Skyfall : Film James Bond yang Paling Sentimentil

Tahun 2012 ini adalah tahun emas film James Bond 007. Film yang menceritakan tentang agen rahasia Inggris ini memang sudah 50 tahun menyapa pecinta film di seluruh dunia, dengan 23 film yang diproduksi resmi. Dari 23 judul film dengan tokoh yang sama, pemeran James Bond sudah berganti 6 kali. Pemeran terakhir adalah Daniel Craig, yang memainkan 3 judul terakhir James Bond : Casino Royale (2006), Quantum of Solace (2008), dan Skyfall (2012). Saya justru baru nonton film ini setelah pemerannya berganti dengan Daniel Craig. Film James Bond yang pertama kali saya tonton adalah Quantum of Solace (bioskop), barulah Casino Royale (DVD), dan Skyfall (bioskop).



Meski merupakan film yang diproduksi oleh Production House asal Inggris, secara garis besar, 23 judul film James Bond itu punya benang merah khas Hollywood : jagoan sudah pasti menang di akhir. Sedangkan sepanjang film, penonton selalu disuguhi dengan adegan-adegan action memukau mata dengan efek kamera yang tak diragukan lagi kecanggihannya. Ditambah lagi efek suara dan soundtrack yang mendukung dramatisasi film, James Bond adalah karya Inggris yang sanggup memukau Hollywood.

Maka, yang ingin saya bahas di sini bukanlah soal-soal itu, yang semua orang tahu dan sudah pasti diiyakan. James Bond dengan ciri khasnya jas hitam dan tuxedo, kehidupan jetset, juga sisi adiktifnya kepada alkohol dan seks, cukup menarik perhatian pecinta film. Maka, kali ini saya hanya ingin bahas film ini hanya dari sisi jalan cerita, bukan hal-hal yang sudah pasti bagus itu.

Kali ini James Bond memulai misinya dari Istanbul, Turki. Karena rekannya salah tembak, akhirnya James Bond yang tertembak, lalu hilang. Selama ia hilang, markas M16 diserang. James Bond kembali setelah markas itu berpinadzh ke tempat baru. Ia bisa saja pergi dari M16 dan membangun hidup baru di tempat baru. Namun kecintaannya kepada M16, membuat James Bond memilih kembali dan membantu M (atasannya, diperankan oleh Dame Judi Dench).

Alur cerita membawa Bond bertemu dengan biang kerok penyerangan M16. Ternyata ia adalah mantan agen M16 yang dendam kepada M dan ingin membalas sakit hatinya. Raoul Silva yang diperankan Javier Bardem menghancurkan sistem komputer M16 dan mengacak-acak semua data rahasia yang selama ini dijaga oleh M. Silva melakukan apa saja untuk bisa membunuh M. Tentu James Bond 007 tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

Sisi emosional yang saya tangkap dalam film ini adalah ketika Silva menyampaikan rasa sakit hatinya kepada M, saat M menemuinya di ruang tahanan M16. Sebagai manusia, M pasti merasa bersalah, namun sebagai pimpinan M16, ia harus melakukan apapun untuk menjaga keamanan M16, termasuk menyerahkan Silva kepada China. Silva ternyata pernah meretas sistem komputer China sehingga ketika tertangkap, M terpaksa menyerahkan Silva agar agen M16 yang ditangkap China bisa dibebaskan. Pertukaran yang adil menurut M, namun tidak menurut Silva. Itulah yang membuatnya dendam.


Sisi emosional yang kedua, adalah saat James Bond bertemu dengan Severine (yang diperankan Berenice Marlohe). Seperti khasnya film James Bond, agen ini memang playboy dan pasti melakukan hubungan seks satu malam dengan perempuan yang disukainya. Kali ini, perempuan itu adalah Severine, seorang pekerja seks asal Makau yang terpaksa melakukan profesinya karena himpitan ekonomi sejak kecil. Severine lah yang membawa Bond bertemu Silva. Severine adalah perempuan simpanan Silva yang diperlakukan tidak manusiawi. Bond berjanji akan membebaskan Severine dari genggaman Silva. Adegan saat tangan Bond bergetar sebelum menembakkan pelurunya ke kepala Severine, sungguh emosional. Silva saat itu menantang Bond untuk menembak gelas wine yang berada di atas kepala Severine, jika ingin perempuan itu selamat. Saya suka akting Berenice Marlohe yang sukses memerankan tokoh pelacur yang penuh dendam kepada Silva. 




Sisi emosional yang ketiga adalah saat Bond membawa kabur M ke tempat kelahirannya, Skyfall. Agen dengan fisik sekuat James Bond ternyata bisa melankolis. Adegan saat M dan Bond memandangi langit Skyfall berdua, dan mengenang kedua orang tua Bond, cukup sentimentil. Jarang-jarang, seorang agen rahasia berbicara dengan atasannya tentang kehidupan pribadi, hingga seintim itu.

 
Sisi emosional keempat adalah ketika Bond berhasil membunuh Silva setelah pergumulan berjam-jam di rumahnya sendiri. Bond berhasil membunuh Silva dengan menggunakan pisau peninggalan ayahnya. Setelah Silva terbunuh, Bond baru tahu kalau sebelumnya M sudah tertembak lebih dulu oleh serangan Silva. M bertahan hidup dan justru meninggal di tangan Bond. James Bond mencium kening M seperti mencium kening ibunya sendiri, saat M menghembuskan napas terakhir.

Begitulah film ini berkisah. Saya tidak menemukan sisi emosional sekuat ini ketika menonton film Quantum of Solace dan Casino Royale. Dari sisi soundtrack pun, saya merasakan nyawa dari soundtrack yang berjudul sama : Skyfall. Mungkin karena penulis lirik dan yang menyanyikannya adalah Adele. Seseorang yang notabene telah berhasil membuat pecinta musik berdarah-darah hatinya berkat lirik-lirik lagu patah hatinya.



Kesimpulannya : saya puas dengan film ini, bukan hanya dari sisi teknologi gambar dan suara, tapi juga dari suguhan cerita dan soundtrack yang menggugah hati saya. Karena jujur saja, saya bukan penggemar film action. Jadi mungkin, produsen film action harus memikirkan sisi humanis dan emosional seperti produsen James Bond agar orang-orang seperti saya juga bisa menyukai film action.



Comments