Supernova Partikel, Science Fiction yang Sangat "Dee"

Saya baru merampungkan membaca Supernova Partikel karya Dewi "Dee" Lestari. Kesimpulan saya setelah baca buku itu, sudah tertulis dalam judul. Saya akui, saya memang penggemar berat Dee, jadi mungkin apa yang saya tulis ini akan sangat subjektif. Tapi tak apa, saya tidak sedang mengikuti lomba menulis review buku, kan?




Supernova Partikel berkisah tentang tokoh utama Zarah, yang merupakan putri pertama dari dosen sekaligus ahli mikologi bernama Firas. Cara Firas mendidik anak-anaknya mengundang pertentangan dari keluarganya sendiri. Di balik itu semua, masih tersimpan berlapis misteri. Antara lain, hubungan khusus Firas dan sebuah tempat angker yang ditakuti warga kampung. Tragedi demi tragedi yang menimpa keluarganya akhirnya membawa Zarah ke pencarian sekaligus pelarian panjang. 

Kisah dalam novel ini menggunakan alur campuran. Pembaca langsung disuguhkan adegan Zarah dewasa yang mendapat tugas ke Borneo. Halaman-halaman pertama Partikel akan membawa pembaca ke kisah masa kini Zarah yang membuat bertanya-tanya, maksud novel ini ke mana? 

Novel lalu begitu saja masuk ke masa lalu Zarah, langsung memaksa pembaca masuk ke masa kecil Zarah. Dan Dee tanpa perlu membuat bab baru, langsung memasukkan kisah kehidupan Zarah, sejak Zarah kecil, hingga tumbuh remaja, dalam didikan ayahnya. Dari kisah inilah pembaca akan tahu ke mana novel ini hendak bercerita.

Kisah masa lalu Zarah akan membawa pembaca untuk memahami apa yang terjadi selama Zarah kecil, bagaimana cara ayahnya, Firas, mendidiknya, bagaimana pertentangan kakek-nenek Zarah, konflik rumah tangga dalam keluarga Zarah, dan tentunya, bagaimana ayahnya kemudian menghilang entah ke mana. Semua itu dibungkus apik oleh Dee dengan beragam pemahaman soal ilmu pengetahuan, religi, dan spriritualitas.

Saya sudah membaca semua seri Supernova. Dan menurut saya, Partikel adalah seri yang paling rumit dimengerti. Bukan soal jalan cerita, melainkan ilmu pengetahuan yang diselipkan Dee di dalamnya. Saya sangat mengerti jalan ceritanya. Tentang Zarah, masa lalunya, bagaimana ia bertentangan dengan ibu dan kakek-neneknya, bagaimana ia sangat mencintai ayahnya Firas, adiknya Hara, sahabatnya Koso, dan kekasihnya Storm. Itu sangat saya mengerti. Yang tidak saya mengerti adalah selipan-selipan informasi seputar fungi, kehidupan spiritualitas, hubungan manusia dengan alam, dan sebagainya. 

Wajar kiranya, jika novel ini Dee selesaikan dalam kurun waktu delapan tahun. Ia pasti butuh riset panjang untuk bisa menulis tentang fungi, hubungan manusia dengan alam, spriritualitas di balik kekayaan alam, tentang Batu Luhur, konservasi orangutan TanjungPuting, hutan Kalimantan, London, dan kota-kota menakjubkan lainnya di luar negeri sana, yang bahkan baru kali itu saya baca namanya. 

Novel setebal 486 halaman ini punya benang merah dengan seri Supernova lainnya. Yakni menceritakan salah satu agen Supernova : Partikel. Belakangan saya baru menyadari bahwa judul-judul Supernova diambil dari nama-nama yang akan menjadi agen Supernova : Akar, Petir, Partikel, dan satu lagi yang akan terbit, Gelombang. 

Sedangkan Supernova Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh (KPBJ), seri pertama Supernova lebih merupakan pembuka dari seri yang rencananya akan dibuat delapan seri ini. Dari Supernova KPBJ saya tahu siapa Supernova, yakni tokoh yang bernama Diva. Dan dari seri Supernova lainnya saya tahu, agen-agen Supernova yang akan mendampingi Diva nantinya adalah Bodhi (Akar), Elektra (Petir), dan Zarah (Partikel).   Saya belum dapat bocoran siapa yang akan menjadi Supernova Gelombang. Tapi jujur saya, saya makin penasaran dengan seri Supernova selanjutnya.

Selain Supernova, saya juga membaca karya Dee yang lain, mulai dari Filosofi Kopi, Madre, Recto Verso, hingga Perahu Kertas. Hampir di semua karya Dee saya menemukan kehidupan kaum urban, termasuk di Supernova Partikel. Zarah adalah gambaran fotografer wildlife yang sangat urban, tetapi ia lahir dan dibesarkan di tempat yang masih konvensional di Batu Luhur, Bogor. Tempat yang masih kental dengan dogma agama, pendidikan formal yang monoton, juga kepercayaan akan kehidupan mistik yang kuat. Didikan ayahnya membuat Zarah tumbuh menjadi gadis yang sangat cerdas dan openmind, mampu menyerap pengetahuan apa saja, tanpa perlu membuat stigma. Gaya khas Dee yang selalu menyelipkan kejutan-kejutan dalam karyanya, juga saya temukan dalam Partikel. Seperti menggunakan kata "semaput" untuk menunjukkan ekspresi Zarah ketika pusing. Percayalah, lelucon-lelucon itu akan pembaca temui hampir di semua buku Dee. Dan saya selalu terpukau dengan sisi humoris Dee yang berhasil ia selipkan dalam karya-karya yang sering disebut "Berat" oleh banyak pembaca. 


Membaca Supernova Partikel, membuat saya sejenak menyadari, banyak sekali hal yang saya tidak tahu dari alam ini, bumi tempat saya dilahirkan, dan nantinya mati dikubur di dalamnya. Yang saya tahu hanya menggunakan bumi ini untuk hidup, tanpa pernah berpikir untuk mengenalinya lebih jauh. Supernova Partikel mengekplorasi hampir semuanya,"memaksa" saya untuk masuk ke alam, mengenalinya lebih dekat, sekaligus mencintainya tanpa perlu dipaksa. 

Membaca Supernova Partikel juga sekaligus membuat saya menciut sebagai seorang penulis. Bagaimana tidak, begitu banyak ilmu pengetahuan yang Dee masukkan ke dalam karyanya. Butuh riset delapan tahun untuk merampungkan karya ini. Betapa seriusnya seorang Dee melahirkan karya ini. Sedangkan saya, riset dua bulan saja sudah "semaput" (meminjam istilah Dee). Saking realnya karya ini, saya seperti membaca biografi seorang Zarah, bukan novel tentang karakter Zarah, sang Supernova Partikel. 

Sekali lagi Dee membuktikan, seperti yang pernah ditulisnya dalam pengantar di Supernova KPBJ, bahwa penulis perempuan Indonesia tak hanya bisa menulis sastra wangi, yang kisahnya hanya seputaran seks, prostitusi, selangkangan, bedak, gincu, tapi juga bisa seperti dirinya, menulis science fiction. Toh, dalam Supernova KPBJ pun tokoh utamanya seorang model profesional yang juga menjalankan praktek prostitusi, namun dalam tingkatan kelas yang boleh dibilang lebih tinggi dari pekerja seks komersial lainnya. Namun, fokus Dee bukan pada prostitusi tersebut, melainkan kehidupan spiritual, cinta, dan kehidupan sosial sang model. See, karya Dee sebetulnya sangat urban. Tapi ia memang sengaja tidak membuat karyanya menjadi buku metropop. Jalurnya adalah science fiction dan spiritualitas manusia. Itu yang membuatnya menjadi penulis yang berbeda. 

Kita boleh bicara industri buku yang sedang ramai dengan karya-karya metropop, teenlit, chicklit, romance, yang membanjiri toko buku. Tapi karya-karya Dee akan tetap ditunggu, sebagai oase di tengah kegersangan karya fiksi Indonesia, yang seolah beragam, tapi nyatanya monoton. Setidaknya itu menurut saya. Bagaimana dengan Anda?




Comments

ilhambastiankid said…
waw, review ini memancing penasaran untuk membaca Supernova, pertama baca yang mana yah? maaf sebelumnya belum pernah membaca karya dee
Tenni Purwanti said…
Saya pertama kali baca Supernova yang Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh. Supernova ada 4 seri. Partikel adalah seri yang ke-4.

Bacalah karya-karya Dee, dijamin tidak menyesal.

Salam :)
Isma Mushonifah said…
Makasih reviewnya , cukup objective kok :)
Supernova : Gelombang , pemerannya Alfa kalo gak salah
Tenni Purwanti said…
terima kasih sudah mampir Isma :) hmm, ga sabar nunggu Supernova Gelombang :)
screamovers said…
Kak,sudah tahu bocoran tentang serial kelanjutan Supernova Partikel,Gelombang dan Intelegensi Embun Pagi?
Tenni Purwanti said…
Saya belum tau bocorannya :D
Benn Rosyid said…
Makasi reviewnya Mbak, baru tertarik baca serial Supernovanya Dee ini :) *selama ini cuma berhenti di Madre, Filosofi Kopi, sama Perahu Kertas :)

Salam kenal Mbak, share-share tentang kiat-kiat menerbitkan buku donk .. saya punya beberapa karya, tapi belum dikirim ke penerbit, belum tahu :)