Mencukur Dosa

Aku pernah berhenti menjual diri. Aku pernah menjadi manusia normal seutuhnya. Bekerja dengan gaji pas-pasan, makan dengan uang ‘halal’ menurut agamaku, menerima caci-maki atasan setiap kali aku melakukan kesalahan, dan pasrah bekerja tanpa pujian meski pernah membuat prestasi yang membanggakan perusahaan.

Dulu aku pernah mencukur dosaku dengan pisau cukur seadanya: keimanan yang belum sempurna. Hingga saat keadaan yang demikian menghimpit, ketika Tuhan kembali menguji pertobatanku dengan cobaan, pertahanan diriku pun runtuh. Aku memutuskan untuk kembali ke dunia malam, kembali menjajakan tubuh, menjual jasa kepuasan syahwat.

Dosa itu ibarat bulu. Dosa akan terus tumbuh meski sering dicukur dengan pertobatan. Butuh pisau cukur maha tajam: keimanan maha kuat untuk mencukurnya sampai ke akar.


Bisa juga dibaca di sini (Jejakubikel)

Comments