‘Malam Terakhir’ Leila S. Chudori


Saya baru selesai membaca buku Kumpulan Cerpen karya Leila S. Chudori: Malam Terakhir. Buku ini sudah lama terbit  (tahun 1989), hanya selang 3 tahun setelah saya lahir.  Namun, baru 20 tahun-an kemudian saya bisa membaca buku ini, tepatnya versi terbaru dengan perubahan di sana-sini (setidaknya begitu pengakuan penulisnya dalam kata pengantar).



Ada 3 cerpen yang menjadi favorit saya (walaupun sebetulnya saya suka semua cerpen di buku ini). Tiga cerpen terakhir dalam buku ini membuat saya belajar bagaimana caranya menyampaikan realita dalam kisah fiktif. Leila menuliskannya dengan sangat baik dan saya seperti melihat kejadian demi kejadian di depan mata saya sendiri.

Mungkin, sang penulis adalah wartawan yang sudah terbiasa menuliskan realita, fakta, ke dalam sebuah tulisan. Tetapi yang membuat saya takjub adalah caranya menciptakan twist, yang membuat saya terkejut, terharu, terpukau di akhir cerita, meski ini adalah kisah fiktif, bukan laporan berita. Saya seperti membaca feature jurnalistik yang menyentuh.

Sebutlah cerpen “Sepasang Mata Menatap Rain” yang mengisahkan tentang seorang anak kecil yang berkecukupan bernama Rain, yang ditatap matanya oleh seorang anak jalanan. Si kecil Rain mampu membedakan mana anak jalanan yang tersiksa dengan kehidupanya dan mana anak jalanan yang memang menikmati kehidupan ‘jalanan’-nya. Hanya dengan tatapan mata, seorang anak kecil yang polos mampu menyelami kehidupan sesamanya. Sementara orang tua Rain malah sibuk memikirkan soal sindikat anak jalanan, bahwa ini adalah masalah sosial yang harus dihentikan dengan cara tidak memberikan uang atau makanan. Rain tidak peduli akan hal itu. Ia hanya ingin anak yang menatapnya itu bisa tersenyum dengan pemberiannya.

Kisah ini bisa kita temui sehari-hari, terutama bagi warga Jakarta. Dan di masa kini, cerita tentang anak jalanan dan anak orang kaya mungkin sudah banyak diceritakan. Tapi Leila bisa menulis dari ‘angle’ yang lain. Angle mata seorang anak kecil yang polos, anak kecil yang tulus. Saya bahkan tidak pernah terpikirkan akan mengambil ‘angle’ dari sana, ketika diberi tema anak jalanan.

Lalu cerpen “Ilona”, yang mengisahkan tentang seorang anak perempuan yang sejak kecil terbiasa kritis. Kebebasan yang diberikan orang tuanya sungguh dimanfaatkan Ilona untuk menjalani kehidupannya sesuai dengan kata hati. Ilona tumbuh menjadi gadis yang berani memilih untuk tidak berkomitmen dengan siapapun (alasannya bisa dibaca dalam cerpen). Saya terharu dengan ending cerpen ini. Terharu sekaligus miris. Tetapi begitulah hidup. Jika pernah mendengar kata-kata ‘hidup adalah pilihan’, cerpen ini mengungkapkan pilihan itu. Bahwa apapun yang kita pilih, pasti ada risikonya dan kita harus siap dengan risiko itu ketika menentukan sebuah pilihan. Ilona siap dan punya alasan kuat untuk itu.
Cerpen terakhir yang saya suka, tentu saja cerpen “Malam Terakhir” yang mengisahkan tentang malam terakhir para tahanan (baca: mahasiswa) yang harus ‘diakhiri’ hidupnya karena melawan pemerintah. Kisah ini bisa saja realita, tapi bisa juga murni fiksi, hanya sang penulis yang tahu. Tetapi jika ini diangkat dari realita, tak ada lagi yang bisa saya katakana selain: kejam!

Itulah kelebihan Leila sebagai penulis. Buku kumpulan cerpen ini sanggup memainkan perasaan saya, mengaduk-aduknya antara haru, terkejut, miris, sekaligus benci. Benci jika saja ada cerpen yang memang betul-betul terjadi di kehidupan. Benci kepada penguasa yang dikisahkan dalam cerpen. Benci terhadap kehidupan yang tidak adil.

Saya melihat karya Leila ini mirip karya-karya sastra yang biasa dimuat di Koran Kompas Minggu (meski Leila sendiri adalah wartawan Tempo).  Dalam artian, karya fiksi yang mengangkat realita kehidupan sehari-hari yang dibungkus dalam pilihan diksi, gaya bahasa, dan plot yang tertib. Mungkin bisa disebut sastra klasik (koreksi jika saya salah). Gaya bahasanya hampir seragam. Bahkan saya seperti membaca karya Seno Gumira Adjidarma. Menurut saya setipe, meski masing-masing penulis punya ‘signature style’-nya sendiri.

Meski begitu, wajar kiranya setelah 20 tahun, buku kumpulan cerpen ini ‘dilahirkan’ kembali oleh penulisnya untuk diberi sentuhan baru yang lebih ‘up to date’. Meski dengan gaya bahasa yang hampir sama dengan 20 tahun lalu, namun Leila bisa mengangkat realita yang masih terjadi hingga sekarang.

Saya ingin bisa berkarya se-abadi ini. Masih relevan dibaca bahkan hingga 20 tahun kemudian, sejak buku ini pertama kali diterbitkan. Tidak sedikit karya yang muncul musiman, lalu tenggelam di makan zaman. Buku Leila ini adalah salah satu yang berhasil menerjang zaman dan melintasi generasi, kembali menyapa pembaca baru seusia saya, dan mungkin sampai generasi anak-cucu saya kelak. Mirip karya Chairil Anwar yang masih dibaca dan dibahas kalangan akademisi dan praktisi sastra hingga sekarang, meski penulisnya sudah lama tiada.

Comments