Mencintai Nebula

Ini satu cerpen gagal, yang kalah dalam Proyek 14 : Dongeng Patah Hati yang diadakan penerbit GagasMedia. Kecewa? Pasti! Down? Pasti! Apalagi ini kedua kalinya gagal ikut lomba yang diadakan penerbit itu. Yang pertama, lomba menulis Roman 100 Persen Indonesia, bentuknya novel, tahun 2010. Jadi,  lomba novel dan lomba cerpen GagasMedia, gagal dua-duanya.

Tapi bukan berarti kegagalan ini bikin saya berhenti menulis. Saya akan tetap menulis, seumur hidup saya. Disukai atau tidak, menang lomba atau tidak, diterbitkan ataupun tidak, laku ataupun tidak, saya akan tetap menulis. Untuk apa? Minimal untuk diri saya sendiri.

Baiklah, tanpa perlu berpanjang-panjang lagi, inilah cerpen GAGAL itu :


Mencintai Nebula



Jika mencintaimu adalah sebuah kesalahan menurut orang-orang yang merasa benar, aku akan memilih untuk menjadi pihak opisisi. Cinta tidak butuh dukungan dunia. Cukup hati yang menentukan : bertahan, atau pergi …

Janin itu bergerak-gerak di dalam rahimku. Usianya sudah 20 minggu. Gerakannya masih seperti ketika aku masuk angin di masa gadis dulu. Seperti gelembung angin yang berkejaran di dalam rahimku. Tapi kata dokter, janinku tumbuh normal. Aku baru saja pulang dari dokter kandungan untuk melakukan ultrasonografi (USG). Pemeriksaan selama 20 menit itu menunjukkan hasil positif. Posisi plasenta baik dan calon bayiku ini berkembang normal. Aku sangat bersyukur.

“Jenis kelaminnya sudah bisa diprediksi, Bu. Apa Ibu mau mengetahuinya sekarang?” tanya dokter.

“Tidak usah, dokter. Lebih baik jadi kejutan saja saat melahirkan nanti. Saya hanya ingin memastikan kondisi janin saya baik-baik saja,” jawabku.

Dokter hanya tersenyum. “Suaminya mana?”

“Sedang keluar kota,”

“Ibu berangkat ke sini sama siapa?”

“Dengan ibu saya,” aku berbohong.

“Baiklah. Hati-hati nanti pulangnya ya, Bu. Kondisi ibu dan janin normal. Pertahankan ini. Jaga asupan nutrisi dan banyak istirahat. Satu lagi, jangan banyak pikiran,” ujar dokter, seperti mengetahui isi kepalaku.

Aku hanya mengangguk lalu mengucapkan terima kasih. Setelah itu, aku pamit meninggalkan ruang praktek dokter yang cukup luas itu. Aku menghela napas berat, dan panjang. Secara fisik, aku baik-baik saja. Tapi secara batin, sebetulnya aku tidak baik-baik saja, tetapi kupaksakan untuk baik-baik saja.

Aku harus kuat demi bayi yang kukandung. Perjuanganku sudah sejauh ini. Aku tidak mungkin menyerah dan berbalik arah. Meski sang ayah tak mau mengakuinya. 

“Ini anakmu, Mas … anak siapa lagi?”

“Tidak mungkin. Aku ini seorang gay, tidak bisa bercinta dengan perempuan. Aku bahkan sangat kesulitan bercinta denganmu. Mana mungkin aku membuahimu,” sanggah suamiku.

“Tapi kamu suamiku, Mas. Aku tidak pernah bercinta dengan orang lain, sebelum atau sesudah pernikahan kita. Jadi janin ini sudah pasti darah-dagingmu. Apa kita harus tes DNA saat anak ini lahir nanti?” tanyaku dengan nada tinggi.

Dialog itu muncul lagi dalam perjalanan pulang. Aku gelisah di dalam taksi. Teringat sanggahan demi sanggahan Mas Hanung yang terlontar dari bibirnya. Ia yang selalu lembut, mendadak galak.

Aku kembali menenangkan diri. Saat tiba di rumah nanti, Mas Hanung pasti sudah pulang. Aku bisa mengabarkan kesehatan janinku padanya. Siapa tahu hatinya mencair. Pernikahan kami hampir berjalan lima tahun. Apakah selama itu pula ia belum bisa berubah menjadi lelaki normal?

Anakku butuh sosok ayah. Aku tak yakin mas Hanung bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang ayah. Jangankan menjalankan tugas sebagai ayah, mengakuinya pun enggan. Bagaimana nasib anak ini kelak jika aku bertahan dengan mas Hanung?




***


Kerinduanku padamu adalah kekal. Aku mencintai dalam asa yang tak putus.

Namaku Hanung. Aku seorang gay. Sejak lahir jujur saja, aku seorang lelaki normal (setidaknya menurut orang-orang yang merasa normal). Aku selalu tertarik melihat perempuan cantik. Salah satunya Nebula. Perempuan cantik bernama unik. Dia teman kampusku dulu.

Nebula. Aku tak tahu mengapa orang tuamu memberimu nama itu. Aku tak mengerti istilah astronomi dan tak mau salah mengartikan namamu. Hanya saja, sejauh yang aku tahu, Nebula terbentuk setelah kematian bintang. Namamu terlalu cantik untuk aku sandingkan dengan sebuah kematian. Namun nyatanya kau memang meninggalkanku lewat kematian.
           
Apapun misteri di balik namamu, hanya satu nama itulah yang selalu ada di dalam hatiku. Nebula. Perempuan yang akan kucintai sampai mati. Aku pernah berjanji, jika tidak denganmu, aku tak akan menikah dengan perempuan mana pun. Aku lebih baik menjadi gay dan berhubungan intim dengan sesama lelaki. Aku menepatinya, Nebula. Setelah kuburanmu mengering, aku memulai petualanganku.
           
Tapi orang tuaku yang khawatir lantas menjodohkan aku dengan perempuan. Namanya Aluna. Perempuan itu bilang, dalam bahasa Mesir, namanya berarti cahaya bulan. Ah, kau bintang dan dia bulan. Aku tak mengerti astronomi dan aku heran pada orang tua kalian berdua yang suka memberi nama aneh-aneh. Aku takut salah mengartikannya.
           
Aku menikahi Aluna karena patuh pada orang tua. Tak lebih, tak kurang. Empat tahun pertama pernikahan kami, aku tak bisa membuahinya. Bagaimana mungkin bisa, jika setiap malam aku selalu tidur di apartemen pacarku. Lelaki tentunya. Tapi menginjak tahun ke-lima ini, Aluna hamil. Aku tak yakin Aluna mengandung anakku.

“Aku jarang tidur di rumah. Bagaimana aku bisa yakin janin itu adalah keturunanku?” tanyaku saat Aluna memberi tahu dirinya positif hamil.
           
“Bagaimana lagi aku meyakinkan Mas? Apa perlu tes DNA kalau anak ini lahir nanti?” tanya istriku.
           
Dialog itu muncul lagi dalam perjalanan pulang menuju rumahku. Rumah yang aku tinggali bersama istriku, Aluna. Istri yang tak pernah kucintai. Hanya beberapa menit lagi aku akan menemuinya, yang baru pulang konsultasi ke dokter kandungan. Aku berharap kondisi janin itu baik-baik saja. Sebab ia tak berdosa. Siapapun ayahnya, bayi itu harus lahir sehat, selamat, dan tumbuh besar menantang dunia.
           
Sebetulnya aku kasihan pada Aluna. Dia juga cantik. Tak kalah cantik dengan Nebula. Hanya saja, ia begitu patuh pada orang tua. Hidupnya terlalu “lurus” sehingga ia lahir, sekolah, hingga menikah tepat pada waktunya. Sesuai jadwal yang ditentukan oleh orang tuanya. Aku berharap, kelak dia bisa membuat sebuah keputusan besar untuk hidupnya sendiri, karena keinginannya, bukan karena kehendak orang tuanya.
           
Sebetulnya Aluna adalah gadis baik-baik. Dia masih perawan saat aku menikahinya. Dengan susah payah aku berusaha menghilangkan bayangan Nebula saat bercinta dengannya. Tapi mau tidak mau, akhirnya malam pertama kami harus terjadi saat di mataku Aluna berubah menjadi Nebula. Begitu seterusnya setiap kali harus bercinta dengannya. Mungkin aku bisa menghamilinya pun, karena aku membayangkan berhasil menghamili Nebula. Tapi apa betul anak itu anakku? Apa betul, aku telah berhasil menghamilinya?
           
Aluna, bisakah kau meninggalkan aku yang bejat ini dan mencari lelaki lain yang lebih pantas mendampingimu?

Mobil bergerak perlahan memasuki pekarangan rumah. Taksi yang digunakan Aluna tampak baru saja terparkir. Setelah mobil berhenti, supirku segera turun untuk membantu Aluna turun dari mobil dan mengantarnya ke dalam rumah. Seharusnya aku yang melakukan itu.
           
Setelah Aluna duduk dengan nyaman di ruang keluarga, aku mendekatinya. Duduk di sampingnya dan mengusap lembut perutnya.
           
“Bagaimana si kecil? Sehat?”
           
Aluna tersenyum. Manis sekali.
           
“Sehat, pertumbuhannya normal. Aku pun sehat,” ujar Aluna lembut.
           
Aku lega. Setidaknya, aku juga ikut andil dalam menjaga kandungan Aluna. Meski sempat melakukan penolakan dan tak bisa mengakui anak itu, bagaimanapun janin itu tak punya dosa. Ia harus tetap hidup dan lahir ke dunia. Siapapun ayahnya. Itu sebabnya di minggu-minggu pertama kehamilan, aku sangat memperhatikan kesehatan Aluna. Setelah meminta maaf atas perlakuanku, aku berjanji akan bekerja sama dengan Aluna untuk menjaga bayi dalam kandungannya.
           
Bukan berarti aku bisa mencintainya. Ini hanya soal nyawa. Nyawa seorang anak yang tak tahu apa-apa.
           
“Mas …” sapanya lembut.
           
“Ya …” jawabku singkat.
           
“Mau dibawa kemana pernikahan kita?”
           
“Ga usah dibawa kemana-mana,”
           
“Maksudku, apa kita bisa bertahan dalam keadaan seperti ini? Apakah anak ini harus lahir dan menyaksikan ayahnya tidak mengakuinya?”
           
“Aku akan mengakuinya,”
           
“Akan? Berarti sampai sekarang Mas masih menganggap bahwa anak ini bukan darah-daging Mas? Lalu untuk apa Mas menjagaku, menjaga kandungan ini? Untuk apa?” tanyanya dengan nada tinggi, menandakan emosi.
           
“Aku menjagamu dan bayi dalam kandunganmu karena rasa kemanusiaan. Aku tidak ingin kalian berdua mati sia-sia,”
           
“Mas nyadar ga sih, kata-kata Mas itu nyakitin?”
           
Aluna bangkit dari duduknya lalu berlari menuju tangga. Seketika aku mengejarnya namun tak sempat. Aluna terjatuh saat menginjakkan kaki di anak tangga ke lima.
           
Aku lupa, selama hampir lima tahun pernikahan, kamar kami berada di lantai dua. Dan aku tidak memindahkan kamar ke lantai satu sejak Aluna hamil.

Aku tidak akan pernah memaafkan diriku jika Aluna sampai keguguran!


***

Cinta : satu kata yang memiliki definisi paling tidak akurat di dunia. Entah apakah pengorbanan yang kulakukan ini bisa dilabelkan dengan kata Cinta.

Rasa sakit yang menusuk-nusuk rahimku tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit di hatiku. Aku mencium bau rumah sakit. Samar terdengar suara-suara orang berbincang mengkhawatirkan keadaanku. Mataku hanya bisa melihat bayangan kabur. Napasku sesak. Ternyata napasku sangat bergantung pada selang dan tabung oksigen. Jarum infus yang menusuk di pergelangan tangan kiriku membuat keseluruhan tangan kiriku terasa keram. Aku hanya bisa meraba-raba rasa. Kuat dugaanku, aku sedang dirawat di rumah sakit.
           
Rasanya aku tertidur cukup lama. Aku terjaga saat ibuku menggenggam tanganku. Hangat. Mataku perlahan membuka.
           
“Aluna …” panggilnya lembut.
           
“Ibu …” jawabku lemah. Hampir tak terdengar.
           
“Bagaimana keadaanmu, Nak. Apa yang sakit?” ibuku bertanya sambil menangis. Aku tahu ia tak kuasa melihat keadaanku.
           
“Ibu … aku …”
           
Ibu mendekatkan telinganya di wajahku yang terhalang selang oksigen.
           
“Aku … ingin … cerai bu …” ujarku pada akhirnya. Usai mengucapkan kata ‘cerai’, air mataku seketika mengalir.
           
Ibuku malah histeris. Ia menutup wajahnya dengan sapu tangan lalu meninggalkan aku yang masih tak bisa menggerakkan kepala untuk melihatnya. Air mataku terus mengaliri pipi. Hangat begitu saja memasuki telinga.
           
Aku tahu bukan saat yang tepat membicarakan perceraian saat kondisi fisikku sangat lemah. Terutama karena aku sedang hamil. Aku bertanggung jawab atas dua nyawa : nyawaku, dan nyawa anakku. Seharusnya aku kuat.
           
Ibu tak kunjung datang. Aku memilih kembali terlelap. Tenggelam dalam kepedihan yang sangat.

Kuatlah Nak, bantu ibu untuk kuat…

Aku berusaha berdialog dengan bayiku. Seketika rasa sakit yang menusuk di rahimku perlahan mereda. Setidaknya aku bisa memejamkan mata, kembali terlelap. Aku dan janinku butuh istirahat cukup.


***

Aku selalu kesulitan mendefinisikan kehilangan. Sepertinya itu sebuah rasa yang tak pernah butuh penjelasan.
           
Aluna bersikeras untuk bercerai. Sepertinya pertengkaran terakhir kami adalah puncak dari segala sabar yang pernah ia persembahkan bagiku. Mungkin memang kata-kataku terlalu menyakitkan.
           
Keluarga besar Aluna satu persatu datang menjenguk. Keadaan Aluna memang melemah, tapi janinnya tetap kuat. Anak itu begitu tegar, meski belum melihat kejamnya dunia. Ia kuat dalam tubuh ibunya yang – kalau boleh kusebut – depresi.
           
Aku menjadi objek yang paling dicari oleh keluarga besar Aluna. Di hari yang menurut mereka baik, keluarga besar Aluna meminta waktuku untuk bicara.
           
“Sebetulnya apa yang terjadi, Nak Hanung?” tanya paman Aluna.
           
“Kami hanya bertengkar kecil. Mungkin karena Aluna sedang hamil, makanya dia sangat sensitif. Semua akan baik-baik saja. Saya janji,” ujarku menutupi kenyataan yang sebenarnya. Bagaimanapun, aku tidak akan memberi tahu mereka tentang orientasi seksualku. Biar Aluna yang menceritakan sendiri pada keluarga besarnya.
           
“Tidak mungkin cuma bertengkar kecil, Aluna bisa sampai tertekan begitu. Hayo ngaku!” ujar istri paman Aluna.
           
“Sungguh, Tante. Saya tidak melakukan apapun. Saya tidak membentaknya, apalagi memukulnya,” kali ini aku memang mengatakan sebuah kebenaran.
           
“Ya tapi apa masalahnya, bisa sampai bertengkar? Tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api.” ujar sang tante dengan nada semakin meninggi. Nampaknya ia begitu penasaran.
           
“Begini deh om, tante, dan semua keluarga besar Aluna yang sangat saya hormati. Saya mohon maaf karena Aluna bisa sampai seperti ini. Tapi percayalah semua akan baik-baik saja. Saat ini kita fokus pada kesembuhan Aluna dulu. Kalau Aluna sudah sehat, mari kita bicara lagi. Demi Aluna dan bayi dalam kandungannya, saya mohon, mari kita bekerja sama untuk tenang dulu,” aku berusaha mengalihkan perhatian keluarga besar Aluna. Semoga usahaku berhasil.
           
Tapi ternyata gagal.
           
“Sudah, tidak perlu ada lagi yang disembunyikan. Katakan saja kenyataan yang sebenarnya. Kamu selingkuh, ya Hanung?” pertanyaan itu menggelegar di telingaku. Aku semakin tersudut. Posisiku sangat tidak menguntungkan. Sendiri, dikerumuni keluarga besar Aluna. Ini tidak adil sebetulnya. Tapi aku bisa apa?
           
Aku menghela napas berat dan panjang. “Begini …,” ujarku lemah, bingung harus memulai penjelasan dari mana. Semua mata langsung tertuju padaku, menunggu kata-kata lain keluar dari mulutku.
           
Akhirnya penjelasan itu mengalir begitu saja. Beragam respon spontan aku terima. Marah, kesal, terkejut, sedih, bahkan ada anggota keluarga besar Aluna yang hanya bisa terdiam, tapi menatapku dalam. Aku pun ditinggalkan sendiri, dengan keputusan bulat mereka : perceraian harus terjadi!
           
Tiba-tiba kosong terasa di relung hatiku. Apa yang baru saja terjadi seakan mengambil segalanya dalam diriku. Aku merasa ringan, sekaligus merasa ada yang hilang. Entah apa.

           
Dan proses perceraian itu terjadi begitu cepat. Sambil memulihkan kesehatan Aluna, keluarga besarnya sibuk mengurusi perceraian. Aku dilarang ikut campur. Katanya aku hanya boleh bertemu Aluna dan keluarga saat nanti persidangan terakhir. Saat aku harus mengucapkan talak dan menandatangani surat cerai resmi.
           
Aku berusaha mencari pembelaan dengan mengumpulkan “pasukan” yang sama kuatnya dengan “pasukan” Aluna. Aku mencari pengacara, dan mengumpulkan keluarga besar agar aku tidak menjadi objek penderita, satu-satunya yang patut disalahkan atas perceraian ini.
           
Dan, anehnya, jika selama ini aku selalu mencari cara agar bisa bercerai dengan Aluna, kali ini aku justru takut kehilangan dia ...


***
           
Mencintai seseorang sampai mati adalah pilihan paling tidak manusiawi bagi diri manusia sendiri. Tapi sayangnya, aku memilih menjadi manusia itu.

Anak perempuanku lahir prematur. Sejak kehamilan 20 minggu hingga melahirkan aku memang sering bolak-balik dirawat di Rumah Sakit karena tertekan oleh proses perceraian. Mungkin itu yang membuat kondisi janinku melemah dari waktu ke waktu.
           
Seharusnya hari ini aku dan Mas Hanung berdua hadir di pengadilan agama untuk proses ikrar talak. Pengadilan agama telah menerima gugatan ceraiku dan sudah tidak bisa lagi menyatukan kami berdua dengan segala cara. Tapi nyatanya kami batal hadir karena aku melahirkan. Mas Hanung malah mendampingi proses persalinanku dan sempat menggendong puteri kami sebelum dimasukkan ke inkubator.
           
“Mas, kalau mas mau, anak kita bisa diberi nama Nebula,” ujarku lemah.
           
Mas Hanung spontan menatapku. Ia terkejut.
           
“Dari mana kamu tahu nama itu?”
           
“Tidak penting. Yang penting, aku mengizinkan anak kita diberi nama Nebula,” aku menatap matanya. Mencari makna di sana.
           
Mas Hanung tak berani menatapku. Ia alihkan pandangannya kepada anak perempuan di dalam inkubator.
           
Aku pun mengalihkan pandangan kepada puteriku. “Nebula, ini mama, sayang,” aku mengajak Nebula tersenyum dari jauh. Inkubatornya berada beberapa meter di samping tempat tidurku. Mas Hanung jadi salah tingkah melihat ulahku yang – boleh dikatakan – depresi. 
           
Mas Hanung meninggalkanku. Tanpa mengucapkan kata-kata apapun.
           
Aku berjanji kepada diriku sendiri, akan setia mencintai mas Hanung sampai maut menjemputku dan memisahkanku dari puteriku. Aku memberi ia nama Nebula agar aku bisa merasakan kepedihan yang dirasakan mas Hanung. Agar aku bisa menerima kesetiaannya yang tak berbatas kepada perempuan itu. Agar aku tidak menyimpan dendam, dan bisa mencintai mas Hanung utuh.
           
Memang tidak mudah menghentikan cinta yang mengalir. Tidak akan secepat ia pertama kali jatuh. Aku pun dulu begitu mudah jatuh cinta kepada mas Hanung, tak peduli orientasi seksualnya. Aku siap terluka, siap menerima semua konsekuensinya. Pernikahanku sungguh bukan semata karena keinginan orang tua, tapi karena aku memang mencintai mas Hanung. Meski ia tidak.
           
Maka aku juga bisa mengerti apa yang mas Hanung rasakan kepada Nebula. Ia mencintai perempuan itu tanpa syarat. Mencintai perempuan itu tanpa pernah mempermasalahkan penyakit kanker payudara yang dideritanya. Mencintai perempuan itu tanpa pernah mempermasalahkan rambutnya yang terus rontok lalu menjadi botak. Tapi cinta itu tak berbalas. Nebula meninggal tanpa pernah menyatakan perasaannya yang sebenarnya. Yang orang-orang tahu, Nebula menolak mas Hanung mentah-mentah hingga akhir hayat. Padahal, Nebula hanya ingin mas Hanung pergi dari hidupnya sebelum ia menghembuskan napas terakhir.
Aku tahu kisah ini dari sahabat Nebula. Memang tak baik mengutak-atik masa lalu orang yang sudah tiada. Tetapi aku tak mau penasaran. Meski setelah melahirkan aku akan kehilangan mas Hanung, aku sudah ikhlas karena tahu kisah yang sebenarnya.

Itulah sebabnya aku begitu ikhlas memberi nama anakku dengan nama Nebula. Harapku satu : nama itu bisa terus menjadi magnet bagi mas Hanung untuk selalu merindukan anaknya. Untuk ingin selalu bertemu dengan puterinya.
           
Biarlah mas Hanung seumur hidup tak bisa mencintaiku. Tapi aku ingin ia mencintai Nebula-ku sebagaimana ia tak bisa berhenti mencintai Nebula-nya. Sebab bagaimanapun ia melakukan penolakan, Nebula-ku tetap darah-daging mas Hanung. Aku siap membuktikan dengan alat kedokteran apapun.


***


Kepada Nebula …
Dalam wujud apapun aku hanya bisa mencintai tanpa bisa memilikimu.
Seorang bayi perempuan telah lahir atas namamu. Aku mencintainya tanpa ku duga, tapi aku sudah tak bisa memilikinya. Meskipun tak pernah ada istilah ‘mantan anak’, tetapi ia akan tumbuh besar menantang dunia hanya berkat ketegaran bundanya, Aluna, bukan karena kasih sayang sang ayah yang pengecut. Yang tak pernah mau beranjak pergi dari masa lalu.

Nebula,
Mendampingimu selama dua tahun melawan kanker payudara sungguh pengalaman yang tak akan aku lupakan. Meski kau tak pernah menginginkannya, tapi bagiku, itulah satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk membuktikan keseriusanku mencintaimu. Kini aku harus mendampingi seorang bayi perempuan yang lemah dan hanya bergantung dengan tabung inkubator. Ia begitu mungil, betul-betul tanpa dosa. Haruskah aku memvonisnya merupakan anak dari perbuatan dosa? Betapa gagal aku menjadi seorang ayah. Kuatnya ikatan batinku dengan Nebula kecil adalah sinyal bahwa dia memang darah-dagingku. Aku mencintainya, Nebula. Dan aku ingin ia bertahan hidup. Hanya dia, wujud nyata yang bisa aku cintai sekarang. Aku tak mau kehilangan lagi.


Ini pertama kalinya aku menulis surat, di era digital seperti ini. Aku menulis surat untuk membunuh waktu yang berjalan begitu lama, saat aku duduk di lorong rumah sakit dan mengharapkan kabar baik segera menyapa telingaku. Surat yang tak akan pernah sampai kepada siapa-siapa.

Tiba-tiba seorang suster dan seorang dokter berlari dan masuk ke kamar dimana Aluna dan bayinya berada. Mereka tampak panik. Saat aku tanya ada apa, mereka tak sempat menjawab, hanya berlari. Aku segera masuk ke dalam kamar dan melihat Aluna menangis histeris. Aku segera memeluknya.

“Ada apa Aluna?”

Aluna tak bisa menjawab. Ia hanya menunjuk inkubator. Aku beralih ke inkubator dan mengecek keadaan Nebula. Seketika tubuhku lemas. Bayi itu tampak tak bernapas. Entah apa yang dilakukan dokter dan suster itu untuk mempertahankan nyawa Nebula. Aku kembali menghampiri Aluna yang seketika tak henti menangis dalam pelukanku. Aku sudah tak bisa menangis lagi.


***

Nebula,
Bunda mencintaimu, Nak. Meskipun kau hanya beberapa hari berada di dunia menemani Bunda, tetapi sudah cukup membuat Bunda bahagia. Setidaknya, kita sudah pernah bersama-sama, begitu dekat, selama 9 bulan. Bunda merasakan detak jantungmu, tendangan nakalmu yang menggoda Bunda, dan betapa tegarnya kamu di dalam rahim Bunda selama Bunda berada di masa-masa sulit. Terima kasih, telah mengajarkan Bunda arti sebuah kesabaran. Jika saja Bunda sabar, tentu kau tidak perlu menjadi korban kemarahan Bunda terhadap Ayah. Sayangnya, Bunda lebih berpihak kepada emosi Bunda sendiri sehingga lupa bahwa Bunda punya tanggung jawab untuk mempertahankan kehidupanmu.

Nebula  …
Terima kasih telah menemani Bunda selama 9 bulan. Sungguh masa-masa itu adalah masa yang paling indah dalam hidup Bunda. Maafkan Bunda, jika lebih fokus untuk mengurus perceraian dengan ayah, dibandingkan fokus memperhatikan pertumbuhanmu dalam rahim Bunda. Bunda sangat berterima kasih atas ketegaranmu yang bertahan hidup dalam rahim Bunda dalam keadaan apapun, dan terima kasih karena memberi kesempatan bagi Bunda untuk melihat wajah cantikmu meski hanya beberapa hari di dunia. Damailah di tempatmu saat ini, Nebula. Mungkin memang ini yang terbaik bagimu, menurut Tuhan.


Kata-kata itu aku ucapkan dalam hati, sembari menaburkan bunga di makam Nebula dan memandangi nisannya yang mungil. Air mata tak henti membasahi pipiku, menciptakan sembap di mataku yang sengaja tidak kututupi kaca mata hitam. Biarlah dunia tahu kehilangan yang kurasakan. Aku tak ingin menyembunyikannya. Mas Hanung menggenggam tanganku. Erat. Tapi tidak memberi efek apa-apa. Berulang kali ia berusaha mentransfer kekuatan lewat pelukan, tapi tidak berguna. Aku tak bisa lagi merasakan apa-apa.
Lagi-lagi sidang talak tertunda. Sidang talak semula dijadwalkan seminggu lalu, tapi ditunda karena aku melahirkan. Seharusnya hari ini, tapi ditunda kembali karena jenazah Nebula-ku harus segera dimakamkan. Entah apakah bisa ditunda lagi. Aku masih belum mau memikirkannya. Aku bahkan sudah tidak mau peduli soal mas Hanung dan pernikahan kami. Aku serahkan kepada Tuhan.

“Aluna, maafkan aku ..,” bisik mas Hanung.

Aku hanya terdiam, memandangi makam Nebula lalu melangkah pergi. Aku hanya ingin sendiri. Ternyata begini rasanya ditinggal mati orang yang dicintai. Aku merasakan kepedihanmu lima tahun lalu, Mas Hanung. Tapi urusan kita tak harus diselesaikan di sini.


***

           
Kepada Nebula,
Aku sudah membuktikan kesetiaanku kepadamu. Aku tidak bisa mencintai perempuan lain selain dirimu. Tapi aku mengaku salah. Aku malah terjerumus menjadi seorang lelaki gay. Meski artinya aku setia kepada satu perempuan saja, tapi nyatanya aku berhubungan dengan laki-laki. Memiliki perasaan dengan laki-laki. Cemburu jika pasanganku pergi dengan laki-laki lain. Apakah ini yang namanya setia kepadamu? Bukankah sama saja aku membagi hatiku kepada orang lain, meski bukan perempuan?

Nebula, maafkan aku yang salah melangkah setelah kehilanganmu. Kau sudah meminta aku untuk mencari penggantimu tetapi aku malah berjanji untuk tidak mencintai perempuan lain dan tidak menikahi perempuan lain. Nyatanya aku menikahi Aluna, meski tidak mencintainya. Ini yang membuatku justru membunuh satu nyawa, meski tanpa sengaja. Nyawa gadis kecil bernama sama denganmu, Nebula. Jika saja aku menuruti keinginanmu untuk mencari perempuan lain yang bisa kucintai, mungkin aku tak perlu menikahi Aluna dengan terpaksa, dan “membunuh” bayinya tanpa sengaja.

Nebula, kalau boleh aku bercerita, sesungguhnya Aluna adalah gadis baik-baik dan setia. Aku lelaki bodoh karena tidak bisa menerimanya, melihatnya dengan mata hatiku, karena telah tertutup oleh masa lalu denganmu. Empat tahun dia berusaha bertahan, mencintaiku apa adanya, menerimaku meski aku tak pernah bisa menerimanya. Hingga akhirnya benih itu aku titipkan dalam rahimnya. Bisa-bisanya aku tidak mengakui anakku sendiri, dan baru mengakuinya setelah ia sudah tak bernapas? Manusia macam apa aku, Nebula?

Kini orang tuaku, keluarga besarku, juga keluarga besar Aluna sudah mengetahui tentang kisah kita, dan kesetianku padamu yang mereka anggap luar bisa anehnya. Ya, dulu aku berpikir, dengan menjadi gay aku akan bisa terus bisa bersenang-senang, sehingga aku tak punya waktu untuk terus memikirkanmu. Nyatanya menjadi gay juga tidak “sesenang” itu dan jalan hidupku justru jadi seperti ini. Aku malah makin memikirkanmu, dan merasa bersalah terhadap Aluna.

Hari ini, 100 hari setelah meninggalnya Nebula kecil, aku mengucapkan talak di depan hakim pengadilan agama, sesuai permintaan Aluna yang sama sekali enggan mencabut gugatan cerainya. Kami resmi bercerai, secara hukum dan agama. Aku tak perlu lagi bertanggung jawab atas kebahagiaannya, atas kehidupannya. Tapi entah mengapa, aku merasakan sakit luar biasa. Disini, dihatiku, sama persis ketika kau menghembuskan napas terakhirmu di hadapanku.

Mungkinkah aku mencintainya, lalu merasakan kehilangan Aluna? Ah, maafkan aku, Nebula, aku malah menceritakan rasa kehilangan ini kepadamu. Bisa saja ini hanya karena rasa bersalahku kepada Aluna yang begitu baik dan begitu mencintaiku. Entahlah.

Aku kembali menulis surat, di zaman digital secanggih masa ini. Surat yang, lagi-lagi tak akan pernah sampai kepada siapa-siapa. Surat itu aku satukan dengan surat yang pernah aku tuliskan saat membunuh waktu di rumah sakit, sebelum Nebula kecil menghembuskan napas terakhir. Lalu kedua surat itu kubakar bersamaan, kunikmati pemandangan ketika api melahap sisi-sisi kertas yang berisi kata hatiku untuk Nebula.

Bersamaan dengan habisnya kertas oleh api – yang kini berubah menjadi abu hitam di meja kerjaku – saat itu pula rasa kehilanganku akan Nebula berhenti. Semua berganti menjadi keikhlasan, bahwa ia sudah tenang di tempat lain. Begitupun kehilanganku akan Nebula kecil, yang telah mengajarkanku banyak hal : kekuatan untuk bertahan hidup dalam keadaan yang begitu sulit, dan keikhlasan untuk menemuiku meski aku tak pernah mengakuinya. Ia bertahan hidup beberapa hari di dunia, untuk menyapa sang bunda, juga menyapaku. 

Kepada Tuhan aku meminta, semoga Aluna dibukakan hatinya untuk bisa mencintai orang lain selain diriku, agar ia bisa bahagia dengan lelaki baru, yang bisa membahagiakannya. Semoga rasa kehilangannya kepada Nebula kecil bisa segera pulih dan ia bisa bangkit melanjutkan hidup.

Kepada Tuhan aku meminta, agar Aluna tidak menjadi orang sepertiku, yang tak bisa bangkit dari masa lalu dan memutuskan setia mencintai orang yang sudah tiada. Meski aku masih ada, sebaiknya Aluna tidak sesetia itu kepadaku dan bisa mencari cinta baru. Sebab aku tak layak untuk dicintai sedalam itu oleh perempuan sebaik Aluna. Dia pantas bahagia, dengan orang lain.

Mungkin memang harus serumit ini Tuhan menegurku. Mulai hari ini aku memutuskan untuk kembali normal, kembali mencintai perempuan, menjadi lelaki, suami, dan ayah yang bertanggung jawab. Sebab inilah yang pernah Nebula pesankan kepadaku sebelum menghembuskan napas terakhir. Aku salah karena menolak takdirku. Menolak permohonan terakhirnya karena tak pernah rela dengan kepergian Nebulaku.

Mungkin ini juga akan menjadi penebus dosaku kepada Aluna dan Nebula kecil. Kelak, akan ada istri dan anak-anak yang bisa aku cintai dan sangat mencintaiku. Kelak, tak ada lagi yang harus menjadi korban untuk menyadarkan bahwa patah hati dan kehilangan sebetulnya bisa disembuhkan, jika mau membuka hati dan membuka diri.






           


TAMAT 


Comments