Bermula dan Berakhir di Yogyakarta*


Pulang ke kotamu,
ada setangkup haru dalam rindu

Lagu lawas yang dinyanyikan Katon Bagaskara bersama grup musiknya Kla Project itu sudah Firea putar puluhan kali selama perjalanan Jakarta-Yogyakarta menggunakan kereta api. Tak bosan-bosan ia mendengarnya. Setiap kali lagu habis dan dimulai kembali, perasaannya masih tetap sama: rindu.
            
Kereta yang ditumpangi wanita berusia 26 tahun itu akhirnya tiba di Stasiun Tugu, Yogyakarta. Biasanya ia tak pernah menggunakan kereta api untuk sampai ke Yogyakarta. Ia selalu menggunakan pesawat, itu pun kalau ada tugas dari kantor. Selebihnya, ia tak pernah betul-betul sengaja ingin ke Yogyakarta. Sampai akhirnya ia bertemu lelaki itu, dan jadi sering datang ke Yogyakarta.
           
“Apa kabar?” tanya Vicky yang telah berdiri di hadapan Firea.
“Lelah,” jawab Firea sambil tersenyum kecil.
“Sini aku bawakan tasmu.”
“Tidak usah. Tidak terlalu berat.”

Keduanya pun berjalan beriringan keluar dari stasiun. Meski Firea menolak tawaran untuk dibawakan tas, Vicky tetap membawakan travel bag yang Firea bawa.

“Suami dan anakmu, bagaimana kabarnya?”
            
Sesungguhnya Firea  tak pernah mau mendengar pertanyaan itu keluar dari bibir Vicky. Tapi, kalaupun harus ditanyakan, seharusnya tidak secepat ini, di awal percakapan mereka.
            
“Nanti saja ya, ceritanya. Aku masih lelah,” jawab Firea.
            
Firea melihat Vicky menarik napas panjang. Lalu hening menggelayut sepanjang perjalanan mereka menuju hotel tempat Firea menginap.


***
Setelah memberi waktu Firea untuk tidur 2 jam, mandi, dan bersiap, Vicky menjemput Firea kembali di hotel saat jam sudah menunjukkan waktu makan siang.
           
“Kita makan di The Waroeng of Raminten ya?” tanya Vicky.
House of Raminten kayaknya,” ujar Firea meralat.
“Beda. Ini The Waroeng of Raminten, letaknya di Kaliurang. Kalau House of Raminten kan di daerah kotabaru.”
“Apa bedanya? Beda nama saja?”
“Tempatnya lebih tenang, kamu pasti suka.”
 “Menunya?”
Vicky tidak menjawab dan membiarkan Firea menebak-nebak.

Sampai di The Waroeng of Raminten, Firea langsung memilih tempat duduk lesehan di ‘bangsal’ atau dangau dekat kolam. Tempat makan ini berbentuk mirip joglo yang didominasi kayu. Suasananya yang tenang membangkitkan selera makan, terlebih karena mereka disuguhi musik gamelan Jawa. Firea langsung memesan Mowo Jaran (ikan barakuda) karena belum pernah memakannya. Lalu minumnya Jus Kembang Katresnan, yang merupakan campuran jus melon, jus jeruk, dan sirup frambozen karena siang itu cukup terik. Sedangkan Vicky hanya memilih memesan makanan yang sama dengan Firea, tapi tanpa memesan minuman.
           
“Minumnya segelas berdua saja, biar romantis,” ujar Vicky sambil tertawa.
            
Firea hanya tersenyum meski dalam hati rasanya senang sekali mendengar godaan Vicky. Ia merasa seperti kembali ke empat tahun lalu, saat pertama kali mereka berdua bertemu.
           
Dan saat makanan-minuman datang, Firea baru sadar alasan mengapa Vicky tidak ingin memesan minuman. Menu minuman yang dipesan Firea ternyata sangat besar, sepertinya bisa untuk minum tiga orang. Mereka langsung menyantap masakan di hadapan mereka karena ternyata sudah sama-sama lapar. Vicky yang senang bercanda masih saja melakukan kebiasannya. Suasana makan jadi menyenangkan.
            
“Temani aku jalan-jalan keliling Yogya seharian ini ya, kalau perlu sampai tengah malam,” pinta Firea setengah memohon, setelah makanan habis.
“Bukannya kamu ke mari karena tugas kantor? Kok malah minta jalan-jalan?”
“Aku bohong. Kalau tugas kantor, mana mungkin aku naik kereta api? Pasti naik pesawat.”
“Kenapa harus bohong, Firea?”  
“Kalau aku ga bohong, kamu mana mau ketemu aku? Sejak aku menikah, kamu ga pernah mau kalau aku ajak bertemu.”
“Bukan ga mau ketemu. Kalau kamu ke Yogyakarta untuk liburan bersama suami dan anakmu, untuk apa bertemu aku? Nanti ganggu acara keluarga. Makanya aku sarankan kita bertemu saat kamu ada tugas saja, biar kamu datangnya sendirian.”
“Ya makanya sekarang aku datang sendirian.”
“Tapi kamu tidak dalam rangka tugas.”
 Ga boleh, ya?”
“Bukan gitu. Aku jadi ga enak sama suamimu. Lagipula aku pikir kamu betul-betul tugas. Jadi kamu sudah punya jadwal sendiri selama di Yogyakarta. Jujur, kalau kamu datang hanya untuk liburan, saat ini aku tidak bisa menemani full.”
Kenapa? Kamu sibuk?”
“Aku sudah ada janji dengan calon istriku untuk cari baju pengantin.”
“Kamu sudah punya calon istri? Kok ga pernah bilang?
“Tadinya ga mau gembar-gembor dulu. Kalau persiapan sudah 90 persen, baru kirim undangan.”
“Kapan kalian menikah?”
“Rencananya Mei 2013.”
“Wah, sudah dekat sekali. Sekarang Februari.”
“Makanya hari ini aku ga bisa nemenin kamu."
“Ya sudah, tidak apa-apa. Aku ngerti kok.”
“Aku antar sekarang kembali ke hotel, ya?”
Ga perlu. Aku masih mau di sini.”
“Tapi aku harus segera pergi.”
“Ya sudah, pergi saja.”
“Yakin kamu ga apa-apa ditinggal sendiri?”
            
Firea mengangguk sambil tersenyum. Vicky lalu meminum sedikit Jus Kembang Katresnan yang sudah habis setengah. “Habiskan, ya.” pintanya kepada Firea. Sekali lagi, Firea hanya mengangguk.
            
Setelah itu Vicky melangkah pergi, dan tak kembali …
            
Air mata mengalir pelan dari sudut mata Firea, lalu membasahi pipi yang terpulas blush on pink. Wajahnya kini tak sesegar warna blush on yang ia pakai. Untuk pertama kalinya ia menyesal datang ke Yogyakarta.

***
Empat tahun lalu, Firea dan Vicky bertemu di Yogyakarta saat Firea bertugas untuk liputan Upacara Sekaten. Saat  itu dan hingga kini, Firea masih wartawan harian Nasional dan dipercaya memegang rubrik Budaya. Saat liputan itulah Firea berkenalan dengan Vicky, salah satu pemuda Yogyakarta yang setia membantunya menemui berbagai narasumber yang Firea butuhkan untuk kebutuhan peliputan. Setelah dua minggu melakukan peliputan, Firea pun kembali ke Jakarta. Hubungan persahabatan mereka berlanjut setelah itu. Mereka bertukar nomor ponsel, akun media sosial, hingga alamat email. Vicky rajin menghubungi Firea setelah gadis itu kembali tenggelam dalam kesibukan di Jakarta.
            
Dari akun facebook Firea tahu, Vicky adalah seorang agen Multi Level Marketing sebuah perusahaan yang memproduksi obat-obatan herbal. Keterlibatannya dalam upacara Sekaten dan kemampuannya menembus berbagai narasumber di Yogyakarta semata-mata karena Vicky memang memiliki jaringan pertemanan yang luas. Tadinya Firea pikir Vicky adalah salah satu karyawan Dinas Pariwisata atau Abdi Dalam Keraton. Ternyata ia seratus persen salah.
            
Namun Firea  tetap bersahabat baik dengan Vicky sampai dua tahun lamanya. Selama itu, Vicky rajin menyapa Firea di media sosial, mengirim email berisi informasi acara-acara di Yogyakarta yang mungkin bisa ia liput, bahkan sesekali menelepon hanya untuk bertanya kabar. Vicky juga yang mengajari Firea untuk sering-sering main ke Yogyakarta menggunakan kereta api. Selama dua tahun itu, mereka sering bertemu di Yogyakarta, selain karena urusan dinas, juga karena sesekali Firea ingin liburan di sana.

Sampai akhirnya, kebiasaan itu berhenti sejak Firea mengirimkan undangan pernikahan kepada Vicky via email. Vicky membalas dengan ungkapan turut bahagia dan menyatakan akan hadir di pernikahan Firea. Nyatanya, Vicky tidak datang dan sejak hari pernikahan itu, Vicky tak pernah lagi menghubungi Firea lebih dulu, sehingga Firea yang lebih sering meneleponnya untuk mengajak bertemu. Namun Vicky lebih sering menolak dengan alasan tak mau mengganggu acara keluarga.

Vicky tak akan pernah tahu bahwa sebetulnya selama mereka bersahabat baik, Firea mulai suka kepadanya karena perhatiannya yang sangat tulus. Namun, karena orang tua menjodohkan Firea dengan seorang karyawan BUMN, ia pikir ia harus memilih masa depan yang sudah pasti saja. Ternyata Firea tak pernah bisa mencintai suaminya dan ujung-ujungnya ia malah diceraikan karena ketidakcocokan di antara mereka. Sekarang, mungkin memang sudah terlambat kalau Firea harus menyatakan perasaan kepada Vicky. Ia jadi tahu diri, meski Vicky tak punya calon istri pun, seorang janda sepertinya apa pantas menyatakan perasaan kepada seorang perjaka yang pernah ditinggal kawin? Lagi-lagi Firea hanya sanggup menangis di restoran itu. Gamelan Jawa tak lagi merdu di telinganya.

***
Malam semakin larut di Yogyakarta. Beberapa menit lagi Vicky akan menjemput usia barunya yang ke-29.  Vicky sudah mengantarkan calon istrinya ke rumah orang tua perempuan itu dan kini Vicky sudah kembali ke rumah orang tuanya sendiri. Kedua calon mempelai itu sudah sepakat tidak akan begadang dan akan merayakan ulang tahun Vicky besok siang. Namun Vicky malah tidak ingin tidur dan memilih menanti detik-detik jam 12 malam di kamarnya yang sudah gelap.
            
Dalam cahaya lampu tidur yang remang, Vicky mengambil sepucuk surat di laci mejanya lalu membaca ulang surat yang pernah ditulisnya dua tahun lalu:

Selamat atas pernikahanmu, Firea,
gadis yang kucintai diam-diam…
Sesungguhnya mencintai dalam diam adalah anugerah bagiku untuk melatih sabar
Dan kini kesabaranku kian diuji dengan pernikahanmu
Sebutlah aku pengecut karena tak pernah berani mengungkap rasaku
Namun satu-satunya inginku di dunia hanyalah melihatmu bahagia
Berbahagialah Firea ..
Selamanya …

Vicky membakar surat itu perlahan, menggunakan korek api yang ada di dekatnya. Kertas itu berubah menjadi abu tepat saat jam menunjukkan pukul 12 malam dan Vicky mengucapkan selamat ulang tahun untuk dirinya sendiri. Ia akan memulai hidup baru bersama calon istrinya, tanpa pernah tahu, gadis yang pernah dicintainya diam-diam, sedang menangis sendirian di kamar hotel karena tak akan pernah punya kesempatan memiliki lelaki yang dicintainya. 

*) Cerpen ini dibuat untuk mengikuti lomba Cerpen Recto Verso dari link ini http://www.untukindonesiaku.com/rectoverso/?  tapi hingga tanggal pengumuman, tidak ada kabar soal kompetisi ini. Jadi lagi-lagi, cerpen saya masukkan ke dalam blog saja. 


Comments