Bromo Trip yang (Tidak) Gagal

Mengapa saya memberi judul demikian? Mari simak kisah saya dan teman-teman akan mengerti.

Minggu lalu, saya melakukan perjalanan bersama Bima (dari komunitas Backpacker Indonesia regional Jabodetabek). Bima membawa 18 orang (termasuk saya dan dia) untuk bersama-sama berangkat menjelajah Bromo dan menikmati keindahan air terjun Madakaripura. Terdiri dari 8 orang perempuan dan 10 orang laki-laki. Seperti trip Krakatau sebelumnya, di trip ini pun saya tidak mengenal teman-teman lain selain Bima dan teman yang saya bawa: Nisa. Tapi kami akhirnya saling mengenal dan tentunya saling berteman. Melakukan perjalanan dengan orang yang baru saya kenal ternyata lebih menyenangkan!

Trip kami ini bisa dibilang berhasil, bisa juga dibilang gagal. Tinggal dari sudut mana kita menilai.

Bima sebagai leader dalam trip kali ini, memberikan itinerary (rencana perjalanan) sebagai berikut: perjalanan Jakarta-Malang, menikmati air terjun Madakaripura, menikmati sunrise Bromo, explore savana Bromo, lalu kembali ke Jakarta dari Malang. Perjalanan direncanakan mulai tanggal 5-7 April 2013. Nyatanya, perjalanan kami molor sampai tanggal 8 April.



Sebetulnya kami beruntung, karena Bima memesan tiket kereta api ekonomi non-AC untuk kami. Namun, karena ada kebijakan baru PT. KAI, maka kereta api ekonomi akan ditiadakan dan diganti dengan ekonomi AC. Alhasil, kami semua bisa menikmati perjalanan dengan kereta ekonomi AC dengan harga non AC. Awal perjalanan yang beruntung!

Namun keberuntungan kami ternyata hanya sampai di situ. Kami berangkat jam setengah 2 siang dari Jakarta dan tiba di Malang pukul 7 pagi. Sayangnya, mobil yang seharusnya menjemput kami ternyata terlambat datang sehingga kami harus menunggu 4 jam! Kami baru berangkat meninggalkan stasiun pukul 11 siang lalu melanjutkan perjalanan ke air terjun Madakaripura.



Kami sampai di air terjun Madakaripura jam 2 siang. Perjalanan dari stasiun ke Madakaripura sangat cerah, panas, dan gerah. Namun ternyata di Madakaripura, cuaca berubah 180 derajat. Kabut tipis mulai menyelimuti jalan masuk ke air terjun. Bima meminta kami untuk makan siang dulu agar kuat mendaki menuju air terjun. Namun sayangnya, saat makan, saya melihat ranger Madakaripura sibuk mengamankan pendaki yang terjebak di air terjun dan tidak bisa kembali karena banjir. Hujan rupanya sudah turun di air terjun dan membawa lumpur ke arah kami.

Meski makan sudah selesai, kami tidak bisa ke mana-mana karena ranger mengingatkan agar kami jangan dulu masuk ke jalur pendakian. Dan benar saja. Tiba-tiba air bah meluncur. Membawa lumpur hingga ke arah kami. Kami hanya bisa memandanginya dengan takjub. Seperti tergambar dalam video berikut :



Kami menunggu sampai jam 4 sore dan tetap tidak ada kabar baik. Hujan malah semakin lebat dan kami berteduh kedinginan di dalam pendopo. Akhirnya Bima memutuskan kami harus meninggalkan tempat itu dan menuju homestay untuk istirahat. Semua setuju sebab kami pun pasti akan kemalaman jika memaksakan diri naik di atas jam 5.

Kami lantas melanjutkan perjalanan ke homestay yang berada tak jauh dari Bromo. Perjalanan memakan waktu 3 jam. Setibanya di homestay, kami bergantian mandi, bersih-bersih, dan mempersiapkan kamar tidur, lalu pukul 9 malam kami berkumpul di ruang tengah untuk acara malam keakraban. Tentu saja setelah makan malam. Masing-masing dari kami memperkenalkan diri dan bercerita singkat tentang hidup. Suasana akrab berlangsung hingga jam 11 malam. Bima meminta kami untuk tidur, istirahat, agar esok bisa dibangunkan jam 3 pagi. Namun masih ada saja yang memilih untuk jalan-jalan selarut itu. Saya sendiri lebih memilih tidur.

Jam 3 pagi, kami dibangunkan oleh Oky, salah satu peserta trip yang berhasil bangun duluan. Dengan susah payah kami bangun untuk mengejar sunrise di Bromo. Setengah jam kemudian kami sudah berada di atas mobil bak terbuka untuk menuju Bromo Sunrise View Point.







Kami tiba di pendakian Bromo Sunrise View Point satu jam kemudian, tepatnya jam setengah lima. Kami menunggu matahari muncul dan menyirami kawasan Bromo sehingga bisa diabadikan dalam kamera yang kami bawa jauh-jauh dari Jakarta. Nyatanya, keindahan sunrise hanya mimpi bagi kami. Matahari sembunyi di balik kabut tebal. Jangankan berharap melihat sunrise, Bromonya sendiri saja tertutup kabut tebal.

Setengah delapan pagi, kami pasrah lalu memutuskan meninggalkan sunrise view point dan melanjutkan perjalanan menuju Padang Savana Bromo. Kami akan explore padang pasir di sekitar Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Namun lagi-lagi hujan menguji kesabaran kami. Di tengah-tengah perjalanan, kami terpaksa harus membentangkan terpal berwarna biru untuk menutupi tubuh agar tidak kehujanan. Selain mencegah agar tubuh tidak basah oleh guyuran hujan, kami juga harus berjuang mempertahankan keseimbangan di mobil yang terus berguncang-guncang. Tidak mudah menaklukkan gurun di cuaca ekstrem seperti yang kami jalani.

Tapi memang dasarnya kami semua backpacker ceria, pengalaman itu bukannya membuat kami menangis tapi malah membuat kami tertawa selebar-lebarnya. Kami terus tertawa sepanjang perjalanan, menertawakan kesialan kami, sekaligus mensyukuri kekuatan kami bertahan dalam kondisi seperti itu. Supir akhirnya menghentikan mobil di tengah-tengah savana karena ada pedagang kopi dan makanan di situ. Kami pun bergegas turun dari mobil lalu memesan kopi, susu, gorengan, apapun yang dijual oleh pedagang di situ. Perut kami kelaparan karena belum sarapan plus menahan dingin.





Saat makanan mulai habis, tiba-tiba hujan berhenti dan kabut mulai menipis. Kami mulai bisa keluar dari tenda pedagang dan mengeluarkan kamera. Satu persatu dari kami lalu mulai memotret. Akhirnya semua yang membawa kamera lalu mengeluarkan kamera masing-masing dan semuanya asyik berfoto-foto, lupa pada dingin dan lapar. Semua kekecewaan hilang seketika.

Usai puas berfoto di Padang Savana, kami melanjutkan perjalanan ke Pasir Berbisik. Perjalanan berguncang-guncang maish berlanjut, tetapi kami tetap bersemangat. Namanya juga backpacker. Kalau orang lain menjelajah Savana Bromo pakai jeep, kami pakai mobil bak terbuka :) lebih murah pastinya :)

Kami sampai di Pasir Berbisik dan akhirnya asyik berfoto-foto ria. Semua kekecewaan karena tak bsia berfoto dengan sunrise Bromo, hilang begitu saja. Masih banyak angle foto yang bisa kami dapatkan tanpa harus bergantung kepada sunrise. Memang sih, awalnya saya ingin punya foto seperti ini:



Tapi mau bagaimana lagi kalau Tuhan tidak mengizinkan dan menutup keindahan itu dengan kabut tebal. Akhirnya saya hanya bisa memotret dari atas mobil dalma keadaan mobil berguncang-guncang. Bisa dapat foto ini saja sudah syukur:



Saya pun tidak mau mainstream! Saya berfoto dengan berbagai angle yang mungkin tidak terpikirkan oleh teman-teman yang pernah motret di Bromo :D

Seperti ini (Gunung Batok, gunung samping Bromo) :
















atau ini? (kawah  Bromo) 

















Bagaimana dengan ini? (Pasir Berbisik-Bromo)













Atau bahkan ini? 


















Nah, trip jadi terasa menyenangkan, meski gagal melihat keindahan air terjun Madakaripura dan Sunrise Bromo. Yang penting masih bisa explore savana, pasir berbisik, dan sampai di atas kawah Bromo. 

Setelah puas menjelajah kawah Bromo, kami pun melanjutkan perjalanan untuk mengejar jadwal kereta jam 4 sore. Sebelumnya kami harus kembali ke homestay dulu untuk berganti pakaian dan juga berganti mobil. 

Kami tiba di stasiun Malang satu jam sebelum jadwal kereta berangkay. Syukurlah. Akhirnya kami bisa kembali ke Jakarta dengan selamat. Eits, ternyata pengalaman seru kami belum selesai!

Jam dua pagi, mendekati Semarang, kereta yang kami tumpangi harus berhenti karena ada kereta lain yang gerbongnya anjlok dan menghalangi jalur kami. Dua jam kereta berhenti dan tidak ada solusi. Akhirnya kami yang berada di gerbong pertama berubah menjadi gerbong terakhir. Ya, kepala kereta dilepaskan dan memutar ke belakang. Kereta kami pun bisa melanjutkan perjalanan tapi harus memutar. Makan waktu sangat lama. Kami yang seharusnya tiba di Jakarta jam 9 pagi, baru tiba di stasiun Senen jam 1 siang. Saya gagal masuk kantor hari itu.



Tapi hikmah kejadian ini adalah, kami semua jadi punya waktu lebih panjang untuk melanjutkan perkenalan, melanjutkan obrolan. Saya yang membawa buku karya Paulo Coelho pun jadi punya waktu untuk membaca di kereta. Saat teman-teman tertidur, saya baca buku. Saat mereka bangun, saya bercengkrama dengan mereka. Tempat duduk kami tidak beraturan. Kami bisa duduk di mana saja asal tetap bersama dan terus tertawa. Untuk menghindari pegal, kami juga duduk bergantian. Memberi kursi untuk yang ingin tidur selonjoran. Yang sudah tidur harus bangun untuk duduk tegak. Itulah pertemanan, persaudaraan kami sepanjang perjalanan. Saya sangat menikmatinya.

Karena bagi saya, backpacking bukan semata-mata tentang tempat tujuan, tetapi tentang bagaimana perjalanan itu dirasakan. Saya sangat menikmati perjalanan trip ini dan tidak menyesali kegagalan kami yang tidak jadi melihat keindahan air terjun Madakaripura dan Sunrise Bromo. Meski dua hal itu justru agenda utama trip ini, tapi perjalanan yang menyenangkan justru lebih berharga bagi saya ketimbang semua pemandangan indah itu. Toh, kami sudah menginjakkan kaki di tempat-tempat indah itu. Hanya saja, alam mungkin belum bersahabat dengan kami saat itu. 

Sampai jumpa di tri-trip berikutnya :)




Comments

emang udah travelling kemana aja?
sekalian posting travel guidenya dong, such as: info hotel, biaya perjalanan, dsb. :)
Bromo Trip said…
sayang sekali mendung ya?

Saran saya kalau bromo trip lagi antara bulan mei sampai sepetember atau pada musim kemarau, viewnya akan sangat sempurna. Jauh lebih bagus dari foto diatas