The Iron Lady, Sosok Pemimpin yang "Tidak Loyo"

Saya baru saja kembali menduduki kursi empuk di bioskop, semalam. Menonton sebuah film yang (katanya) memenangkan (atau setidaknya) masuk nominasi beberapa penghargaan film internasional, salah satunya Oscar. Saya baru mengecek kebenarannya, dan ternyata benar. Pantas saja, saya tidak menyesal menonton film tersebut.



The Iron Lady, adalah sebuah film yang mengisahkan tentang Margaret Thatcher, Perdana Menteri dengan masa jabatan terlama dalam sejarah kerajaan Inggris. Tema besar dari film ini adalah sejarah pemerintahan dan politik Inggris, dengan menonjolkan sosok seorang pemimpin yang tegas, meskipun ia adalah seorang perempuan. Pada masa hidup Margaret Thatcher, perempuan tidak dipercaya menjadi seorang pemimpin di Inggris. Pemerintahan didominasi oleh laki-laki, yang notabene malah belum menunjukkan kemajuan bagi negeri.

Dengan segenap keberanian, tokoh Margaret Thatcher yang diperankan oleh Meryl Streep, kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam pemerintahan Inggris. Tak puas terpilih sebagai Menteri Pendidikan, ia mencalonkan diri menjadi Perdana Menteri.



Film ini mengisahkan bagaimana perjuangan Margaret Thatcher hingga akhirnya bisa menduduki jabatan sebagai Perdana Menteri dan bagaimana perjuangannya memerintah Inggris selama 11,5 tahun. Ada darah, air mata, namun tidak membuatnya menjadi pemimpin yang "loyo". Bahkan ketika harus ditinggalkan oleh suaminya, Denis Thatcher (yang diperankan oleh Jim Broadbent), Margaret masih sosok yang memiliki karakter kuat.

Saya pribadi menyukai alur cerita film ini, yang dibuat maju-mundur alias campuran. Film dimulai dengan situasi ketika Hotel Marriot di Islamabad di-bom pada tahun 2008. Cerita kemudian mengalir dengan setting waktu dimana Margaret sudah beranjak tua dan telah kehilangan suaminya untuk selama-lamanya.

Tokoh Margaret menderita sebuah penyakit yang membuatnya tak bisa membedakan antara masa lalu dengan masa sekarang. Kenangan tentang suaminya, dan masa lalunya yang keras ketika harus berjuang mengurusi pemerintahan Inggris, datang dan pergi dalam kehidupan masa tuanya. Inilah uniknya film ini.



Selain dari alur cerita, saya sangat salut pada karakter tokoh-tokoh di dalamnya, baik Margaret maupun suaminya, Denis. Margaret beruntung memiliki suami yang mengerti sepenuhnya, bahwa seluruh hidup istri tercintanya, akan didedikasikan untuk pelayanan publik. Dan Margaret, adalah sosok seorang pemimpin yang tegas, yang konsisten dengan pendiriannya, namun tetap memiliki dedikasi kepada keluarganya. Harapannya selain menjadikan Inggris lebih maju, juga ingin melihat putera-puterinya tumbuh bahagia.


Ini adalah foto Perdana Menteri Inggris yang asli, Margaret Thatcher, yang kisah hidupnya menginspirasi pembuatan film "The Iron Lady"



Pesan moral yang saya dapatkan dari film ini (dan terutama dari kisah hidup seorang Margaret Thatcher) adalah :

  1. Seorang perempuan harus berani mewujudkan cita-citanya, meskipun banyak yang meremehkan.
  2. Ada satu pesan dari sahabat Margaret : "Ketika ingin mengubah negara, pimpinlah!"
  3. Selain ingin agar Inggris menjadi negara yang maju, keinginan terbesar Margaret dalam hidupnya adalah ingin melihat putera-puterinya tumbuh bahagia.
  4. Meski harus mengorbankan nyawa prajurit, Margaret teguh pada pendirian bahwa Kedaulatan penting bagi sebuah Negara. Margaret memutuskan perang dengan Amerika Serikat untuk mempertahankan sebuah pulau yang jauh terpencil dan dianggap tidak menghasilkan apa-apa bagi Inggris. Ia mengambil contoh betapa Amerika juga dulu mempertahankan pulau Hawaii meskipun jauh dan terpencil. Amerika tidak menyerahkannya kepada Jepang saat Jepang "menawar" secara diplomatis untuk menduduki pulau tersebut.
  5. Ketika keputusannya untuk menyatakan perang harus mengorbankan nyawa-nyawa prajurit, Margaret menulis surat dengan tulisan tangannya sendiri, kepada keluarga prajurit dan menyatakan "perjuangan prajurit untuk kedaulatan Inggris tidak pernah sia-sia,".
  6. Meski kebijakannya pernah mendapat kecaman, ia memiliki prinsip bahwa : "mungkin keputusan kita akan dihujat oleh generasi saat ini, tapi generasi selanjutnya akan berterima kasih atas keputusan yang diambil hari ini,"
  7. Kisah hidup Margaret Thatcher juga mengisahkan tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang terdekat, yang akhirnya mengancam kepemimpinannya. Film ini pada akhirnya menggambarkan dengan indah, bagaimana sulitnya memimpin sebuah negara, dalam gelombang pro dan kontra dari rakyat dan bahkan orang-orang di dalam pemerintahan sendiri.

Ini adalah film tentang seorang perempuan yang berhasil menggoreskan sejarah pemerintahan Inggris, namun memiliki kehidupan pribadi yang begitu cantik.







Comments

selamat pagi. Saya jeffry. Pertama dari tulisan kamu yang ini saya jadi pgn film nya. Muncul pertanyaan knp tidak RA Kartini yang di buat jadi ikon nya. Lebih jauh kita tau kan emansipasi berawal dari dia di negeri ini. Oiya aku mau tanya tentang kegiatan sosial km tentang panti jompo di surabaya gimana ya konsep nya? Boleh ikut gabung?
Tenni Purwanti said…
Saya memang terlibat dalam kegiatan amal tersebut tetapi hanya menyumbangkan tulisan, dan hasil penjualan buku saya untuk panti jompo tsb. Panitianya silakan hubungi admin Nulisbuku.com di email admin@nulisbuku.com.

Btw, ini film yang diproduksi oleh orang Inggris dan menceritakan sejarah Inggris, jadi aneh kan kalau ujug-ujug cerita soal RA Kartini?

Mudah-mudahan sineas Indonesia terinspirasi untuk membuat film seperti ini.
terkait dengan kegiatan amal tersebut, kalau sifat kegiatannya mandiri dan bertema sosial saya ingin bergabung. itu tidak hanya untuk penulis novel kan ten?
Kebetulan saya di universitas IPB Bogor juga ada kegiatan bagian sosial gt tapi fokus di panti. Konfirmasi ya koment aku. Selamat malam tenni.
Tenni Purwanti said…
Masalahnya kegiatan kami memang khusus untuk penulis. Jadi ikut nulis, trus royaltinya untuk amal. Aduh, kalau ngobrolin disini kok jadi gembar-gembor amal gini. Gimana kalau via email atau YM? YM saya rose.pr1ncess@yahoo.com feel free to chat