Pengagum Rahasia Terakhir

Klik pada judul di bawah untuk menuju ke link tulisan saya ini di Writingsession club :

“Hey, aku punya secret admirer lagi,”

Lagi katamu. Begitu bangganya kau menyebut kata “lagi” karena aku memang tahu betul, kau selalu punya secret admirer.

“Tapi kali ini beda. Sepertinya orangnya sedikit … psycho,”

Ah, bukankah semua secret admirer itu psycho?  Mereka mengikuti orang yang dikagumi, memberi kejutan-kejutan kecil kepada  sang pujaan hati, tapi tak pernah berani bertemu langsung. Apa namanya kalo bukan psycho, ketika waktumu hidup hanya kau habiskan untuk memikirkan satu orang, selalu berusaha  memberi kejutan rahasia, mengaguminya hingga sulit tidur sulit makan, lalu mulai menanyakan segala hal tentangnya dari sumber manapun bahkan dengan cara apapun.  Apakah itu cara mencinta yang normal? Mengapa harus membiarkan snag pujaan hati bertanya-tanya dan penasaran?

“Kemarin pagi, ada bunga mawar warna hitam di mejaku. Terus pagi ini ada secarik kertas bertuliskan puisi cinta. Tapi puisinya menyeramkan. Akhir puisinya dia bertanya, maukah kau menemani tak hanya hidupku tapi juga matiku? Maksudnya aku disuruh mati bareng dia kali ya, hahahah,”

Kamu aneh. Kamu masih menganggap itu lelucon. Bagiku tidak lucu. Itu surat yang teramat sangat serius.

“Besok dia mau ngasih kejutan apa lagi, ya. Entah sudah ke berapa kali aku lupa. Aku punya banyak pengagum rahasia, tapi tidak satu pun yang menjadi kekasihku. Seandainya mereka berani bertemu, mungkin aku akan memilih salah satunya,”

Kamu terus berceloteh tentang pengagum rahasiamu. Kau ulang semua kisah yang pernah kau ceritakan padaku sejak lima tahun lalu. Semua pengagum rahasia beserta tingkahnya yang aneh-aneh. Tapi pengagum rahasia-mu yang terakhir ini yang sungguh membuatmu penasaran.

“Aku benar-benar ingin bertemu dengannya. Kalau dia berani menemuiku, aku janji, kali ini aku akan menerimanya sebagai kekasihku,”

Aku sudah mencacat janji itu. Kita buktikan saja nanti, apakah kau akan memenuhi janjimu.


***

            Aku tak menyangka akan demikian penasaran pada pengagum rahasia terakhirku ini. Ia bahkan tahu nomor ponselku. Ia menawarkan diri untuk bertemu denganku. Karena rasa penasaranku memang tak tertahan, akhirnya aku menemuinya di sebuah kafe di daerah Jakarta Selatan.

            “Hey, Sandra, kok kamu disini?” tanyaku pada seorang perempuan yang telah menjadi sahabatku selama kurang lebih lima tahun. Ia mendekatiku yang sednag duduk termenung menanti sang pengagum rahasia.

            “Aku sudah bertemu pengagum rahasiamu. Ayo, naik ke mobilku,”

            “Oh ya, kok bisa? Memangnya kamu kenal dia?”

            “Sangat kenal. Ayo, langsung ke mobilku saja. Aku akan mengantarmu menemuinya,”

            “Wah, kenapa ga bilang dari kemarin-kemarin?”

            “Nanti aku jelaskan di mobil sambil jalan. Ayo!”

            Aku menurut saja. Aku sudah sangat percaya padanya. Setelah cukup jauh meninggalkan Jakarta dan tiba di puncak bukit yang sepi, ia menghentikan mobil dan mulai bercerita.

            “Akulah pengagum rahasiamu yang terakhir. Ingat janjimu?”


            Aku terkejut.

            “Tapi … tapi … bagaimana mungkin?”

            “Mengapa? Janji adalah hutang. Kau sudah mengucapnya dan aku sudah mencatatnya di hati dan pikiran. Kau tak akan jilat ludah sendiri kan?"

            “Kita tidak mungkin …,”

            “Maukah kau menemani tak hanya hidupku tapi juga matiku?”

            “TIDAK MAU!!!!”

            Aku berteriak lantang.

      Percuma. Suaraku tercekat. Tangan sahabatku langsung menggerayangi tubuhku. Dia melakukan pelecehan seksual, lalu mengikat seluruh tubuhku dengan banyak tali. Setelah itu, ia menyalakan mobil kembali, menjalankannya dan menembus jurang di hadapan kami. Sepertinya kami akan mati bersama. Aku pasrah. Aku tak mungkin menerima cintanya. Bukan karena kami telah bersahabat selama lima tahun, tapi karena kami sama-sama perempuan.

Comments

meika said…
This comment has been removed by the author.