First Time Backpacking

Artikel ini adalah artikel Jurnalistik >>> Feature Personal yang sudah saya serahkan ke mentor saya yang mengajar Penulisan Feature di kantor. Artikel aslinya 8 halaman, tapi mentor hanya minta 4 halaman, jadi saya potong saat mengumpulkan artikel ini. Sekarang saya panjangin lagi :) Begini ceritanya ...



Suatu hari, saya bertemu dengan seorang lelaki, backpacker sejati. Hampir seluruh Indonesia sudah dijelajahi bersama teman-temannya pencinta backpacking. Menyimak ceritanya, saya jadi merasa kecil, karena ternyata perjalanan saya selama ini tidak ada apa-apanya dengan pengalaman dia sebagai backpacker. Kisah selengkapnya bisa dibaca di sini.

Singkat cerita, hubungan kami tidak berlanjut meski kami saling mencintai, karena beda agama. Saya yang sudah terlanjur mencintainya, malah jatuh cinta juga kepada aktivitas backpacking. Saat patah hati itulah, keinginan untuk menjadi backpacker malah sangat kuat, karena saya ingin melihat tempat-tempat yang pernah dia lihat. Saya ingin merasakan apa yang pernah dia rasakan. Saya ingin tahu, mengapa ia begitu cinta kepada aktivitas itu. 

Awal tahun 2013, kebetulan sahabat saya baru selesai melakukan perjalanan ke Dieng bersama teman-teman backpacker.  Banyak foto-foto yang di-tag ke akun facebooknya. Ia juga menulis blog dan saya membacanya dengan antusias. Saya pikir, ia melakukan perjalanan dengan teman-teman dekatnya, ternyata ia pergi dengan orang-orang yang baru dikenal melalui forum online. Itulah pertama kalinya saya mengenal forum BackPacker Indonesia (BPI) yang bisa diakses melalui www.backpackerindonesia.com

Krakatau, destinasi pilihan pertama
Setelah menjadi anggota forum BPI, saya pun memutuskan untuk melakukan perjalanan pertama saya. Saat itu kebetulan ada anggota BPI yang mengajak saya ke Krakatau. Ia memberikan link itinerary (rencana perjalanan) yang diposting oleh Rafauli Trip. Setelah kami mendaftarkan diri, belakangan dia malah membatalkan rencananya, namun saya nekat melanjutkan perjalanan seorang diri. Satu bulan menjelang hari keberangkatan, saya berhasil mengajak satu teman wartawan untuk ikut perjalanan saya ke Krakatau.

Betapa kagetnya teman saya itu, ketika tahu bahwa kami akan berangkat ke Krakatau dengan orang-orang yang belum pernah saya kenal sebelumnya. “Kalau kita diculik gimana?” tanyanya kaget saat kami sudah berada di bus menuju pelabuhan Merak, Jumat malam (8/2/2013). Tadinya ia memutuskan ikut karena berpikir bahwa kami akan backpacking dengan teman-teman saya. Saya hanya tersenyum dan meyakinkan dia bahwa perjalanan kami pasti aman. Saya sudah survei tentang Rafauli Trip. Mereka seperti ‘travel agent’ untuk kalangan backpacker yang belum bisa merencanakan perjalanan sendiri. Saya rasa sebagai pemula, ikut travel agent backpacker akan lebih aman. Saya membayar biaya Rp. 385.000 untuk perjalanan ini.

Kurang tidur
Saya berkumpul dengan teman-teman BPI Jakarta di depan wisma Slipi dan berangkat bersama menggunakan bus umum ke Pelabuhan Merak pukul 20.30 WIB. Kami tiba sekitar pukul 23.30 WIB di Pelabuhan Merak. Sebelum naik ke kapal Ferry, kami melakukan registrasi ke panitia Rafauli Trip sambil menunggu teman-teman lain yang datang dari Bandung, Solo, dan Surabaya. Meeting point pertama memang di Pelabuhan Merak.

Setelah teman-teman BPI Bandung, Solo, dan Surabaya tiba, kami menyelesaikan registrasi lalu breefing sebelum naik kapal Ferry. Masing-masing diberi tiket kapal lalu naik ke kapal bersama-sama pukul 01.30 WIB. Yang perlu diingat dalam perjalanan dengan backpacker adalah jangan sampai berjauhan dengan rombongan, apalagi memisahkan diri. Meski ransel penuh dan berat, saya harus selalu bisa menyamakan langkah dengan teman-teman backpacker yang sebagian besar laki-laki.



suasana kapal ferry (foto: dok. pribadi)

Saya tidak bisa tidur di kapal Ferry karena angin berhembus sangat kencang dan kursi untuk duduknya terbuat dari besi yang cukup keras untuk merasa nyaman. Di tambah lagi suara-suara orang yang mengobrol kencang, juga awak kapal yang tak henti bicara sampai kapal tiba di Pelabuhan Bakauheni (Lampung). Selain memperagakan cara evakuasi diri jika kapal tenggelam, ternyata ia juga sekalian jualan barang-barang kebutuhan rumah tangga.

Kami sampai di Pelabuhan Bakauheni pukul 03.30 WIB. Istirahat setengah jam untuk merebahkan tubuh, kami melanjutkan perjalanan ke Kalianda dengan menggunakan angkot untuk sarapan dan istirahat. Perjalanan ditempuh selama 2 jam. Di Kalianda, kami sempat mandi dan sarapan di rumah penduduk yang sudah disewa sebelumnya. Setelah breefing, kami melanjutkan perjalanan ke dermaga Centi pukul 07.00 WIB. Agenda kami hari itu adalah snorkeling di 3 pulau kecil di Lampung.


foto oleh: M. Titan Widiarto (@mutantitan)

Jam 9 pagi kami tiba di dermaga Centi lalu melanjutkan perjalanan dengan menggunakan perahu bermesin ke pulau Sebuku Kecil (perjalanan 2 jam). Sesuai namanya, pulau ini memang kecil, dengan biota laut yang tidak terlalu cantik. Di Sebuku Kecil kami hanya mampir satu jam untuk belajar snorkeling karena lautnya tidak begitu dalam. 






Pulau Sebuku Besar (foto: dok. pribadi)

Jam 12 siang kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Sebuku Besar untuk mempraktekkan latihan snorkeling yang sudah diajarkan di Sebuku Kecil. Kapal tidak merapat ke pulau, tapi singgah di tengah laut dan kami harus lompat dari atas kapal untuk snorkeling sampai ke pulau.


Pulau Umang-umang (foto: dok. pribadi)



pulau umang-umang (foto: dok. pribadi)

Jam 2 siang kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Sebesi untuk makan siang dan menaruh tas ransel di homestay yang sudah di-booking sebelumnya. Usai makan siang dan istirahat, pukul 4 sore kami kembali naik ke perahu menuju Pulau Umang-umang untuk bermain di pantai. Belum puas main di pantai, kami sudah harus naik ke perahu untuk mengejar sunset agar para fotografer bisa mengabadikannya dari atas perahu.

Jam 7 malam kami kembali ke Pulau Sebesi untuk membersihkan diri dan mengikuti aktifitas barbeque dan malam keakraban. Jam 8 acara dimulai dan berhenti jam 10 malam karena kami harus istirahat. Kami harus segera tidur karena listrik hanya tersedia dari jam 6 hingga 12 malam. Kami akan dibangunkan jam 2 pagi dalam keadaan gelap gulita sehingga harus mempersiapkan segala perlengkapan naik gunung di sekitar tubuh sebelum tidur. Kami terbagi dalam 3 rumah, dua untuk rombongan laki-laki dan satu untuk rombongan perempuan.

Jam 2 pagi, kami semua dibangunkan untuk melanjutkan perjalanan ke Anak Krakatau. Dalam keadaan tubuh yang kurang tidur, kami semua harus siap naik ke perahu, merayap-rayap menggunakan senter karena listrik mati. Kami naik ke perahu dan sampai di kaki gunung Anak Krakatau pukul setengah lima pagi. Saya tak akan pernah lupa, tidur di atas kapal jam 2 pagi, terombang-ambing ombak dan sesekali tersiram air laut karena kapal terlalu goyang. Angin berdebur kencang di kanan-kiri kapal, menyebabkan gigil yang tak bisa dicegah.

Sayangnya saat tiba di kaki Anak Krakatau, langit sudah menurunkan hujan, sehingga kami harus menunda pendakian sampai satu jam. Jam setengah enam, saat hujan mulai rintik-rintik, kami nekat menaiki Anak Krakatau karena tim Rafauli sudah membaca pergerakan awan. Kami tidak akan kehujanan karena awan bergerak menjauhi puncak. Disinilah saya belajar tentang konsep backpacking: berkomunikasi dengan alam dan membaca pertanda.


mendaki Anak Krakatau (foto: dok. pribadi)

Sepanjang perjalanan, semilir angin pegunungan langsung menyapa namun tubuh terasa hangat karena pendakian yang menanjak membantu tubuh mengeluarkan keringat. Semakin mendekati puncak, bau belerang akan semakin tercium sebab Anak Krakatau adalah gunung aktif yang terus tumbuh. Tanah yang saya injak adalah pasir berwarna hitam yang kemudian menggumpal karena kehujanan. Pendakian hanya membutuhkan waktu setengah jam karena tinggi Anak Krakatau hanya 230 meter di atas permukaan laut. Namun terasa cukup berat karena pasir yang kami injak cukup licin karena air hujan.


sunrise dari atas Anak Krakatau (foto: dok. pribadi)

Benar saja. Kami tidak kehujanan ketika tiba di bukit sebelum puncak. Matahari menyembul malu-malu dari sudut gunung di seberang Anak Krakatau. Melihat semburat sunrise yang merata ke awan hingga lautan, rasa lelah saya karena kurang tidur langsung sirna. Apalagi melihat puncak Anak Krakatau yang berasap dan mengeluarkan belerang sepanjang waktu. Kami memang tidak diperbolehkan sampai ke Puncak karena berbahaya. Jadi kami hanya berfoto dari bukit sebelum puncak. 


Anak Krakatau (foto: dok. pribadi)

Puncak Anak Krakatau berwarna cokelat tua tanpa pepohonan. Dari seluruh tubuhnya selalu menyemburkan asap belerang dengan bau yang kuat dan bebatuan di sekitar gunung itu adalah lelehan belerang yang mengeras. Saya mengabadikan semua pemandangan di sekitar dengan foto dan video. Saya juga mengambil salah satu belerang yang membatu untuk dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. Warna batunya sebagian kuning pucat dan sebagian cokelat muda. Perjalanan turun gunung ternyata lebih mudah.


Snorkeling di Lagoon Cabe (foto: dok. pribadi)

Setelah lelah mengeksplorasi Anak Krakatau, kami ke Lagoon Cabe, tempat snorkeling di bawah pulau Rakata (tempat gunung Krakatau dulu pernah ada). Pulau Rakata ini memiliki pepononan yang sangat besar dan rapat dengan warna dedaunan hijau tua. Ini adalah snorkeling terakhir kami dan kami diberi suguhan biota laut yang indah. Karang-karang berukuran besar berwarna merah dan krem menyapa kami. Di sela-selanya, saya melihat berbagai jenis ikan tanpa tahu namanya, berwarna hijau, merah, oranye, dan belang-belang hitam-putih. Kami juga menemukan ikan Nemo yang terkenal karena ada filmnya.


foto: dok. Rafauli Trip

Usai snorkeling, kami kembali ke pulau Sebesi untuk istirahat, mandi, dan bersiap melakukan perjalanan pulang. Dalam perjalanan pulang, barulah kami semua saling bertukar nomor ponsel dan akun media sosial. Persahabatan berlanjut setelah perjalanan bersama yang menyenangkan. Misalnya, saya jadi kenalan sama teman-teman yang hobi fotografi sambil jalan-jalan, salah satunya M. Titan Widiarto, yang bikin foto ini:


foto by M. Titan Widiarto (@mutantitan)

Tidak sia-sia saya memilih Rafauli Trip sebagai travel agent saya untuk kegiatan pertama  backpacking ini. Kepada backpacker pemula, saya sarankan untuk lebih berhati-hati memilih rekan perjalanan. Sebaiknya pilih teman-teman backpacker yang sudah berpengalaman, atau sekalian saja ikut perjalanan yang dibuat oleh travel agent backpacker seperti Rafauli Trip ini. Sebab, selain itinerary (rencana perjalanan)-nya lebih jelas, biaya yang dikeluarkan juga lebih pasti. Nanti, suatu saat juga akan tertarik untuk membuat itinerary sendiri dan bisa menjelajah sebagai backpacker sejati yang bisa jalan meski tanpa teman. 


ini pakai kameranya @mutantitan dari atas kapal Ferry dalam perjalanan Bakauheni-Merak

Semua butuh proses dan saya sudah berniat untuk menjalani proses ini. Saya ingin jadi backpacker sejati, someday!


Comments

Ara-Klik said…
nice blog dan nice cerita tripnya... mudah-2an tercapai cita-2nyauntuk jalan sendiri menikmati alam Indonesia... trims sudah share perjalanan bersama kami (rafaulitrip.com)
Tenni Purwanti said…
terima kasih sudah membaca tulisan saya :)

aamiiin ....
Ridawati Manik said…
thanks atas infonya. salam ransel dari medan!!!.