Tak Ada Lagi Rasa*


Aku dan Sahabatku  sibuk mencari kado.  Sebuah gundam terbaru dengan harga yang cukup mahal.  Tak masalah, aku sudah berniat memberikannya di hari ulang tahun kekasihku besok. Aku bertanya kemana dia hari ini dan ia jawab hari ini ada acara keluarga. Aku menanyakan lokasi acara keluarganya agar aku tidak belanja di tempat yang sama, atau berdekatan dengan tempat acara keluarganya.
Setelah gundam terbeli, aku dan sahabatku mencari tempat untuk membungkus  gundam itu. Di sebuah mal pasti tidak sulit menemukan tempat untuk membungkus kado.
“Nanda, itu bukannya cowok elo?” tanya sahabatku menunjuk lelaki yang berdiri di depan kasir bersama perempuan, yang sepertinya berkebangsaan China.
“Masa sih?” tanyaku balik.
Sahabatku menarikku ke belakang lemari  tempat boneka-boneka terpajang di toko itu untuk mengamati  lelaki yang ia curigai adalah kekasihku.
“Serius itu cowok elo!”
Aku yang sudah yakin bahwa itu kekasihku, langsung berniat untuk melabrak. Tapi sahabatku menahan tanganku. “Jangan dulu, liatin dulu aja dia lagi ngapain,”
“Nggak, gue mau labrak sekarang! Dia udah bohong! Dia bilang ada acara keluarga! Ngapain dia di sini sama cewek?”
Tanpa pikir panjang, aku langsung melabraknya.
“Hai Fye!” sapaku.
“Hai,” ujarnya menyembunyikan rasa terkejutnya.
“Lagi jalan ama siapa?”
“Teman,” ujarnya kikuk. Sang cewek China menjauhi kami berdua.
“Oh, katanya ada acara keluarga?” tanyaku berani.
“Nanti aja ya kita omongin di kosan kamu. Aku pergi dulu,” tanpa perasaan bersalah, kekasihku meninggalkan kami berdua.
Kekasihku tidak tahu, di genggamanku yang kusembunyikan di belakang punggung, ada kado istimewa yang aku siapkan untuk ulang tahunnya, besok.


***

Keesokan harinya, kekasihku menemuiku di kosan. Aku menyerahkan kado itu tanpa berkata apa-apa. Dia membukanya dengan penuh antusias dan berteriak senang saat melihat isinya.
“Terima kasih, sayang,”
“Itu aku beli kemarin, tepat di saat aku ketemu kamu sama perempuan lain,”
“Maafin soal kemarin ya. Dia itu tamu kantor dari China. Dia hanya 2 hari di Indonesia jadi aku temenin,”
“Memangnya harus kamu yang nemenin?”
“Ya karena atasan yang menugaskan,”
“Trus kenapa kamu ga terus terang sama aku dan bilangnya malah ada acara keluarga?”
Kekasihku terdiam.
Masalahnya ini bukan pertama kali dia selingkuh. Dan aku selalu memaafkan, dan memberinya kesempatan. Hubungan kami  terus berjalan, tapi dia tidak sadar bahwa aku menyimpan dendam perselingkuhannya dan aku juga punya batas kesabaran.
“Lalu bagaimana?”
“Kita putus,”
“Hari ini? Di hari ulang tahun aku?”
“Iya.”
“Tapi, kenapa? Hanya karena kemarin?”
“Tidak. Aku udah ga ada rasa sama kamu,”
“Sejak kapan?”
“Sejak pertama kali kamu selingkuh. Dan ini sudah ke-tujuh kalinya sejak aku memberi kesempatan kedua,”
“Tapi kemarin aku ga selingkuh,”
“Tapi kemarin kamu bohong!”  nadaku mulai meninggi.
“Tapi ….,”
Braakkk!!!! Pintu kamar ku tutup.  Salah sendiri dia tidak menanyakan mengapa aku minta dia membuka kado di luar kamar!  



*)  Ditulis untuk #FF2in1 @nulisbuku Tema 2 : Lagu Mendendam - Marcel

Comments