Perjalanan Batin Laura dan Marsha


“Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku.” 
― Paul Theroux

Tahun 2013 ini, saya sudah menonton 2 film Indonesia: Cinta Brontosaurus dan Laura & Marsha. Kedua film yang sama sekali tak pernah terbayangkan akan saya tonton. Film yang pertama, karena saya tidak begitu suka dengan Raditya Dika, film yang kedua, karena saya tidak terlalu suka film drama Indonesia. Tapi akhirnya saya menonton dua film ini juga. Yang pertama, karena diajak nonton oleh seseorang (gratis), dan yang kedua karena diajak nonton juga, tapi oleh redaksi Majalah Grazia. Jadi berhubung gratis, saya mengiyakan! Nyatanya tidak kecewa....



Tapi yang mendorong saya menulis review film Laura dan Marsha bukan semata-mata 'senewen' karena tidak senang dengan Raditya Dika, tetapi karena film Laura dan Marsha lebih menyentuh saya dibanding film Cinta Brontosaurus. Kisah film ini, tentang perjalanan, dan quote yang paling tepat mewakili adalah quote Paul Theroux yang mengawali tulisan ini.

Film ini berkisah tentang Laura (Prisia Nasution), seorang karyawan travel agent yang tak pernah berpikir untuk traveling sejak menjadi single parent. Sedangkan sahabatnya Marsha (Adinia Wirasti), seorang travel writer, terus membujuk Laura untuk bepergian selama 2 minggu ke Eropa. Marsha ingin mengenang 2 tahun kepergian ibunya dengan mengunjungi tempat yang sangat disukai ibunya. 

Singkat cerita, akhirnya Laura menuruti keinginan sahabatnya dan berangkatlah mereka selama 2 minggu ke Eropa, dengan beberapa titik tempat yang wajib dikunjungi keduanya. Namun, konflik satu-persatu muncul hingga akhirnya Laura dan Marsha bertengkar hebat. Dari pertengkaran tersebut terkuaklah masa lalu Marsha dan tujuan terselubung Laura dalam perjalanan ini. 

Film yang berdurasi 113 menit ini sungguh tidak membosankan. Sepanjang film, mata saya disuguhi pemandangan dan pemandangan, seolah-olah saya juga ikut traveling bersama Laura dan Marsha di Eropa. Beberapa point penting yang bisa saya rangkum dari film ini adalah:




  1. Kita akan tahu karakter asli seseorang ketika melakukan traveling bersamanya. Ini tergambar jelas dalam perjalanan Laura dan Marsha. Karakter keduanya begitu menonjol dan berbeda, yang kemudian memunculkan konflik. Film ini jadi sangat 'real' dan tampak tidak mengada-ada. 
  2. Quote Paul Theroux yang saya kutip di awal tulisan, sangat menggambarkan kisah di film ini, sebab, meski melakukan perjalanan berdua, namun Laura dan Marsha memiliki tujuan yang berbeda. Latar belakang mereka memutuskan untuk traveling ke Eropa pun berbeda. Cara pandang mereka terhadap perjalanan ini, berbeda. Itulah, mengapa quote tersebut begitu melekat bagi saya ketika menyimak film ini. Karena saya pernah merasakannya. Meski melakukan perjalanan bersama teman-temna backpacker, kami punya sejarah dan tujuan masing-masing dalam perjalanan tersebut. Dan ini bersifat sangat pribadi, sangat individual. Jangankan yang belum saling kenal seperti kami, dua sahabat dekat seperti Laura dan Marsha pun membuktikannya.
  3. Menurut sutrada film ini, Dinna Jasanti, pengambilan gambar sepanjang syuting dilakukan dengan teknik traveling shoot, artinya tidak ada pengambilan gambar khusus seperti layaknya shooting film. Sepanjang perjalanan yang mereka lalui, itulah yang mereka rekam untuk film. Tentunya hal ini dipersiapkan dengan meninjau lokasi terlebih dahulu sebelum proses syuting dimulai. Teknik pengambilan gambar yang berhasil memanjakan mata saya sepanjang film. 
  4. Dalam film ini ada beberapa tokoh orang Eropa asli yang menurut sutradaranya ada yang 'ditodong' langsung untuk main meski belum pernah main film, ada juga yang melalui proses casting. Kehadiran tokoh-tokoh orang Eropa ini memang sukses membuat suasana film ini jadi 'hidup' dan 'nyata'. Sebab, Laura dan Marsha digambarkan berinteraksi dengan mereka sebagai turis sekaligus teman baru. Dalam hal ini Marsha lebih 'supel' sehingga ia bisa lebih mudah beradaptasi. 
  5. Film ini berhasil mengaduk-aduk emosi saya, mulai dari awal cerita yang datar, lalu masuk ke inti cerita yang penuh kekonyolan, dan klimaks yang penuh konflik, ditutup dengan antiklimaks yang sanggup membuat air mata saya mengalir. Sutradaranya berhasil dalam hal ini. Jika film Indonesia memang harus kalah dari sisi teknologi, baguslah kiranya jika bisa menonjol dari sisi cerita dan kemampuan mengaduk-aduk emosi penonton. Kisah tentang persahabatan, rumah tangga, ibu-anak, suami-istri, digambarkan dengan begitu halus tanpa membuat penonton bosan.
Film ini layak ditonton bagi para perempuan yang memiliki sahabat begitu dekat, ajaklah menonton untuk mempererat persahabatan. Juga layak ditonton oleh perempuan yang telah berkeluarga, baik yang utuh maupun single parent. Intinya film ini memang film tentang perempuan, dengan konflik yang sangat 'perempuan' tetapi temanya sesungguhnya universal: persahabatan, keluarga, dan ... perjalanan. 

Film ini baru ditayangkan untuk masyarakat umum tanggal 30 Mei 2013. Sebagai wartawan, tidak heran kalau saya nonton duluan :) selamat menonton!


Comments