Resital Tumbal


Benda besar itu baru tiga hari menghiasi kamar tidurku yang sangat luas. Aku sengaja memilih warna putih, agar sesuai dengan suasana kamar tidurku yang didominasi warna itu. Aku membelinya dari seorang kolektor piano. Cukup murah. Aneh, untuk ukuran piano sebagus ini.


Kesibukan membuatku baru bisa menyentuh tutsnya malam ini. Setelah membersihkan diri, aku duduk di depan pianoku. Ingin memainkan sebuah lagu klasik yang pernah aku kuasai. Namun, belum sempat jari-jariku menyentuh tuts, piano itu sudah melantunkan nada. Tuts itu seperti ditekan sesuatu, tapi aku tak bisa melihatnya.


Piano memainkan sebuah lagu, sepertinya lagu kematian. Sejak itu, pianoku selalu meminta tumbal. Aku harus mengorbankan satu persatu penggemarku setiap kali menggelar resital piano.

Comments