Tak Sekadar Berperang Melawan Penyakit

Saya sempat protes saat menonton film "Surat Kecil untuk Tuhan" karena ceritanya yang kurang menyentuh. Mungkin bukunya lebih mengharukan daripada filmnya, entahlah. Akibat protes saya ini yang saya publikasikan di status facebook, saya dicap sebagai manusia "kurang empati".



Mungkin memang saya kurang empati. Tapi film itu memang kurang begitu menjelaskan bagaimana perjuangan sang tokoh utama yang menderita penyakit serius. Mungkin saya iri, karena meski menderita penyakit yang mematikan, tokoh utama memiliki keluarga dan kekasih yang setia menemaninya sampai akhir hayat. Mungkin saya iri akan keberuntungannya memiliki kekasih.

Begitupun ketika saya membaca buku Sunrise Serenade (Gagasmedia, 2012). Saya juga sempat iri pada tokoh utama Dian Syarief yang sepanjang perjuangannya melawan penyakit Lupus, didampingi oleh sang suami tercinta. Saya selalu membayangkan apabila para tokoh utama ini - baik di "Surat Kecil untuk Tuhan" atau "Sunrise Serenade" - tidak memiliki pasangan dan keluarga. Apa jadinya mereka? Pasti hidupnya lebih menderita.

Ya, lagi-lagi semua orang akan menganggap saya kurang empati. Lagi-lagi semua orang akan menganggap imajinasi saya terlalu "novelis" yang tak pernah rela tokoh utama bahagia. Tapi memang, buku-buku tentang penderita penyakit serius di Indonesia, masih berputar tentang bagaimana sang penderita penyakit menghadapi penyakit yang dideritanya dengan didampingi orang-orang terkasih. Setidaknya hidup mereka masih beruntung. Jujur saya sedang menunggu (atau mungkin saya saja yang belum menemukan) buku yang menceritakan tentang penderita penyakit mematikan yang tak punya keluarga, tak punya kekasih, dan tak punya biaya untuk mengobati penyakitnya. Pasti buku itu akan lebih menyentuh bukan?

Ya, by the way, sambil mencari buku "ideal" versi saya itu, saya pun baru menonton film "Surat Kecil untuk Tuhan" dan membaca buku "Sunrise Serenade" yang kurang lebih garis besarnya sama : kisah penderita penyakit mematikan yang berjuang melawan penyakitnya dengan ditemani orang-orang tersayang.





Namun saya menemukan perbedaan dari kedua kisah ini. Dalam buku Sunrise Serenade, Dian Syarif sang penderita Lupus tak hanya melawan penyakitnya namun juga berupaya agar orang lain yang menderita penyakit serupa bisa mendapatkan pendampingan (kalau bisa pengobatan). Sedangkan dalam film Surat Kecil untuk Tuhan, sang tokoh utama Keke hanya membuat penonton ikut merasakan penderitaannya dari surat-surat yang ia tulis dan keinginannya agar berguna bagi orang sekelilingnya sebelum ia meninggal.

Memang tak adil jika saya harus membandingkan kedua tokoh utama ini. Dalam "Surat Kecil untuk Tuhan", penderita kanker ganas adalah seorang remaja 13 tahun (Keke). Wajar jika ia tak bisa berbuat apa-apa misalnya kemudian berinisiatif untuk membuat yayasan seperti yang dilakukan Dian Syarief dalam "Sunrise Serenade". Dian Syarif berusia jauh lebih tua dari Keke. Maka saya tidak akan membandingkan keduanya, namun hanya ingin mengatakan bahwa kisah Dian Syarief jauh lebih menyentuh saya.

Dian Syarief Pratomo adalah seorang karyawan yang pernah bekerja di sebuah bank swasta nasional. Ia berhenti bekerja sejak divonis menderita penyakit Lupus sejak tahun 1999. Penyakit itu merenggut penglihatannya hingga hanya tersisa lima persen, atau yang biasa disebut Low Vision. Berbagai jenis operasi baik di dalam negeri maupun di luar negeri telah dijalaninya dengan sakit yang bertubi-tubi. Hal ini tak hanya menyakiti fisiknya namun juga meruntuhkan kekuatan mentalnya. 
Namun berkat kekuatan yang diberikan orang-orang di sekitarnya (keluarga besar dan suami), Dian pun bisa melawan penyakitnya bahkan bisa mendirikan yayasan yang memberi informasi serta pendampingan bagi penderita Lupus yang lain. Pada 2004, Dian membentuk Syamsi Dhuha Foundation yang bergerak untuk membantu Sahabat Odapus (Orang dengan Lupus) dan sahabat loVi (low vision/keterbatasan penglihatan). Keaktifan dirinya di dunia sosial dan kesehatan membuatnya terpilih sebagai salah satu tokoh inspiratif yang dianugerahi International Lifetime Achievement Award dari International Congress on SLE, di Vancouver, Kanada dan Danamon Award 2010. Dan pada 2012 ini, Syamsi Dhuha Foundation diapresiasi Sasakawa Health Prize oleh Badan Kesehatan Dunia - WHO. 
Jadi, nilai moral dari buku ini adalah bagaimana Dian Syarief masih bisa memikirkan orang lain yang bernasib sama dengannya, di tengah perjuangannya sendiri melawan penyakit yang bisa dibilang mematikan. Tak sekadar melawan penyakit, Dian Syarief juga peduli untuk menyembuhkan penderita Lupus lain, atau minimal, mmeberi pendampingan spiritual dan menyediakan informasi yang berguna agar penderita Lupus lainnya mendapatkan petunjuk untuk "bersahabat" dengan penyakit itu.

Bahkan, Dian juga membuat sebuah buku dan video yang khusus didesain untuk menjelaskan Lupus bagi anak-anak. Karena ternyata tidak sedikit penderita Lupus yang masih berusia kanak-kanak dan belia. Mereka tentu tak mengerti penyakit apa yang sedang menyerang tubuh mereka. Orang tua mereka pun kemungkinan merasa kesulitan untuk menjelaskan. Dian dengan kreativitasnya mampu membuat anak-anak "bersahabat" dengan penyakit itu, bukan memusuhinya. Sehingga, dengan bersahabat, anak-anak bisa menerima keadaannya tanpa mengeluh.

Begitulah buku ini menyentuh saya. Dian memang tidak menulis sendiri buku ini melainkan dibantu dituliskan oleh seorang perempuan bernama Sundea. Tapi justru di tangan Sundea-lah, buku ini menjadi lebih hidup dan bisa membawa pembaca seolah-seolah sedang menyaksikan Dian menjalani hidupnya.

Buku ini berhasil membuat saya mensyukuri kesehatan yang hingga detik ini masih dianugerahkan Tuhan kepada saya. Buku ini juga membuat saya lebih ber-empati terhadap penderita penyakit mematikan dan mengerti bagaimana penderitaan mereka. Buku ini, juga membuat saya ingin melakukan lebih banyak hal yang berguna bagi orang lain. Tidak hanya berpusat pada diri sendiri.

Tapi, saya akan tetap menanti sebuah buku yang menceritakan tentang penderita penyakit mematikan yang tidak memiliki keluarga, tidak memiliki kekasih, dan tidak memiliki uang untuk pengobatannya. Tentu ia akan lebih menginspirasi jika mampu melawan penyakitnya dengan berbagai cara, apalagi jika ditambah dengan bisa membangun yayasan juga.

Mungkin pikiran dan jiwa saya terlalu novelis. Atau mungkin justru terlalu jurnalis, sehingga saya butuh kisah yang lebih realistis yang berasal dari kaum marjinal yang terkikis.

Entahlah ...


Comments

adien exc said…
Ya,aku nanti juga hal itu,meski aku bukan penggemar/orang yang hobi membaca, cukup untuk mengerti bagaimana nikmat sehat dan nikmat sakit :)
Tenni Purwanti said…
nikmati kesehatan dengan terus menjaganya :)