Menanti*

Kemarin, ku nanti
Kehadiran dirimu, kedatangan cintaku


Debur ombak melantunkan gelisahku. Bergulung-gulung, tak bisa diam. Ombak adalah wujud air tenang yang pasrah pada dominasi angin. Menghantamnya habis-habisan tanpa ampun. Ombak menjadi seolah-olah menikmati angin dan menari-nari menggoyangkan apa saja yang lewat, padahal, jika bisa bicara, air laut itu akan memilih untuk tidak pernah bersentuhan dengan angin. 

Begitulah aku adanya. Seorang tukang pijat pantai Bali yang jatuh cinta kepada pelancong. Pasrah dihantam habis-habisan oleh bujuk-rayu sehingga berhasil ditaklukkan. Aku merasa indah sebagai manusia, sebagai perempuan, ketika ia menyatukan dirinya dengan diriku, seperti angin yang berhasil bersatu dengan air laut hingga menjadi ombak. Hatiku bergejolak. Aku merasa indah.

Padahal, ombak hanyalah kesukaan para peselancar, yang mendatangi laut hanya untuk bersenang-senang. Menaklukkan ombak adalah suatu kebanggaan bagi peselancar. Belum tentu mereka berselancar karena mencintai ombak, biasanya tujuannya memang hanya dua : menaklukkan dan bersenang-senang, bukan mencari keabadian.

Sedangkan air laut yang tak pernah mengenal angin, adalah air laut yang tenang, biru, dengan kilau keemasan dari cahaya matahari. Keindahannya adalah pujaan para pelukis hingga mengabadikannya dalam goresan cat di kanvas. Begitu pula fotografer, yang mengabadikan keindahan laut tenang dalam lensa kameranya. Penulis mengabadikan air laut yang tenang dalam indahnya puisi. Begitu banyak profesi yang mengabadikan laut tenang dengan apresiasinya maisng-masing.

Aku sendiri sudah terlanjur menjadi ombak. Meliuk-liuk bersatu dengan beragam peselancar setiap hari. Sudah menjadikan angin sebagai bagian dari hidupku, yang membuatku bisa berkenalan dengan para peselancar itu. Jika boleh memilih, aku lebih memilih tak pernah mengenal angin dan menjadi laut yang tenang.

Aku selalu menunggunya di pantai ini,. Tidak ada yang pernah tahu, bahwa satu-satunya yang memiliki hatiku adalah dia. Juga tidak ada yang pernah tahu bahwa aku mengandung anaknya, melahirkan anak itu, dan membesarkannya sendiri. Tak ada yang pernah tahu siapa sebetulnya ayah dari anakku.

Semua orang hanya tahu bahwa aku adalah tukang pijat yang memberikan layanan plus-plus di sepanjang pesisir pantai. Padahal aku sengaja memilih profesi itu agar bisa mencari dia. Lelaki yang pernah menanamkan benih di rahimku. Lelaki yang pernah berjanji akan kembali kepada buah hatinya. Meski nantinya ia meninggalkanku, setidaknya aku berharap ia mencintai anakku, anaknya, anak kami. Aku hanya berharap dia menjamin masa depan anak. Sederhana, tidak muluk.

Haruskah ku sesali, tak ada arti lagi

Indahnya meniti mimpi



***

"Mengapa kau ingkar?"

"Kamu yang terlambat datang,"

"Tapi seharusnya kamu menantiku,"

"Aku sudah menantimu 20 tahun,"

"Lalu mengapa sekarang kau menikah dengan orang lain?'

"Anakmu sudah menemukan jodohnya. Aku sendirian, jadi aku mencari teman hidup,"

"Bukankah selama ini kau sudah ditemani lelaki-lelaki itu?'

"Itu hanya untuk mencari nafkah. Lagipula aku begitu setelah kau menjerumuskan aku. Aku begitu agar bisa menemukanmu diantara mereka. Tapi kamu, kemana saja?"

"Aku ada di sekelilingmu. Aku adalah angin yang selalu membuatmu bisa menari lincah dan bergumul dengan para peselancar. Aku adalah angin ...,"

Aku terjaga. Dialog itu terasa nyata. Di sampingku seorang lelaki sedang terlelap. Suamiku. Suami sah yang menikahiku setahun setelah puteri kandung yang dirawat sendirian itu, menikah.

Aku turun dari ranjang, ke luar kamar, keluar rumah, lalu berjalan di pantai tanpa alas kaki. Jam menunjukkan pukul 4 pagi dan aku memilih tidak mengenakan alas kaki.

Aku merasakan pasir pantai yang menggelitik. Aku merasakan angin yang mendesah pelan di telinga, seolah membisikkan sesuatu. Aku merasakan dingin yang tak biasa. Dingin yang begitu menusuk. Mataku berhenti pada kejadian di hadapanku. Seorang penjaga pantai berhasil menyelamatkan seorang perempuan yang berniat bunuh diri dengan menenggelamkan dirinya sendiri pada pukul 4 pagi. 

Tak lama mobil amblulance datang, mungkin sudah dihubungi penjaga pantai itu sebelum memutuskan untuk menolong, Entahlah. Hanya saja, mata lelaki itu tak asing bagiku. Ketika petugas medis sibuk menolong pasien, mataku dan mata lelaki itu beradu.

"Steve," sapaku tak percaya. Aku berusaha menyentuh wajah lelaki itu, tapi dihalau. 

"Sally?" ia tak kalah terkejut.

"Kamu? Wajahmu? Kenapa kamu bisa ada di sini?"

"Kalau kamu pernah baca berita bom Bali, kamu pasti akan tahu salah satu korbannya adalah aku,"

Aku masih tak bisa berkata apa-apa. Semua kejadian ini begitu abstrak.

"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Tetapi, aku memang tidak pernah meninggalkanmu. Aku kembali ke Bali, dan sehari sebelum menemuimu, aku malah terkena tragedi itu.. Aku sudah menepati janjiku untuk menjagamu, tapi mungkin aku tidak bisa menepati janjiku untuk datang lagi dan mendampingi hidupmu. Maka aku memilih bekerja sebagai penjaga pantai, agar bisa melhatmu setiap hari, meski wajahku sudah dioperasi plastik untuk menyembuhkan luka bakar," ujar lelaki itu, lelakiku.

"Jadi, selama 20 tahun kamu ada di pantai ini?"

"Iya, aku menyelamatkan banyak orang, sekaligus menjagamu dari jauh," 

Sekali lagi aku masih belum bisa mencerna pertemuan ini. Masih terlalu abstrak. 

"Aku tidak mengerti mengapa Tuhan mempertemukan kita sepagi ini, dengan cara begini," ujarku.

"Mungkin memang harus dengan cara ini kita bertemu. Mungkin hanya dengan cara ini kau harus tahu apa yang terjadi selama ini,"

"Tapi semuanya sudah terlambat,"

"Setidaknya kamu tidak mati penasaran kalau sudah waktunya malaikat kematian mencabut nyawamu,"

"Anakmu sudah besar dan menikah. Dia sudah bahagia dengan suaminya. Aku pun sudah bahgaia, dengan ... suamiku," aku menunduk setelah mengucapkan kata terakhir.

"Anakku? Kamu melahirkan anak kita?"

"Iya, tapi sudah terlambat. Seharusnya kita tidak pernah bertemu lagi. Seharusnya kisah hidupku ini sudah selesai, sudah berakhir bahagia. Untuk apa Tuhan menghadirkanmu lagi dalam hidupku?"

"Supaya kau tidak mati penasaran jika malaikat kematian sudah waktunya mencabut nyawamu. Bukankah sisa hidupmu sudah kau habiskan untuk menantiku? Sekarang kau sudah tahu kabarku. Apapun keputusanmu untuk masa depan, itu hakmu," jawabnya tenang.

Spontan aku memeluk lelaki di hadapanku. Lelakiku. Lelaki yang pernah aku tunggu kehadirannya selama 20 tahun. 

"Pergilah, kembali ke pelukan suamimu," ujarnya datar sambil melepas pelukanku. "Berjanjilah kau akan bahagia menghabiskan sisa hidupmu dengan suamimu,"

"Lalu bagaimana dengan kamu?"

"Biar aku serahkan hidupku kepada Tuhan. Dia tahu apa yang terbaik bagiku,"

"Tapi, apa kau masih di sini?"

"Tidak tahu,"

"Lalu kita, bagaimana?"

"Pulanglah, sebentar lagi pagi menyapa lelap suamimu. Ia akan mencarimu. Pergilah,"

Aku menangis, lalu meninggalkannya sambil menangis. Sepanjang perjalanan aku bersihkan wajahku dengan terus mengusap air mata yang mengalir tanpa henti. Sesampainya di rumah, suamiku sudah berdiri di depan pintu masuk.

"Dari mana?"

"Aku bangun terlalu pagi. Jadi menyempatkan diri jalan-jalan di pantai,"

"Aku ingin minum kopi. Temani aku minum kopi di beranda rumah sambil menatap matahari pagi yang baru terbit,"

Aku melakukan apa yang suamiku minta. Kami pun menikmati kopi hangat sambil memandangi matahari terbit. Tanpa kata.

Sejak itu aku tak pernah tahu lagi kabar lelaki itu, lelakiku. Aku dan suamiku hidup bahagia, hingga tiba malaikat maut mencabut nyawaku lebih dulu. Setidaknya aku tidak mati penasaran, seperti kata dia. 



***

Bila memang .. kau ingkari
Tak kan ku menanti 

Seorang lelaki yang biasanya menyelamatkan nyawa siapapun yang hampir meregang nyawa di pesisir pantai, justru memilih untuk menenggelamkan dirinya dalam tenangnya lautan. Pagi masih muda, dan ia memilih mengakhiri hidupnya saat tak seorangpun memilih untuk terjaga.





*) terinspirasi dari lagu Menanti yang dinyanyikan Dea Mirella di tahun 2000. Sejak mendengar lagu itu, ingin rasanya menulis cerpen tapi tak pernah kesampaian. Baru kali ini terwujud. 








Comments