Konser Gratis dari Amerika

Sekadar mengingatkan dari awal, apa yang akan saya tulis adalah opini pribadi saya tentang konser mini (gratis) Addie MS di @america pacific place, Jakarta, beberapa hari lalu. Dan saya tidak hendak menuliskan opini saya tentang konsernya (karena jujur saya tidak mengerti soal musik, hanya penikmat, bukan pengamat). Saya akan menulis artikel ini dari sisi kurangnya dukungan terhadap musik orkestra di Indonesia.




Beberapa hari lalu, saya menonton mini konser Addie MS bersama teman kantor saya. Pengumuman soal konser baru saya ketahui lewat akun twitter Addie MS, namun saya langsung mengajak teman untuk datang, karena tertulis GRATIS. Wow, kapan lagi bisa menonton konser orkestra gratis? Meskipun bentuknya konser mini, tetap saja, bagi saya ini akan jadi konser langka yang saya hadiri.

Saya sengaja datang satu jam lebih awal karena takut tidak kebagian tempat duduk. Dan feeling saya benar.  Lima menit sebelum acara dimulai, pihak @america mengatakan bahwa ada 150 orang di luar yang tidak bisa masuk karena sudah penuh. Saya yang sudah duduk tenang di dalam, langsung mengucap syukur.




Malam itu, Addies MS membawakan lagu-lagu klasik yang diciptakan dan dipopulerkan oleh musisi-musisi Amerika. Diantaranya:
1. Hoe Down by Aaron Copland
2. A composition by Arthur Foote, Suite in E Major Op. 63
3. Adagio for Strings, composition by Samuel Barber (1910-1981)
4. Peninsula Suite by Nancy Bloomer Deussen
5. Fantasia in F, composed by Tracey Rush
6. Magnificent Seven by by Elmer Bernstein
7. Hedwig’s Theme from “Harry Potter” by John Williams
8, Plink, Plank, Plunk by Leroy Anderson

Tepuk tangan terus membanjiri ruangan @america yang cukup sempit itu, setiap kali Addie MS dan tim orkestranya selesai memainkan satu lagu. Saya pun takjub. Namun yang saya sayangkan, Addie MS memang hanya memainkan lagu-lagu klasik yang diciptakan dan dipopulerkan oleh musisi Amerika. Jelas saja, ia sedang konser di tempat milik pusat kebudayaan Amerika Serikat. Konsernya pun bisa gratis berkat dukungan tempat itu. 

Sedangkan jika ia menggelar konser sendiri, mana bisa gratis? Sudah bayar, mahal pula. Sebut saja salah satu konser yang pernah digelarnya di Jakarta, penonton harus mengeluarkan uang Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta. Harga ini hampir setara dengan menonton konser grup musik dari luar negeri. Wajar saja, orkestra dimainkan oleh 40-60 orang. Dari mana menghidupi mereka semua jika tidak dari menjual tiket konser dengan harga 'wah'.



Hal ini juga sempat disinggung Addie MS usai konser mininya kemarin. Pada sesi tanya-jawab, seorang penonton melontarkan pertanyaan: kapan konser seperti ini akan digelar kembali.


Addie MS lantas menjawab :
"Tergantung sponsor. Untuk itu saya menghimbau kepada sponsor-sponsor yang biasa mensponsori acara musik, janganlah fokus hanya kepada konser band-band  pop, sekali-kali untuk orkestra."

Jujur saya miris mendengar ini. Pada kenyataannya memang begitulah adanya di Indonesia. Mulai dari stasiun televisi sampai produsen rokok, banyak yang lebih tertarik untuk mensponsori konser musik band-band ketimbang orkestra yang personelnya 'segambreng'.

Memang, musik orkestra sekarang sudah mulai digemari. Kita bisa lihat dari dua acara rutin yang menampilkan musik orkestra setiap sebulan sekali di SCTV dan MetroTV. Tapi jika dibandingkan acara musik pop yang hadir setiap pagi, menyuguhkan konser orkestra hanya sebulan sekali, masih tergolong tidak berimbang porsinya. Itupun masih harus membawakan lagu-lagu pop yang dikolaborasikan dengan musik orkestranya, bukan memainkan musik klasik atau musik-musik dengan komposisi rumit lainnya. Bagaimana bangsa kita bisa menyukai musik orkestra jika terus 'dicecoki' dengan musik pop yang itu-itu saja? 


Dan pada akhirnya, justru Pusat Kebudayaan Amerika Serikat lah yang berminat menggelar konser gratis musik orkestra untuk masyarakat Indonesia. Ya, seharusnya kita malu, menonton musisi dalam negeri, tapi harus disponsori Amerika. 

"Saya pernah bahkan harus mengeluarkan uang sendiri untuk membeli tiket pesawat dan mengurus hal lainnya saat akan konser ke luar negeri," ujar Addie MS malam itu.

Ah, saya malu. Mengapa tak ada dukungan yang begitu baik dari bangsa kita sendiri, untuk musisi dalam negeri sehebat Addie MS?

Tapi mau bagaimana lagi. Inilah Indonesia. Dan meski dengan rasa malu, saya tetap datang ke @america, menghadiri undangan Pusat Kebudayaan AS itu, untuk memberi dukungan, tepuk tangan, agar musisi-musisi seperti Addie MS tidak lelah untuk terus membawa nama Indonesia ke mata dunia.  

Comments