'Galau' Bersama Nadira

Membaca buku ini, saya terseret ke dalam kisah 'gelap', 'muram', yang selama ini merupakan favorit saya dalam membaca dan terlebih lagi, menulis fiksi. Novel 9 dari Nadira merupakan buku ke-dua karya Leila S. Chudori yang saya baca. Buku pertama, kumpulan cerpen 'Malam Terakhir' sukses membuat saya tertarik untuk membeli buku Leila, lagi. Dan saya tidak kecewa!


Buku ini merupakan 9 Cerpen (cerita pendek) yang digabungkan menjadi satu novel. Dari 9 Cerpen, empat diantaranya sudah dimuat di media massa, yakni:
1. Melukis Langit (Majalah Matra , Maret 1991).
2. Nina dan Nadira (Majalah Matra, Mei 1992).
3. Mencari Seikat Seruni (Majalah Horison, April 2009).
4. Tasbih (Majalah Horison, September 2009).

Setelah digabungkan menjadi novel, ke-empat cerpen tersebut mengalami revisi. Namun tetap saja, meski menyatu sebagai novel, masing-masing cerita bisa terpisah menjadi cerpen yang berdiri sendiri-sendiri. Konsep yang tak pernah terpikirkan oleh saya! Kreatif dan menarik.

Novel ini menceritakan tokoh utama Nadira, seorang wartawan junior yang memiliki ayah mantan wartawan senior. Inilah yang menyebabkan sang ayah lebih dekat dengan Nadira, meski sang kakak, Nina, lebih butuh pengakuan sang ayah dibandingkan Nadira. Kakak Nadira lainnya, Arya, adalah seorang anak lelaki yang nakal sebagaimana lelaki pada umumnya, tetapi bagaimanapun, Arya sangat menyayangi Nina dan Nadira, terutama ketika keduanya memutuskan untuk menikahi pria yang menurut Arya: tidak layak dipilih. Mereka layaknya keluarga normal yang memiliki konflik. Sampai ketika ibu mereka, Kemala Yunus, ditemukan mati bunuh diri di rumah mereka, kehidupan mereka tidak bisa dikatakan 'normal' lagi.

Nadira depresi berkepanjangan di Jakarta, sementara Nina memilih kabur melanjutkan pendidikannya di Amerika. Arya, memilih mengasingkan diri dari hiruk-pikuk manusia dan menjebloskan dirinya sendiri ke hutan. Sang ayah, sibuk bernostalgia dengan kejayaan masa mudanya sebagai wartawan, yang semakin menonjolkan keadaannya yang kesepian. Hanya Nadira yang mengerti ayahnya selama ini. 


Saya menyelesaikan membaca novel ini hanya satu hari. Dan langsung membuat reviewnya hari berikutnya. Hal-hal menarik yang bisa saya temukan dalam novel ini adalah:




  1. Leila menggunakan alur maju-mundur, sehingga saya sebagai pembaca harus fokus membaca penanda waktu yang disertakan dalam setiap jeda. Jika tidak teliti, maka harus mengulang membaca karena kronologisnya akan kacau. Sebagai penulis, saya pernah mencoba teknik ini dan rumit, cukup merepotkan dalam menulisnya. Leila dengan teliti menggunakan teknik ini dan membuat saya geregetan membaca cerita yang melompat-lompat penuh kejutan.
  2. Tokoh utama novel ini adalah wartawan, sehingga saya merasa begitu dekat dengan Nadira dan merasakan setiap gerakannya, kata-katanya, adalah nyata, ada di hadapan saya. Kehidupan jurnalistik yang dijalani Nadira adalaj kehidupan jurnalistik yang saya impikan. Maka saya sangat antusias membaca lembar demi lembar buku ini.
  3. Leila tidak membuat Nadira menjadi tokoh yang dominan dengan menggunakan kata 'AKU' di semua cerita. Kata 'AKU' menyebar di semua sudut buku, bisa menjelma sebagai Nina, Arya, ayah mereka, ibu mereka, bahkan tokoh-tokoh lainnya seperti Tara. Semua tokoh mendapatkan kesempatan menjadi sang 'aku'. Cerita yang sama, dikisahkan oleh sudut pandang orang yang berbeda, menghasilkan kisah yang variatif, tidak monoton.
  4. Melihat koleksi buku yang dibaca Nadira dan koleksi lagu yang didengar Nadira, saya jadi membayangkan kalau Nadira itu Leila. Tapi khayalan saya bisa saja terlalu muluk, sebab, karakter Nadira adalah karakter fiksi. Namun terasa begitu nyata berkat selera buku dan musik yang diselipkan oleh Leila dengan rapi ke dalam cerita. Dari sini saya belajar bagaimana 'memanusiakan' tokoh dalam karya fiksi. Buat dia sedekat mungkin dengan kehidupan, mulai dari hobinya, kesukaannya, emosinya, dll. 
  5. Uniknya, untuk setiap bagian cerita, dipisahkan oleh ilustrasi berupa sketsa yang disesuaikan dengan isi cerita. Hal ini bisa memberi jeda bagi mata saya ketika membaca, dan mungkin hal ini juga dirasakan pembaca lainnya. Sketsa sebagai ilustrasi karya Ario Anindito ini menyegarkan mata saya. 
  6. Kisah favorit saya di buku ini berjudul 'Sebilah Pisau' dan ending cerita berjudul 'At Padder Bay' sebab kedua cerita itu paling sentimentil dalam hal kisah cinta dua insan manusia. Namun, untuk kisah mengharukan bertema ibu-anak, kisah berjudul 'Mencari Seikat Seruni' sanggup membuat mata saya berkacar-kaca. Betapa kecintaan Nadira kepada sang ibu mempu membuatnya menangis di tengah lautan seruni putih yang ditemukannya menjelang pemakaman sang ibu. 
  7. Novel ini memiliki sentuhan-sentuhan yang sangat personal seperti yang tertulis dalam 'Tasbih', Betapa sebuah tasbih mampu menenangkan seseorang bukan hanya karena benda tersebut biasa digunakan zikir, tetapi karena benda itu adalah peninggalan sang ibu.
Intinya, novel ini punya 9 kisah dari tema yang beragam (hubungan keluarga, hubungan percintaan manusia, hubungan saudara, hubungan pekerjaan-kantor), namun sanggup mengaduk-aduk emosi dengan pemilihan kisah yang tepat untuk setiap tema. Dan yang lebih penting, mampu menyatu sebagai satu bagian yang utuh yakni NOVEL, bukan kumpulan cerpen. Leila sukses membuat saya 'Galau' bersama Nadira!

Setelah 'melahap' kumcer Malam Terakhir dan 9 dari Nadira, serta bersemangat menulis reviewnya masing-masing di blog ini, saya jadi ingin sekali membeli novel Pulang, karya Leila yang lain. Feeling saya, Novel Pulang akan menjadi kelanjutan kisah Nadira. Tapi jika bukan begitu ceritanya, saya yakin tidak akan kecewa membeli Pulang. 

Bagi yang sudah baca 'Pulang' tidak perlu memberi tahu isinya apa. Biarkan saya terkejut dan terpacu menamatkan membaca, seperti dua buku Leila lainnya. 



Comments