Surat untuk Hatiku

Kepada hatiku ...

Kuatlah, agar kau bisa membantuku menjadi pribadi yang kuat.
Hidup memang lebih sering tidak bersahabat denganmu, tapi kita harus selalu mengajak bersahabat kehidupan ini, termasuk masa lalu, dan masa depan yang ada di dalamnya.


Kepada hatiku ...

Aku mohon jangan pernah salah menjatuhkan hatimu pada hati yang lain. Aku akan merana atas kesalahanmu. Tetapi jika memang itu harus terjadi, kumohon tetaplah bantu aku menjadi pribadi yang kuat. Pribadi yang bisa mencintai tanpa pamrih. 


Kepada hatiku ...

Jangan pernah meninggalkan aku, karena aku tidak ingin seperti mereka, manusia-manusia tidak punya hati. Hidup mereka hampa, tanpa bisa membedakan rasa ketika menangis dan ketika tertawa. Biarlah aku sering merasakan sakit hingga membuatku menangis dan biarlah aku merasa bahagia ketika harus tergelak tertawa. Setidaknya kita akan terus bersama, dalam menikmati indahnya rasa yang dianugerahkan Tuhan, yakni : suka dan duka. 


Salam hangat dari pemilikmu,
Raisa.


Seorang perempuan berusia 14 tahun sedang membaca ulang tulisannya sendiri. Ia tersenyum, lalu menutup buku harian yang rutin ditulisnya sejak dokter memvonis dirinya menderita penyakit jantung turunan. Vonis itu bersamaan dengan meninggalnya sang ayah akibat penyakit jantung, dan hanya selang satu minggu dari kejadian cintanya ditolak oleh lelaki yang dicintainya sejak setahun terakhir.

Perempuan itu tersenyum, bersamaan dengan air mata yang mengalir di matanya tanpa permisi. Sekali lagi ia meminta kepada hatinya agar bisa menguatkan dirinya menghadapi semua ini. Harapnya, ketika bangun esok pagi, ia bisa tersenyum tanpa air mata, dan mentari menyapanya hangat memberi semangat.

Perempuan itu berusaha terlelap.





Comments