20 Tahun Cerpen Pilihan Kompas

Tahun ini adalah tahun ke-dua saya menghadiri malam "Anugerah Cerpen Pilihan Kompas". Namun yang berbeda di tahun ini adalah karena merupakan penyelenggaraan yang ke-20. Ya, 20 tahun sudah Kompas memberikan penghargaan terhadap cerpen pilihan, yang tentu saja sesuai dengan kriteria yang ditetapkan panitia dari Surat Kabar beroplah terbesar se-Indonesia itu.

Memang penyelenggaraannya sudah lewat (sekitar tanggal 28 Juni) dan sangat terlambat kalau mau mengulas acaranya - sudah lewat satu bulan. Tapi bolehlah saya tulis sedikit disini. Menurut saya pribadi, penyelenggaraan tahun ini masih kurang dibandingkan tahun lalu. Entahlah, ini hanya pandangan saya pribadi. Seperti kurang "nyawa".

Maka saya memilih me-review bukunya saja. Yakni buku berjudul "20 Tahun Cerpen Pilihan Kompas, dari Salawat Dedaunan sampai Kunang-Kunang di Langit Jakarta" (Penerbit Buku Kompas, 2012).





Buku ini berisi 22 cerpen dari 21 cerpenis (karena ada 2 cerpen yang ditulis oleh satu orang). Buku ini merupakan kumpulan cerpen pilihan Kompas sepanjang tahun 2011. Terpilih 22 cerpen pilihan dari 48 cerpen yang telah dimuat di harian Kompas Minggu sepanjang tahun 2011. Sedangkan yang menerima penghargaan sebagai Cerpen terbaik tahun ini adalah Salawat Dedaunan karya Yanusa Nugroho dan Kunang-Kunang di Langit Jakarta karya Agus Noor. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, untuk malam penganugerahan Cerpen Pilihan Kompas tahun ini, dewan juri memilih 2 pemenang, padahal biasanya hanya ada satu pemenang.

Kedua cerpen ini, menurut pertimbangan juri, sangat istimewa dalam hal mengolah serpih-serpih realitas menjadi karya yang imajinatif dengan metafor-metafor yang sederhana, tetapi menggugah rasa yang dalam. Ia tidak memberi pesan, tetapi menyodorkan sebuah kesadaran baru di dalam diri para pembacanya (Pengantar Tim Juri halaman XII)

Saya pribadi tidak akan menuliskan tentang kedua cerpen yang menang ini, tetapi saya hanya membahas salah satu diantaranya, yakni Salawat Dedaunan karya Yanusa Nugroho. Menurut saya,  cerpen ini sangat sederhana. Realitasnya ada di kehidupan kita sehari-hari. Tapi mungkin, belum ada yang bisa menulis sebagus Yanusa Nugroho dalam hal ini. Berkisah tentang Masjid yang jarang dikunjungi oleh warga sekitar, tetiba ada seorang Nenek yang datang dan rajin menyapu halaman luar Masjid. Kehadiran sang Nenek misterius inilah yang membuat warga justru tertarik untuk datang. Sedangkan sang Nenek sendiri terus menyimpan misteri sambil menyapu dedaunan, ia melafalkan Salawat-salawat sambil memohon ampunan kepada sang Khalik. Setelah kematiannya, dedaunan di sekitar Masjid menjadi jarang berguguran seolah sudah ada yang membersihkan.

Pesan moral yang tidak menggurui dari Cerpen ini adalah tentang fenomena Masjid yang selalu sepi dan fenomena seorang yang menanti ajal sambil mengingat dosa sepanjang hidup. Kisah sang Nenek dan masjid tersebut mungkin tak berhubungan, namun mmeberi peringatan bahwa jangan sampai kita lupa untuk bertaubat, bahkan lupa mengunjungi Masjid. Apakah harus menunggu tua untuk mengingat kematian dan dosa? KIra-kira begitulah apresiasi saya. Bisa jadi berbeda dengan pesan yang ingin disampaikan penulis. Tapi begitulah saya memahaminya.

Lalu cerpen lainnya seperti Kain Perca Ibu karya Andrei Aksana. Isinya tentang Sang Ibu yang selalu menyimpan kain-kain yang mempunyai nilai sejarah dalam kehidupannya. Pada akhirnya ia menyerah pada kenangan dan mengubah semua kain menjadi kain perca lalu menjadikannya benda-benda baru yang lebih bermanfaat ketimbang hanya disimpan menjadi kenangan. Namun, setelah Sang Ibu meninggal, nyatanya baju-baju milik Almarhum sang Ayah masih tersimpan rapi, tak ada yang diubah menjadi kain perca, apalagi menjadi benda lain.

Cerpen Kain Perca Ibu menunjukkan bahwa Sang Ibu ingin agar anak-anaknya tak seperti dirinya yang tak bisa melepaskan kenangan. Kain hanya disimpan dan sesekali dibuka jika rindu. Ia tak ingin anak-anaknya seperti dirinya sehingga ia mengajarkan untuk mengubah kain bekas menjadi kain perca yang bisa diubah menjadi benda baru. Sang Ibu tahu dirinya terlalu nyaman dengan kenangan, sehingga tak ingin anak-anaknya seperti dirinya.

Cerpen lain yang saya suka adalah Cerpen berjudul "Ikan Kaleng". Berkisah tentang seorang guru yang ditugaskan mengajar di Jayapura, Papua. Ia sudah berbekal beragam ilmu pengetahuan sesuai dengan kurikulum, namun apa tanggapan orang tua murid yang akan didiknya? Mereka tak ingin anak-anak mereka disekolahkan karena kurikulimnya tak berguna. Yang dibutuhkan oleh anak-anak warga di kampung itu adalah cara membelah ombak dengan dayung, membaca angin, gemintang, dan asin air laut dan jejak-jejak ikan di antara buih dan gelombang. Belakangan orang tua murid bahkan hanya minta agar anak-anaknya diajari untuk bisa mengalengkan ikan, agar tak rugi ketika telah dapat menjaring banyak ikan.

Begitulah cerpen ini membawa pesan moralnya sendiri. Sudah saatnya kurikulum pendidikan tidak disama ratakan untuk seluruh Indonesia karena masing-masing daerah memiliki kebutuhan yang disesuaikan dengan kondisi geografis, budaya, adat-istiadat, dll. Atau, ketika kurikulum memang harus disosialisasikan secara menyeluruh, butuh adaptasi ekstra untuk menjelaskan karena tidak semua warga bisa memahami maksud pemerintah membuat kurikulum tersebut. Warga, memiliki kebiasaannya sendiri, yang butuh adaptasi untuk bisa menerima doktrinasi baru dari pihak lain, meskipun dari pemerintahnya sendiri. Dan satu lagi, ilmu itu memang harus berguna, bukan hanya untuk mendapat ijazah semata, tapi bisa diaplikasikan dalam kehidupan, sebagaiman halnya membuat ikan kaleng yang berguna agar ikan tak mudah busuk.

Begitulah cerpem-cerpen dalam buku ini berkisah dan membawa pesan moralnya sendiri-sendiri tanpa menggurui.

Selain itu, pembaca akan menemukan sedikit ciri yang menandai sebagian besar cerpen di buku ini. Pertama adalah pilihan bentuk dan gaya, atau cara penceritaan yang secara dominan dipenuhi oleh kecenderungan yang mistik, lalu mengarahkan cerita pada simpulan atau akhir yang supranatural atau surealistik (Radhar Panca Dahana)
Mungkin bagi sebagian orang yang terbiasa dengan cerpen posmodern, akan merasa bosan dengan buku ini. Karena selama dua puluh tahun, Kompas menghadirkan cerpen pilihan yang kurang lebih memiliki garis besar yang sama, cara penceritaan yang sama, juga tema-tema yang sama, meski penilaian utama adalah tentang aktualitas, kaitannya dengan isu yang tengah beredar di masyarakat, sesuai dengan pemberitaan koran Kompas itu sendiri.

Namun, diluar gaya bahasa yang klasik dan mungkin terkesan itu-itu saja, kita patut mengapresiasi keteguhan Kompas untuk mempertahankan sisi romantisme sastra klasik, dari serbuan fiksi-fiksi teoritik, historik, atau sibernetik. Seperti yang ditulis Radhar Panca Dahana dalam pengantarnya berikut ini :

Harian modern yang masih menyimpan idealisme dalam romantisme yang arkaik dan bebal, mencoba bertahan dalam tren hidup yang kian retoris. Kumpulan Cerpen pilhan, membuat dua dekade usianya menjadi semacam ritus yang teguh dalam tradisi yang kian dilipat oleh kemutakhiran zaman posmodern.Ia seperti juga ziarah yang tidak henti pada makam kritik sastra, pada kebudayaan dimana peradabannya kita nafikan sekaligus kita mimpikan sebagai jawaban masa depan. Tetapi, sampai kapan, ia (baca : kita) bertahan? 

Ya, sampai kapan Kompas akan bertahan untuk menyelenggarakan Malam Anugerah Cerpen Pilihan dan menerbitkan buku Cerpen Pilihan-nya dengan kriteria yang dipegang teguh selama berpuluh tahun tersebut? Apakah karya sastra yang menjadi pilihan Kompas akan tetap bergumul dalam karya-karya klasik yang berbenang merah sama : Tradisional dan Spiritual? Bentuk dan gaya yang kurang lebih serupa pada tiap-tiap cerpen pilihannya?

Sambil menunggu jawabannya, kita nikmati saja dulu buku ini, salah satunya karya Seno Gumira Ajidarma, yang hampir tak pernah absen hadir dalam Buku Cerpen Pilihan Kompas setiap tahunnya. Bahkan tahun lalu, Seno adalah sang Jawara-nya. Dalam buku "20 Tahun Cerpen Pilihan Kompas" ini, Seno menuliskan sebuah cerpen berjudul Pring Re-Ke-Teg Gunung Gamping Ambrol. Cerpen ini menceritakan peperangan antar kampung yang hanya disebabkan oleh kesalah pahaman, fitnah, dan tuduhan tak berasalan yang diakibatkan oleh diskriminasi dan "pelabelan" sepihak terhadap suatu kalangan tertentu. Membaca judulnya sangat lucu, namun tak selucu kisah yang dituliskan Seno dalam cerpen ini. Mengingatkan kita akan fenomena yang terjadi di sekitar kita, tentang "pelabelan" terhadap kalangan tertentu, dan mudahnya kelompok-kelompok tersulut api amarah dan memutuskan untuk berperang.

Selamat berziarah di makam sastra klasik yang ditawarkan buku ini ...


Comments