Pertama dan Utama

Bisa juga dibaca di sini :
http://writingsessionclub.blogspot.com/2011/01/pertama-dan-utama.html

Pertama dan Utama


“Seribu sembilan ratus delapan puluh lima followers? Mendadak seleb kamu!” Dara, sabahatku, berkaca-kaca di depan laptopku. Entah pujian atau ejekan, kata-katanya begitu dalam. “Kok bisa sih?” ia melontarkan pertanyaan yang sesungguhnya juga ingin ku tanyakan kepada diriku. Aku hanya mengangkat bahu, menandakan tak sanggup menjawab pertanyaannya.
“Selama satu bulan terakhir sejak memenangkan lomba menulis online, setiap kali mengecek e-mail, selalu ada saja e-mail dari twitter dengan kata-kata : @blablabla is now following you on twitter.” aku mengungkapkan padanya apa yang ku alami.
“Wah, hebat. Mungkin mereka penasaran sama kamu karena kamu memenangkan lomba menulis itu, jadi ya mereka semua follow twitter kamu,”
“Mungkin,”
“Kok kamu seperti yang ga senang gitu? Kalau aku ada di posisi kamu, pasti aku bahagia banget deh. Mendadak seleb gitu. Seperti jargonnya Miss Indonesia : Semua Mata Tertuju Padamu. Ya ampun, aku pasti bangga. Baiklah, sekarang juga aku bangga dan bahagia, ternyata sahabatku yang merasakannya. Lalu mengapa sahabatku sendiri justru tidak bahagia?”
“Entahlah,”
Aku membiarkan sahabatku antusias di depan laptopku. Mengutak-atik akunku, menjerit setiap membaca mention-mention lama yang masuk ke akunku hingga hari ini, membaca tweet-tweet dariku yang banyak di-retweet orang lain. Dia masih terkagum-kagum dengan kenyataan yang ada, sedang aku, masih bingung dengan apa yang aku rasa. Apakah ini yang benar-benar aku cari? Apakah ini yang benar-benar membuatku bahagia?

***

Satu tahun lalu,
“Aku yakin kamu bisa jadi penulis best seller. Penerbitnya aja yang bego, masa karya sebagus ini ditolak?” kekasihku Ferdy mendadak emosi saat melihatku kembali ke mobilnya dengan naskah novel yang ditolak oleh penerbit. Sudah empat bulan naskah itu tak ada kabar, maka kami memutuskan untuk kembali menemui penerbit, menanyakan langsung bagaimana keputusan penerbit atas draft novel tersebut.
“Kita coba cari penerbit lain saja. Mungkin memang karyaku tidak sesuai dengan visi-misi mereka,” aku mencoba lapang dada.
Kekasihku menyalakan mesin mobilnya, lalu mobilnya melaju meninggalkan kantor penerbit ternama yang ku harapkan mampu membawa karyaku sampai ke pembaca di seluruh Indonesia. Harapanku kandas, kekasihku kecewa.
Untunglah sejak hari itu ia masih saja menemaniku. Ia masih saja mendukung karya-karyaku. Ia tak lelah menemaniku bertemu penerbit-penerbit lain.
Hingga saat ke-lima kalinya karyaku ditolak penerbit, aku justru mendapat pekerjaan di luar negeri. Aku meninggalkannya dengan berjanji akan terus menulis dan terus mengirimkan tulisanku via e-mail padanya, agar ia bisa terus meng-apresiasi karyaku. Aku bilang aku akan berhenti mengajukan karyaku untuk diterbitkan oleh penerbit mainstream di Indonesia. Aku hanya ingin terus menulis walaupun tak akan pernah terbit.
Kekasihku tetap mendukung meski ia berharap aku tetap berada di Indonesia dan terus berjuang bersamanya untuk menembus penerbit mainstream di Indonesia. Dia selalu yakin aku bisa. Dia selalu percaya suatu saat aku akan bisa menjadi penulis ternama. Aku percaya dukungannya bukan hanya karena aku kekasihnya, tapi karena dia tahu aku tidak serius menjalani ini semua.
Beberapa bulan berpisah jarak, masalah demi masalah muncul dan akhirnya kami memutuskan untuk berpisah.

***
“Ada masalah apa, Luna? Sejak memenangkan lomba menulis itu, sampai hari ini, kamu tidak pernah terlihat bahagia, selalu gelisah, seperti terus memikirkan sesuatu. Ada apa?” sahabatku, Dara, mulai menanyakan kebingunganku.
“Kalau boleh jujur, aku tidak pernah ikut lomba itu,”
“Apa?” sahabatku terkejut.
“Iya, aku tidak pernah ikut lomba itu?”
“Tapi, tapi …,” sekarang sahabatku yang bingung.
“Cerpen itu memang karyaku. Tapi aku tidak pernah mengikutsertakan cerpen itu untuk lomba menulis online yang sekarang melambungkan namaku,”
“Makanya aku mau nanya, apa kamu yang mengikutsertakan karyaku?”
“Bukan. Ya ampun Luna, aku saja baru baca karyamu setelah menang,”
Aku menghela napas berat. Cerpen itu belum pernah aku publikasikan, bahkan di blog pribadiku. Aku baru mengirimkannya kepada satu orang, dan itu : mantan pacarku.
“Apa mungkin dia?” aku bergumam sendiri.
“Dia? Dia siapa?”
Aku langsung menyalakan laptop, mengaktifkan Yahoo Messenger :
[putri_luna]           :    Apakah ini semua ‘ulah’mu? Aku mendadak terkenal sekarang.
[ferdy_funkeh]      :    Akhirnya kamu sadar. Apa kabar?
[putri_luna]            :   Apa maksudnya semua ini?
[ferdy_funkeh]       :   Aku hanya ingin membantumu dikenal dunia
[putri_luna]             :   Untuk apa masih peduli dengan kehidupanku?
[ferdy_funkeh]   is offline.

Aku mengepalkan tangan tanda geram. Mengapa dia pergi sebelum menjelaskan semuanya?
“Ada apa sih, Luna?”

***

Keesokan harinya aku menerima e-mail dari Ferdy :

Dear Luna,
Maaf atas kelancanganku mengirimkan cerpen yang kau kirimkan padaku ke panitia lomba menulis online itu. Tak ada maksud apa-apa selain ingin membantumu maju. Aku adalah fans pertamamu sejak aku tahu kekasihku dulu bisa menulis. Kau sadari atau tidak, akulah yang paling setia membaca, memuji, bahkan kadang tak segan mengkritisi karya-karyamu. Aku juga yang paling sedih ketika melihatmu ditolak penerbit. Aku tahu kau akan bisa menggapai impian yang selalu kau sampaikan padaku, hanya saja kau harus berusaha lebih keras dan Tuhan sedang mencari waktu yang tepat untuk membuatmu dikenal banyak orang.
Aku rasa ini jalan Tuhan juga. Tuhan menggerakkan aku untuk mengirimkan karyamu ke panitia lomba itu dan akhirnya menang. Aku melakukannya karena menghargai karyamu yang memang sudah seharusnya mendapat tempat layak. Tak ada hubungannya dengan hubungan percintaan kita. Aku memang pernah sayang padamu tapi jika memang harus berpisah, mungkin itu yang terbaik. Aku hanya ingin tetap menjadi fans pertama dan utama di hatimu. Fans yang selalu mendukung karya-karyamu. Maaf jika caraku salah.




Aku menangis haru membaca e-mail itu. Tak bisa lagi berkata-kata.





Comments