Menjemput Cahaya

Aku menjemput cahaya hingga ke negeri di atas awan. Menahan gigil karena dingin, menerjang gelapnya sepertiga malam terakhir, menahan licin bebatuan, mendaki gagahnya gunung, hanya demi melihat semburat merah pertanda kehidupan. Mereka menyebutnya pagi. Aku ingin jadi manusia pertama yang menyambut matahari.




Sebab di negeriku, cahaya secantik ini bersembunyi di balik pencakar langit. Pagiku selalu pergi terlalu cepat. Tak ada detik yang tersisa. Aku berpindah dari satu ruangan dingin ke ruangan dingin lainnya. Jiwaku beku karena tak pernah diizinkan memaknai kehidupan dengan saksama.



Gunung Pakuwojo, Dieng, Jawa Tengah
 30 Juni 2013 (05.30  WIB)

Comments