'Mendekap' Yogyakarta

Sudah lama sebetulnya saya mengunjungi Yogyakarta, tepatnya awal tahun 2013 ini (8-10 Januari 2013) untuk urusan kantor. Ini bukan kali pertama saya berkunjung ke Yogyakarta. Sewaktu remaja dulu, tepatnya saat usia 17 tahun, saya pernah ke Candi Borobudur dan keliling Yogyakarta untuk study tour. Dulu saya tak punya kamera sebagus sekarang (meski sekarang juga apa adanya, tapi hasilnya lebih bagus). Maka saya punya koleksi foto selama bertugas di Yogyakarta, terangkum dalam sets flickr di link berikut:

http://www.flickr.com/photos/rosepr1ncess/sets/72157633011964274/

Saya beruntung dalam liputan kali ini, saya bisa melihat Yogyakarta lengkap. Mulai dari kesenian tradisionalnya, sampai sejarahnya. Dari link foto tadi teman-teman bisa melihat apa saja yang saya lihat selama berada di Yogyakarta. Saya dan rombongan wartawan berada di Yogyakarta selama 3 hari 2 malam. Hari pertama, kami hanya menikmati Yogya di malam hari dengan menelusuri Jln. Malioboro, minum es tape hijau di angkringan dan mengunjungi pasar malam yang mengiringi perayaan Sekaten. Namun sayang, saat perayaan Sekaten digelar, kami sudah kembali ke Jakarta. Hari kedua di Yogyakarta, jadwal kami penuh dengan Festival Kuno Lan Kini yang digelar sejak pagi hingga malam hari. Namun kami menyempatkan diri untuk berbelanja di Pasar Beringharjo pada sore hari di sela liputan. Hari terakhir, pagi hari sebelum chek out, kami mengunjungi wisata sejarah Taman Sari. Berikut rincian kisahnya:

Festival Kuno Lan Kini
Festival Kuno Lan Kini adalah festival yang diadakan oleh PT. Unilever Indonesia untuk meluncurkan produk terbaru: Teh Sari Melati. Arti kata Kuno Lan Kini sendiri adalah perpaduan tradisi dengan kehidupan modern. Jadi, tradisi minum teh kini bisa dilanjutkan dengan cara yang lebih modern dan praktis: dalam bentuk teh celup. Festival ini digelar sejak pagi hari di sepanjang Jln. Malioboro dan berakhir di Benteng Vredeburg, hingga malam hari. Saya mengikuti seluruh rangkaian acara sesuai dengan kewajiban saya sebagai wartawan.

Dalam festival ini, kami para wartawan diharuskan menaiki becak-becak yang sudah disediakan dan di cat warna hijau muda. Inilah kali pertama saya harus ikut parade menyusuri Jln. Malioboro dan ditonton warga Yogyakarta. Di belakang rombongan becak wartawan, ada pemain angklung, pemain kuda lumping, pemain wayang hip-hop, sampai para penari yang mengenakan kostum khas penari Jawa: kemben. Inilah pengalaman tak terlupakan dalam hidup saya: jadi tontonan warga Yogyakarta dan diarak layaknya Puteri Keraton!

Sampai di Benteng Vredeburg, kami mengikuti ritual peresmian launching produk teh itu yang dibuka oleh Kanjeng Ratu Hemas (istri Sri Sultan Hamengku Buwono X) dan dihadiri pula oleh putri bungsu Sri Sultan, GKR Bendara (Jeung Reni) dan suaminya. Acara resmi berlangsung lancar dan khidmat, lalu ditutup dengan konferensi pers di dalam Benteng (saya tidak mau banyak cerita soal hal ini karena tidak terlalu penting).

Pasar Beringharjo
Usai melaksanakan tugas jurnalistik, kami para wartawan menyempatkan diri berbelanja batik di Pasar Beringharjo yang berada di tengah-tengah antara Jln. Malioboro dengan Benteng Vredeburg. Saya membeli blazer batik dan beberapa kain untuk oleh-oleh. Jika ingin mendapatkan batik harga 'bersahabat', pasar Beringharjo bisa jadi tujuan pilihan. Hanya saja harus siap dengan udara yang panas dan kios yang berdempetan. Selain itu, harus bisa bahasa Jawa kalau mau menawar dengan harga lebih 'bersahabat'.

Wayang Hip-Hop dan Katon Bagaskara
Hiburan yang saya tunggu adalah ini. Melihat pertunjukan wayang yang dikolaborasikan dengan musik modern: hip-hop. Orang Yogyakarta sungguh kreatif. Meski wayang kulit digelar dengan bahasa Jawa, tetapi  musik yang digunakan sungguh enak di telinga saya yang sudah terlanjur hidup di zaman modern. Sebagai putri dari seorang berdarah Jawa, saya mengerti sedikit jalan cerita wayang dan ikut tertawa sesekali jika ada yang lucu, entah teman-teman wartawan lain dari Jakarta. Nah, di puncak acara, muncullah Katon Bagaskar dengan lagu-lagu lawasnya yang akrab di telinga saya: Yogyakarta, Lara Hati, Selembuat Awan, dan beberapa lagu hits lainnya yang lancar saya nyanyikan sepanjang Katon bernyanyi. Jiwa saya penuh, membuncah, muncrat. Bahagia saya menderas seiring hujan yang mengguyur Yogyakarta malam itu.

Taman Sari 
Sebetulnya Taman Sari tidak ada dalam jadwal rombongan kami. Tapi karena kami baru chek out jam 12 siang dan tak ada kegiatan apa-apa lagi, maka salah seorang teman wartawan menyarankan untuk jalan-jalan ke Taman Sari. Saya pikir, Taman Sari adalah taman, seperti namanya. ternyata, tempat wisata sejarah. Saya jadi tidak menyesal bangun pagi demi tempat ini.


Taman Sari Yogyakarta atau Taman Sari Keraton Yogyakarta adalah situs bekas taman atau kebun istana Keraton Yogyakarta, yang dapat dibandingkan dengan Kebun Raya Bogor sebagai kebun Istana Bogor. Kebun ini dibangun pada zaman Sultan Hamengku Buwono I (HB I) pada tahun 1758-1765/9. Awalnya, taman yang mendapat sebutan "The Fragrant Garden" ini memiliki luas lebih dari 10 hektare dengan sekitar 57 bangunan baik berupa gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, maupun danau buatan beserta pulau buatan dan lorong bawah air. Kebun yang digunakan secara efektif antara 1765-1812 ini pada mulanya membentang dari barat daya kompleks Kedhaton sampai tenggara kompleks Magangan. Namun saat ini, sisa-sisa bagian Taman Sari yang dapat dilihat hanyalah yang berada di barat daya kompleks Kedhaton saja.

Konon, Taman Sari dibangun di bekas keraton lama, Pesanggrahan Garjitawati, yang didirikan oleh Susuhunan Paku Buwono II sebagai tempat istirahat kereta kuda yang akan pergi ke Imogiri. Sebagai pimpinan proyek pembangunan Taman Sari ditunjuklah Tumenggung Mangundipuro. Seluruh biaya pembangunan ditanggung oleh Bupati MadiunTumenggung Prawirosentiko, beserta seluruh rakyatnya. Oleh karena itu daerah Madiun dibebaskan dari pungutan pajak. Di tengah pembangunan pimpinan proyek diambil alih oleh Pangeran Notokusumo, setelah Mangundipuro mengundurkan diri. Walaupun secara resmi sebagai kebun kerajaan, namun bebrapa bangunan yang ada mengindikasikan Taman Sari berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir jika istana diserang oleh musuh. Konon salah seorang arsitek kebun kerajaan ini adalah seorang Portugis yang lebih dikenal dengan Demang Tegis.

Kompleks Taman Sari setidaknya dapat dibagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama adalah danau buatan yang terletak di sebelah barat. Bagian selanjutnya adalah bangunan yang berada di sebelah selatan danau buatan antara lain Pemandian Umbul Binangun. Bagian ketiga adalah Pasarean Ledok Sari dan Kolam Garjitawati yang terletak di selatan bagian kedua. Bagian terakhir adalah bagian sebelah timur bagian pertama dan kedua dan meluas ke arah timur sampai tenggara kompleks Magangan.
(Sumber: Wikipedia Indonesia)




Taman Sari berada di dekat Keraton Yogyakarya, hanya kurang lebih 15 menit jalan kaki dari Keraton. Dari pintu masuk keraton (tempat pembelian tiket), belok ke kiri ke arah penjual cinderamata. Lurus sampai pertigaan pasar Ngasem, belok ke kiri lagi. Lurus sampai perempatan, lalu belok kanan. Akan ada petunjuk yang menuntun menuju Taman Sari. Karena saya mengenakan bus rombongan, saat itu saya tidak kesulitan karena dari hotel tiba-tiba sampai. Tiket masuk Taman Sari ternyata sangat murah: hanya Rp 3000/orang.

Perasaan saya saat pertama kali datang adalah takjub. Saya seperti berada di 'dunia lain' dengan dimensi waktu yang lain. Baru masuk sudah disambut dengan gerbang berwarna putih dengan ukiran yang khas. Semakin ke dalam, saya semakin melihat jejak sejarah di tempat ini. Saat sampai di sebuah kolam, guide kami mengatakan bahwa kolam itu pernah digunakan oleh Sultan untuk mandi bersama para selirnya.


"Umbul Pasiraman" atau ada yang menyebut dengan "Umbul Binangun" (versi lain "Umbul Winangun") merupakan kolam pemandian bagi Sultan, para istri beliau, serta para putri-putri beliau. Kompleks ini dikelilingi oleh tembok yang tinggi. Untuk sampai ke dalam tempat ini disediakan dua buah gerbang, satu di sisi timur dan satunya di sisi barat. Di dalam gerbang ini terdapat jenjang yang menurun. Di kompleks Umbul Pasiraman terdapat tiga buah kolam yang dihiasi dengan mata air yang berbentuk jamur. Di sekeliling kolam terdapat pot bunga raksasa. Selain kolam juga terdapat bangunan di sisi utara dan di tengah sebelah selatan.
Bangunan di sisi paling utara merupakan tempat istirahat dan berganti pakaian bagi para puteri dan istri (selir).

Di sebelah selatannya terdapat sebuah kolam yang disebut dengan nama "Umbul Muncar". Sebuah jalan mirip dermaga menjadi batas antara kolam ini dengan sebuah kolam di selatannya yang disebut dengan "Blumbang Kuras". Di selatan Blumbang Kuras terdapat bangunan dengan menara di bagian tengahnya. Bangunan sayap barat merupakan tempat berganti pakaian dan sayap timur untuk istirahat Sultan. Menara di bagian tengah konon digunakan Sultan untuk melihat istri dan puterinya yang sedang mandi kemudian yang tubuh telanjangnya paling mengesankan sultan akan di panggil ke menara. Di selatan bangunan tersebut terdapat sebuah kolam yang disebut dengan "Umbul Binangun", sebuah kolam pemandian yang dikhususkan untuk Sultan dan Permaisurinya saja. Pada zamannya, selain Sultan, hanyalah para perempuan yang diizinkan untuk masuk ke kompleks ini. Ini di mungkinkan karena semua perempuan (permaisuri, istri ( selir ) dan para putri sultan) yang masuk ke dalam taman sari ini harus lepas baju (telanjang), sehingga selain perempuan di larang keras oleh sultan untuk masuk ke Taman Sari,
 (Sumber: Wikipedia Indonesia)
Saya menelusuri semua kawasan Taman Sari ini, masuk ke dalam lorong-lorognya dan menikmati perjalanan waktu yang terekam di dalamnya. Saya mendekap Yogyakarta begini dekat:






















Saya tidak menyangka akan mengunjungi tempat setua ini dan sangat bersejarah. Yang saya tahu selama ini tentang Yogyakarta hanyalah Malioboro, Candi Borobudur dan Pantai Parangtritis (yang sudah saya kunjungi sejak 9 tahun lalu). Semua hal tentang Taman Sari ada di link Wikipedia yang tadi saya sertakan di quote-quote tulisan ini. Teman-teman bisa membacanya jika berminat. 

Untuk itu malam ini saya menuliskan pengalaman ini, agar jangan hanya tersimpan di kepala, yang bisa kapan saja lupa, tapi juga terekam dalam tulisan.

Nah, awal Mei 2013 ini saya mendapat tugas mengunjungi Pasar Lama Tangerang. Saya tak menyangka, di tengah pasar yang sudah lebih dulu saya pandang dengan 'underestimate': "yah, liputan di pasar", ternyata, ada bangunan bersejarah yang juga sudah berdiri ratusan tahun. Saya ingin segera share di blog tapi menunggu majalahnya terbit dulu (edisi Juni). Baiklah, sampai jumpa di kisah perjalanan saya selanjutnya :)

Comments