Di Puncak Gunung Pakuwojo Aku Duduk Sendiri dan Merenung*

Di puncak gunung Pakuwojo aku duduk sendiri dan merenung. 

Mencapai puncak bukanlah perkara berhasil menaklukkan gunung melainkan berhasil menaklukkan diri sendiri. Siapa pun yang tak bisa berdamai dengan dirinya sendiri tak akan bisa sampai di atas, menikmati keindahan matahari terbit tanpa sensor. Sebab, akan banyak rintangan yang akan kau tempuh dan jika kau tak bisa berdamai dengan dirimu maka rentetan keluhan akan kau lontarkan sepanjang perjalanan. Kejamnya desir angin pagi, terjalnya bebatuan, tingginya bukit, curamnya lembah, serta tanaman yang mengusik kulitmu. Belum lagi suara-suara hutan yang mengusik perjalananmu.



Di puncak gunung Pakuwojo aku duduk sendiri dan merenung. 

Beginilah hidup mengajarkanku tentang kedewasaan. Jika aku bisa menaklukkan diriku sendiri, maka aku akan berada di puncak kedewasaan dan menjemput indahnya cahaya kehidupan. Tidak ada yang mudah di dunia ini. Bahkan bayi mana pun harus melewati serangkaian proses rumit untuk bisa melihat dunia. Sejak lahir kita sudah diajarkan untuk berjuang dan bertahan hidup. Mengeluh bukanlah pilihan.



Aku menulis ini di atas puncak gunung Pakuwojo, Dieng, Jawa Tengah. Satu minggu setelah kehilangan seseorang yang tak bisa berdamai dengan sisi kanak-kanak dalam diriku. Setiap kali mengingat wajahnya, hatiku bergetar sendu. Aku lalai memaknai hadirnya selama ia masih ada dan setia. Aku lalai menjaga hatinya  dan mengutamakan kepentingan diriku sendiri.

Memang tak ada yang salah dengan menjadi kanak-kanak dalam tubuh orang dewasa. Sebab, dalam pendakian pun kadang jiwa kanak-kanak hadir begitu saja. Aku bisa berteriak kencang, menangis, dan tertawa sesuka hati, seperti kanak lagi. Itulah cara menikmati pendakian. Tetapi sosok kanak dan sosok dewasa itu tetap harus disesuaikan dengan keperluan.

Di puncak gunung Pakuwojo aku duduk sendiri dan merenung.

Pendaki mana pun akan kehilangan momen indah di sekelilingnya jika menghabiskan pendakian dengan mengeluh dan rasa penyesalan. Begitu pun dalam kehidupan ini. Terima saja apa yang ada di depanmu saat ini dan yang akan kau temui nanti. Jika kau terjatuh dalam pendakianmu, segeralah bangkit dan lanjutkan perjalanan. Waktu tak bisa menunggumu yang berhenti untuk menangis. Percayalah di ujung perjalanan akan ada sesuatu yang indah yang bisa kau nikmati. Aku pun memilih melangkah pergi. Mencari jati diri. Melupakan perih. Menjemput matahari.



*) terinpirasi dari prolog novel 
'Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk Sendiri dan Menangis' 
karya Paulo Coelho


Comments

silouman said…
keren....suka potonya