Cinta Sepekat Cokelat

Bisa juga dibaca di sini :
http://writingsessionclub.blogspot.com/2011/02/cinta-sepekat-cokelat.html


Cinta Sepekat Cokelat

Teruntuk Lelakiku,

Putus. Hanya satu kata itu yang terus aku pikirkan selama satu bulan terakhir bersamamu. Kita sudah berpacaran selama dua tahun. Dan selama dua tahun itu, tak pernah aku dengar dari bibirmu bahwa kau mencintai aku. Bahkan mengatakan bahwa aku cantik pun tak pernah. Aku memaklumi bahwa kau orang yang memang tidak romantis. Tapi mengungkapkan rasa sayang meski hanya satu kali, begitu beratkah? Aku ingat lagi saat-saat dulu kita mulai dekat dan akhirnya resmi jadi kekasih. Kamu memintaku menjadi kekasihmu hanya dengan satu kalimat pendek : “Jadian, yuk!”

Aku menerimamu saat itu karena memang sedang merasa kosong. Aku memang baru mengenalmu satu minggu, itupun dari dunia maya. Entah mengapa meski baru pertama kali bertemu langsung, aku merasa kta sudah lama kenal. Aku merasa cocok denganmu. Maka, ketika kau mengajakku kepada hubungan yang lebih dari teman, aku terima saja. Jalani saja, itu prinsipku kala itu!

Ya, akhirnya dua tahun berlalu tanpa terasa. Aku bisa bertahan dengan orang yang sama sekali tak romantis hanya karena kamu bisa menunjukkan kasih sayangmu dengan sikap dan perbuatan nyata, bukan kata-kata. Tapi tahukah kamu, kadang aku juga butuh ungkapan. Aku butuh pengakuan dari bibirmu yang mungil dan menggemaskan itu. Aku ingin kekasihku mengatakan aku cantik. Aku ingin merasakan hal-hal romantis seperti yang dirasakan pasangan lain. Candle Light Dinner, liburan ke pantai berdua, atau apapun, bukan hanya rajin sms dan telepon menanyakan kabar dan aktifitasku. Aku bosan, sayang … 

Dan, satu bulan lalu, saat aku mengutarakan hal ini padamu, kamu malah balik marah padaku karena menganggap aku terlalu mendramatisir keadaan. Kita pun bertengkar hebat, dan hingga hari ini, setelah satu bulan berlalu, tak ada satu pun diantara kita yang mau mengalah untuk menyapa duluan. Jadi sebenarnya siapa yang mendramatisir?


Surat itu terhenti. Aku masih bingung mau melanjutkan seperti apa. Aku malas menjelaskan lebih panjang lagi. Intinya aku mau putus. Itu saja. Satu bulan berlalu tanpa komunikasi, siapa bisa tahan?
Ponselku berbunyi. Nomormu tertera disana. Aku enggan menerimanya. Lebih dari 5 kali tak diangkat, kau mengirim pesan pendek.


***

Café di daerah Dago Pakar. City Lights Bandung menjadi pemandangan yang terhampar di depan meja kami. Meja yang hanya diterangi cahaya lilin itu sudah penuh dengan hidangan makan malam. Aku masih takjub dengan segala keajaiban malam ini. Untung aku mengenakan dress sehingga tidak terlalu malu berada di tempat ini. Aku tak tahu akan dibawa ke tempat se-romantis ini. Aku hanya memenuhi keinginannya yang ingin bertemu denganku malam ini, karena ada hal yang ingin dibicarakan. Lewat pesan pendek ponsel, ia katakan akan menjemputku. Aku tak tahu tempat ini yang disiapkannya.

“Ini yang kamu mau kan?” 

“Maksud kamu?”

“Ini. Candle Light Dinner, tempat makan romantis, apa perlu ditambah cincin dan aku melamarmu hingga kau menangis terharu?”

Aku benci melihat wajahmu. Kau memang menyuguhkan semua hal romantis malam ini. Tapi bukan begini caranya. Mengapa harus kau rusak suasana malam ini dengan kata-katamu?

“Kenapa kamu lakukan ini sama aku? Mau kamu apa?”

“Aku hanya mau memberikan apa yang kamu inginkan. Ini kan yang kamu inginkan? Sudah aku penuhi. Lalu sekarang apa?”

“Tapi bukan seperti ini. Bisa ga sih kamu ngertiin aku, dikit aja?”

“Ngertiin gimana? Aku udah nyiapin candle light dinner seromantis ini? Apa masih kurang?”

“Bukan ini yang aku mau,”
 
“Aku ga ngerti apa maunya kamu. Aneh!”

“Kamu emang ga akan pernah ngerti! Kita putus!”

Aku langsung pergi. Percuma! Kamu memang tidak punya niat untuk memperbaiki semuanya.


***

“Dira, ada Nicko,” Bunda mengetuk pintu kamarku.

“Ngapain dia kesini lagi?” aku bertanya dari dalam kamar tanpa membuka pintu.

“Ga tau tuh,” Bunda langsung pergi lagi.

Beberapa menit kemudian Bunda kembali mengetuk pintu. “Dira, buka pintunya sayang, ini ada titipan dari Nicko,”

Aku membuka pintu kamar.

“Nicko-nya mana, Bunda?”

“Pulang. Dia pamitan sama Bunda. Katanya mau ke bandara,”

“Bandara? Emang dia mau kemana?”

“Ga cerita tuh. Dia cuma nitip ini,”

Surat dan cokelat. Aku langsung membacanya.



Teruntuk perempuanku, 

Maafkan aku yang tak pernah bisa mengerti akanmu. Aku sudah berusaha memberikan apapun yang terbaik, tapi jika menurutku masih belum memenuhi apa yang kau harap, maafkan. Aku hanya seorang pencinta yang mungkin tak pernah tahu bagaimana cara membahagiakan perempuan. 

Bersama surat ini, aku memberikan sebatang dark cokelat. Itu simbol pekatnya cintaku padamu. Aku tahu kau tak pernah suka cokelat karena takut gemuk dan rasanya terlalu manis, bahkan cenderung jadi pahit kalau terlalu pekat. 

Cintaku padamu seperti cokelat itu. Tak kau sukai, tapi sesungguhnya menyehatkan bagimu. Sering-seringlah makan cokelat untuk menenangkan hatimu sekaligus menyehatkan tubuhmu. Tak banyak yang tahu kalau cokelat banyak mengandung enzim plavanoids yang sangat baik untuk kesehatan. Cokelat bisa menurunkan resiko serangan jantung, dapat menurunkan tekanan darah dan dapat resistensi insulin, serta dapat memperbaiki sirkulasi darah arteri. 

Itulah cintaku, sesungguhnya baik bagi hidupmu, andai engkau tahu … 

Aku tak bisa berkata lebih banyak karena memang tak biasa. Tapi semoga kau mengerti maksud suratku ini. Aku ingin mencintaimu dengan caraku. Maaf jika caraku salah…

Hari ini aku pergi ke Australia, melanjutkan pendidikanku. Kalau memang kisah cinta kita harus berakhir hari ini, aku terima. Tapi aku harap kamu mau mencoba makan cokelat dariku ini.
Aku pergi …



Aku mencoba menggigit cokelat itu. Manis. Aku menghabiskannya dengan tenang. Tak terasa cairan bening keluar membasahi dinding pipiku. 

Aku berjanji pada diriku akan rajin mengkonsumsi cokelat, demi kesehatanku. Ia mungkin akan pergi, dan entah kapan kembali. Aku juga tak tahu apakah hubungan kami masih bisa dipertahankan setelah ini. Aku sungguh merasa bersalah tapi aku tak tahu harus bagaimana.

Aku mencari surat yang pernah aku tulis untuknya. Aku buang ke tempat sampah setelah ku sobek-sobek kasar. Aku tak pantas menuliskan surat seburuk itu untuknya.

Ia pergi dengan meninggalkan cinta sepekat dan sesehat dark cokelat … aku akan sangat merindukannya …


Comments