Dialog Dua Wanita

“Apa yang kau cari dari suamiku?”

“Cinta”

“Kau yakin yang kau cari itu cinta?”

“Maksudmu?”

“Kau yakin yang kau cari hanya cinta?”

“Tentu saja. Menurutmu?”

“Cinta bisa kau dapat dari laki-laki lain, tak harus suami orang, ayah dari anakku,”

“Tapi aku hanya mendapatkannya dari dia,”

“Kau yakin dia memberimu cinta? Bukan nafsu?”

“Tentu saja,”

“Dari mana kau bisa yakin?”

“Kalau nafsu, dia pasti sudah lama meniduriku. Tapi selama ini, jalan berdua saja kami belum pernah,”

“Tapi kalian sudah berpacaran melalui telepon,”

“Siapa bilang itu pacaran?”

“Apa bukan pacaran namanya jika setiap jam suamiku menanyakan aktifitasmu?”

“Kalau dia menanyakannya sebagai teman,wajar bukan?”

“Tak wajar jika dilakukan setiap jam,”

“Mengapa persahabatan harus dikotak-kotakkan begitu?”

“Jangan alihkan pembicaraan. Mengapa kau sering mengirim pesan singkat kepada suamiku?”

“Bukan aku yang mengirim duluan, tapi dia. Aku hanya membalas. Wajar bukan?”

“Menjadi tak wajar ketika isinya sudah mulai menjurus kepada perzinahan,”

“Perzinahan? Kami tak pernah berzinah,”

“Mengirimkan kata-kata yang memancing birahi saja itu sudah termasuk zina kecil,”

“Aku baru tahu perzinahan ada yang besar dan kecil. Dosanya sama kan? Kalau begitu lain kali aku pilih dosa besar saja bersama suamimu,”

“Jadi kau sudah melakukan zina kecil dengan suamiku?”

“Aku tidak mengatakan itu. Kau sendiri yang mengatakannya,”

“Kembali ke pertanyaan awal, mengapa harus suamiku? Apa yang kau cari darinya?”

“Aku sudah menjawabnya,”

“Tak bisakah kau dapatkan cinta dari laki-laki lain?”

“Laki-laki banyak. Tapi tak ada yang bisa memberi cinta sebaik suamimu,”

“Belum tentu dia mencintaimu. Apa dia pernah mengatakannya?”

“Kalau kau yakin suamimu tidak mencintaiku, mengapa kau begini khawatir?”

“Aku hanya tak ingin yang semula tidak ada menjadi ada,”

“Kalau sudah terlanjur ada?”

“Akan aku cegah agar tidak berkelanjutan,”

“Untuk apa kau cegah?”

“Aku tak ingin anakku kehilangan ayahnya,”

“Anakmu tak akan apa-apa tanpa ayahnya. Banyak manusia bisa bertahan hidup dalam keadaan yatim piatu. Lagipula, anakmu memang tak akan pernah kehilangan ayahnya. Selama suamimu masih hidup, dia tetap ayah dari anakmu, meskipun kalian berpisah. Sekarang akui saja bahwa kau yang tak ingin kehilangan suamimu. Jangan bawa-bawa nama anak,”

“Kamu perempuan kan? Sekarang bayangkan jika kau ada dalam posisiku? Bagaimana perasaanmu jika laki-laki yang kau cintai mencintai perempuan lain?”

“Aku akan melepaskannya. Berarti dia bukan laki-laki terbaik yang harus aku pertahankan,”

“Kau bisa bicara begitu karena kau belum punya anak,”

“Apa bedanya? Kau hanya takut. Ketakutan bahwa anakmu dan dirimu sendiri tak akan bisa makan tanpa nafkah dari suamimu. Kau takut bergelar janda. Kau lebih takut pada hal-hal itu dibandingkan takut kehilangan suamimu,”

“Sok tahu kamu. Aku hanya tidak rela orang yang aku cintai ternyata mencintai orang lain,”

“Pantaskah kamu mempertahankan laki-laki yang telah mengkhianatimu? Bukankah lebih baik kau lepaskan saja dia?”

“Dia tak akan mengkhianatiku kalau tak ada perempuan seperti kamu?”

“Perempuan sepertiku? Seperti apa maksudmu?”

“Perempuan yang nekat mencintai suami orang,”

“Sebesar apapun cintaku tak akan berpengaruh apa-apa jika suamimu tak menyambutnya. Jangan salahkan satu pihak. Mengapa hanya aku yang kau anggap salah?”

“Tapi kalau tak kau lanjutkan, sekeras apapun suamiku menggodamu, juga tak akan mempan kan? Seharusnya kau menjaga dirimu,”

“Mana ku tahu hatiku akan menjatuhkan cintanya pada suami orang?”

“Sejak awal kau tahu dia sudah beristri, seharusnya kau tak main api,”

“Bagaimanapun kami tak pernah berpacaran, jalan berdua pun belum pernah. Mengapa kau begini takut?”

“Sudah kubilang tadi, aku sedang mencegah yang tidak ada menjadi ada,”

“Kadang seseorang butuh pembanding untuk menentukan mana yang terbaik,”

“Maksudmu?”

“Suamimu tak akan tahu bahwa kau yang terbaik jika dia tak mengenalku dan mengenal perempuan lain. Dengan banyaknya jenis wanita yang ia kenal, ia akan tahu siapa diantara kita semua yang terbaik untuk dirinya. Dan kita, aku dan kamu, tak punya hak untuk ikut campur pada pilihannya. Biarkan dia memilih, karena hatinyalah yang paling tahu siapa yang terbaik,”

“Enak sekali dia bisa memperlakukan kita seperti itu?”

“Kita pun bisa melakukan yang sebaliknya. Kita ada di posisi yang dikhianati. Kita tahu dia sudah membagi hati. Maka kita juga punya hak untuk memilih untuk tetap bersamanya atau meninggalkannya. Dia juga tak bisa mengganggu gugat pilihan kita. Kalau kita berdua memilih untuk mempertahankannya, berarti dia yang harus memilih. Tetapi kalau kita berdua memilih untuk melepasnya, maka dia harus menerima kehilangan kita berdua sekaligus. Adil bukan?”

“Aku tak akan melepasnya,”

“Aku juga tak ingin melepasnya. Jadi kita harus pasrah bahwa dia akan memilih salah satu diantara kita,”

“Mengapa bukan kau saja yang mundur? Bukankah lebih terhormat jika kau menyadari posisimu salah dan kau mundur demi mempertahankan rumah tangga seseorang?”

“Bukankah lebih terhormat jika aku tetap tidak mundur dan membiarkan dia memilih? Bukankah kau akan lebih bangga dan bahagia jika ternyata dia memilihmu? Jadi biarkan dia memilih. Dengan menyuruhku mundur, jelas sekali kau tidak yakin suamimu masih mencintaimu. Seharusnya kau lebih percaya diri,”

“Aku hanya berpikir, akan lebih baik jika kau mundur lebih dulu sehingga suamiku tak perlu memilih lagi. Dia sudah terikat pernikahan dan sudah punya anak. Seharusnya dia sudah tahu apa yang harus dipilihnya,”

“Belum tentu dia bahagia jika memilihmu dan anakmu. Bagaimana kalau ternyata dia mempertahankan kalian hanya demi nama baik? Apakah kau dan anakmu akan bahagia?”

“Aku yakin suamiku tak seperti itu,”

“Kalau kau yakin, kau tak perlu menemuiku seperti ini. Suamimu akan pulang, akan kembali kepada kalian, jika hatinya memang memilih kalian sebagai sumber kebahagiaannya. Tapi jika hatinya menemukan sumber kebahagiaan di tempat lain, entah dihatiku atau di hati perempuan lain, kau harus belajar untuk pasrah. Kau harus membiarkan orang yang kau cintai bahagia. Suatu hari kau juga akan menemukan kebahagiaan bersama orang lain. Siapa tahu ini memang yang terbaik untuk kalian berdua,”

“Mudah sekali kau mengucapkannya. Semua tidak sesederhana yang kau pikirkan,”

“Tapi juga tidak serumit yang kau pikirkan. Kau cantik, penuh kasih sayang, pendidikanmu juga tinggi. Aku sempat membaca tulisan-tulisanmu di blog dan dari sana aku tahu kau cerdas. Suamimu juga sering menceritakan tentang dirimu dan juga anakmu. Aku bahkan tahu dimana kalian berbulan madu. Terlalu banyak kisah indah dan mengharukan yang tak pantas ditukar dengan diriku,”

“Tapi kau muda, lebih cantik, punya banyak talenta. Dia bisa saja mengambil resiko melepaskan semua kisah indah dan mengharukan bersamaku dan merasakannya kembali bersamamu. Bukankah itu lebih menantang bagi laki-laki?”

“Aku tidak yakin dia akan memilihku. Jalan berdua saja kami belum pernah. Mengapa kau begini takut? Aku justru yang takut akan kehilangan dia karena posisimu dan anakmu yang tak bisa diganggu gugat,”

“Hanya Tuhan yang tahu apakah posisiku dan anakku memang tak bisa diganggu gugat,”

“Tapi aku bahkan tidak tahu apakah dia mencintaiku atau hanya main-main,”

“Lalu mengapa kau mendebatku sejak tadi? Kalau kau tak yakin dia mencintaimu, baiknya kau lepaskan dia sebelum hatimu lebih sakit,”

“Mengapa kau berpikir hatiku akan lebih sakit? Bukankah kau tak yakin posisimu dan anakmu tak bisa diganggu gugat? Dua pernyataanmu bertolak belakang,”

“Aku hanya mencegah yang tak ada menjadi ada, atau yang sudah ada agar tak berkelanjutan,”

Kedua wanita itu saling menatap, hanya beberapa detik, lalu saling meninggalkan dengan arah yang berlawanan. Mereka tak tahu lelaki yang mereka perdebatkan baru saja tewas tertabrak kereta api.

Comments

Feine Fraulein said…
aih,,, hiks hiks,,,
Tenni Purwanti said…
kenapa? :D