanya bisa mencintai laki-laki itu tanpa bisa menyentuhnya lagi. Banyak hal yang menghalangi kebersamaan kami. Seperti kisah cintaku dan hujan, kisah cintaku dengan laki-laki itu juga harus aku hindari agar hatiku tak jatuh sakit. Aku harus menjaga harga diriku seperti menjaga pakaian kantor yang tak boleh basah oleh hujan. Aku mencintai lelaki yang telah memiliki kekasih. Bodohnya aku tak pernah diberi tahu oleh laki-laki itu dan aku percaya saja bahwa ia hanya mencintaiku. Tuhan begitu baik hingga akhirnya satu demi satu fakta datang menghampiriku. Aku bukan perempuan satu-satunya. Aku akhirnya pergi dari hidupnya tanpa pamit, tanpa minta penjelasan. Aku hapus semua akun jejaring sosialnya dari akunku, aku hapus pula nomor ponselnya dari ponselku, berharap bisa menghapus dirinya dari hidupku.

Nyatanya hingga kini aku masih saja mengingatnya. Setiap kali hujan datang, aku kembali mengingatnya. Kisah cinta yang hampir sejalan dengan kisah cintaku dan hujan. Aku hanya bisa memandangi foto-foto lelaki itu dari laptop tanpa bisa menyentuhnya lagi. Seperti rutinitasku berdiri di sudut jendela memandangi hujan yang begitu dramatis. Hanya bisa memandangi, meski sangat mencintai.

Mendadak aku ingin intim lagi dengan hujan. Memandangi beragam foto laki-laki itu hari ini membuatku ingin menangis histeris, dan hujan tahu aku sedang membutuhkannya. Hujan datang menghampiriku, mulai dari gerimis hingga derasnya. Hujan sudah menyanyikan senduku dan seakan memintaku mendekapnya. Aku tak tahan hanya memandanginya dari sudut jendela selama berjam-jam. Aku lalu keluar dari apartemen, ingin menangis dalam hujan.

Aku kembali mendekap hujan. Betapa bahagianya. Aku seperti kanak lagi, dimana hujan adalah saat yang tepat untuk bermain. Sampai pada akhirnya aku melihat sosok itu. Sosok yang berjarak hanya beberapa meter dariku. Aku tahu ia juga bertempat tinggal di sekitar apartemen ini. Tak sengaja bertemu dengannya bukanlah hal yang bisa membuatku terkejut. Tapi tak sengaja bertemu dengannya dalam hujan adalah keajaiban. Dia, yang ku tahu tak pernah suka hujan, justru sedang menikmati hujan. Dia tersenyum, menatap langit yang sama sekali tidak cerah dan tidak tersenyum kepadanya. Aku tahu betul itu dia. Sampai pada akhirnya pandangan kami bertemu saat matanya mulai turun dari langit menujuku. Menuju tubuhku yang baru berpelukan dengan hujan. Ia tersenyum, begitupun aku. Mudah-mudahan ia tak tahu aku juga sekaligus menangis. Aku menangis bahagia karena hujan membawaku untuk bertemu dengannya. Hujan membantuku melihat lagi wajah yang sangat kurindukan. Sepahit apapun ia mengkhianatiku, aku masih saja menyayanginya, masih merindukan senyumnya. Entah ini cinta jenis apa, aku hanya ingin bertemu dia. Dan hujan mengabulkannya.

Hanya beberapa detik kami saling menatap dalam hujan, tanpa saling menghampiri. Saat ia melangkah mendekati, seorang perempuan datang sambil berlari, membawakan payung untuknya, lalu mengajaknya pergi. Aku berbalik, tak sudi melihat mereka lagi.

Sepanjang jalan tanpa tahu kemana harus menuju, mataku terus menangis, hatiku menangis, tapi aku tahu orang-orang tak tahu aku sedang menangis. Hujan menderas menyembunyikan tangisku dalam senandungnya yang sendu.

***
Aku terjaga dalam ruangan serba putih. Tanganku digenggam hangat seseorang. Ayahku tersenyum menyembunyikan kepanikannya.

“Kamu lupa pesan ibu?”

“Aku ingat. Aku selalu ingat. Tapi aku sedang ingin bermain hujan, ayah. Kali ini saja,”

“Kamu mengidap penyakit bronchitis, maka ibumu dulu selalu melindungimu dari hujan,”

“Mengapa aku baru diberi tahu sekarang?”

“Karena ayah tidak tega memisahkan kamu dengan hujan. Ayah tahu kamu sangat mencintainya. Tapi satu hal yang kamu harus mengerti dalam hidup, bahwa terkadang kita harus berpisah dengan yang kita cintai. Seperti ayah yang tak ingin berpisah dengan ibu, tapi Tuhan memanggilnya lebih dulu. Apa ayah harus bunuh diri agar bisa bersatu lagi dengan ibu? Tidak kan? Kau juga tak boleh menyiksa tubuhmu hanya karena ingin selalu bersatu dengan hujan. Kau masih bisa mencintainya dengan cara lain. Memandanginya dari sudut jendela, melukis pelangi setelah hujan, atau menulis puisi tentang hujan. Masih banyak cara yang bisa kau lakukan untuk tetap bisa mencintai hujan,”

“Lalu bagaimana cara ayah untuk tetap bisa mencintai ibu?”

“Ayah akan selalu mengirimkan doa untuknya,”

Aku tersenyum pada ayah. Mulai hari ini, aku akan mencintai hujan dengan cara lain. Mungkin akan terus memandangi hujan dari sudut jendela. Sambil menangis, atau berdoa. Mendoakan ibu. Mendoakan ayah. Mendoakan diriku agar bisa berhenti merindukan laki-laki itu.

Hujan datang lagi, senandungkan lagu dalam pembaringanku. Aku memandangi hujan dari jendela rumah sakit. Aku akan tetap  mencintai hujan meski tak bisa lagi menyentuhnya, karena hujan tak akan pernah membuatku terluka seperti dia.

Setelah pulih nanti, aku ingin mengabadikan hujan dalam puisi …

Comments