Sebab Ia Wanita Karier ....



Seorang wanita karier adalah manusia kuat. Ia tak bisa digoyahkan oleh apapun. Persaingan kerja menuntutnya untuk selalu tampil prima. Tak peduli bagaimana pun kondisi kehidupan personalnya, ia adalah maskot, pembawa nama besar perusahaan tempatnya bekerja….

“Neng, adikmu hamil lagi. Padahal ibu ingin mereka cerai. Malah sekarang hamil lagi. Bagaimana mereka bisa cerai?”

Keluhan-keluhan ibu berantai. Mulai dari adikku yang hamil lagi, harga BBM naik sehingga harga kebutuhan pokok meroket, hingga gaji ayah yang kini tinggal sepuluh persen karena dipotong cicilan utang. Lalu dilanjutkan dengan adik-adik lelaki yang nakal dan selalu membuatnya naik darah.

“Bagaimana ibu bisa bertahan?”

Kalimat pertanyaan itu mengakhiri rentetan keluhan ibu di telepon.

“Sabar, bu… hari ini aku kirim uang. Soal adik, nanti kita bicarakan kalau aku pulang. Aku masih banyak pekerjaan,” ujarku sopan.

Ibu nurut saja. Ditutupnya telepon setelah menasehati agar aku baik-baik di Jakarta. Aku selalu pastikan bahwa diriku baik-baik saja. Dan ibu percaya.

Setelah mengakhiri pembicaraan dengan ibu di telepon, aku dipanggil oleh Pemimpin Redaksi. Ini bukan pertama kali ibu menelepon saat aku berada di kantor.

Banyak hal yang Pemred bicarakan denganku di ruangannya. Banyak hal yang ia bebankan padaku agar media online yang kami kelola bisa berjalan dengan baik. Ia tak mau ada cacat sedikit pun. Dan aku pun bisa pastikan, apa yang dia inginkan akan selalu terwujud.

“Lihat pageview website kita, jauh dari pageview website majalah lain. Saya mau kamu memperbaiki konten agar pageview kita kembali meroket.  Bagaimana pun caranya.”

Aku mengangguk, lalu kembali ke meja kerja. Melanjutkan berbagai pekerjaan yang sudah ‘merengek’ dikerjakan duluan. Masa-masa deadline memang menegangkan bagi wartawan mana pun di dunia ini, tetapi juga mengasyikkan. Kau akan merasakan dilema: hidup segan mati tak mau. Lalu saat semua deadline itu terlewati, kau akan merasakan kelegaan seperti pasangan baru menikah yang kemudian menikmati puncak ‘surga dunia’. Aku belum pernah menikah tapi tahu bagaimana rasanya.


***

Seorang wanita karier adalah manusia kuat. Ia tak bisa digoyahkan oleh apapun. Persaingan kerja menuntutnya untuk selalu tampil prima. Tak peduli bagaimana pun kondisi kehidupan personalnya, ia adalah maskot, pembawa nama besar perusahaan tempatnya bekerja….

“Kamu yakin tak ingin kembali?” pertanyaan itu membuatku tampak bodoh, tapi aku tetap menanyakannya.

“Aku capek ngurus kamu. Kamu itu egois. Mementingkan diri kamu sendiri. Semua harus nurut apa kata kamu. Aku ga bisa terus-terusan kayak gini.”

Kemudian kata-kata alasan itu terus mengalir, hingga bermuara pada satu kalimat:

“Kita jalani saja hidup kita masing-masing.”

“Kamu tidak memberi kesempatan aku untuk berubah?”

“Buang-buang waktu. Orang kayak kamu itu ga akan bisa berubah.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Mantanku dulu kayak kamu. Dua tahun aku kasih kesempatan. Tapi begitu-begitu saja. Aku ga mau buang waktu lagi.”

“Tapi itu kan mantan kamu. Jangan samakan dengan aku dong.”

“Kalau kamu mau berubah, berubah saja sendiri. Itu urusan kamu. Sudah bukan urusanku. Toh kalau kamu jadi lebih baik itu untuk kebaikanmu sendiri.”

Dia pergi…

Padahal hati ini tak lagi terbagi. Padahal harga diri sudah diberi.

Dia tetap pergi …


***
Seorang wanita karier adalah manusia kuat. Ia tak bisa digoyahkan oleh apapun. Persaingan kerja menuntutnya untuk selalu tampil prima. Tak peduli bagaimana pun kondisi kehidupan personalnya, ia adalah maskot, pembawa nama besar perusahaan tempatnya bekerja….

Termasuk saat menghadapi kenyataan adiknya meninggal karena keguguran.

“Padahal ibu sudah berusaha menjaga perasaan adikmu. Tapi dia selalu bertengkar dengan ayah. Dia tidak mau cerai, sedangkan ayah sudah tidak sudi melihat wajah menantu yang pengangguran dan suka selingkuh itu. Ibu di posisi yang sulit.”

Ibu menangis di bahuku. Menangis sejadinya. Aku mengusap-usap bahu kanannya, memberi kekuatan untuknya, sekaligus untuk diriku sendiri.

Aku sangat mencintai adik perempuanku. Aku tahu calon suaminya bukan lelaki baik. Tapi atas nama cinta, mereka akhirnya menikah. Sejak pernikahannya, aku memang jarang bertemu dengan adikku karena kesibukan menyita waktuku di Jakarta. Padahal, aku tahu adikku itu tersiksa dengan pernikahannya. Suaminya terbukti selingkuh ke sekian kali, tetapi ia bertahan karena alasan anak. Ya, dia tak mau jadi janda di usia muda, terlebih sedang mengandung anak ke-dua.

Tapi apa pula untungnya mempertahankan seorang lelaki pengangguran yang suka selingkuh? Kebanggaan apa yang sedang diperjuangkan adikku? Aku merasa gagal sebagai kakak. Aku merasa gagal menjadi relawan di sebuah LSM yang memperjuangkan hak-hak perempuan. Jika adik sendiri saja tak selamat, bagaimana dengan perempuan lain di luar sana?


***
Seorang wanita karier adalah manusia kuat. Ia tak bisa digoyahkan oleh apapun. Persaingan kerja menuntutnya untuk selalu tampil prima. Tak peduli bagaimana pun kondisi kehidupan personalnya, ia adalah maskot, pembawa nama besar perusahaan tempatnya bekerja….

Sejak kematian adikku, ibu menjadi murung. Hutang keluarga semakin menumpuk sedangkan gaji ayah hanya segitu-gitunya setiap bulan. Ibu tak lagi bisa bekerja, berjualan, sebab kondisi mentalnya makin terpuruk. Ibu masih belum bisa menerima kepergian adik. Aku tak percaya, depresi bisa sedemikian merusak manusia.

Aku ingin membawa ibu ke psikolog tetapi beliau menolak. Kata ibu, yang ia butuhkan hanya berhenti sejenak. Ia hanya ingin ‘menikmati’ kehilangannya. Ia hanya ingin mengenang adik dengan caranya.
Tapi hidup harus terus berjalan. Anak pertama adikku masih di tangan suami adikku. Aku harus memperjuangkan agar anak itu bisa berada di pihak keluarga kami. Namun aku tak bisa mengurus status hukumnya karena tak bisa cuti lama-lama. Akhirnya anak itu tetap dibawa ayahnya, yang menurut kabar, kini telah bekerja di pusat perbelanjaan sebagai security.

Ibu semakin terpuruk karena harus jauh dari cucunya hingga entah kapan.



***
Seorang wanita karier adalah manusia kuat. Ia tak bisa digoyahkan oleh apapun. Persaingan kerja menuntutnya untuk selalu tampil prima. Tak peduli bagaimana pun kondisi kehidupan personalnya, ia adalah maskot, pembawa nama besar perusahaan tempatnya bekerja….

“Mengapa pageview website kita makin turun? Kamu tidak menjaga kualitas konten kita ya? Apa saja sih kerjaan kamu setiap hari? Apa susahnya?”
           
Pemred memaki. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk mengekspresikan kekecewaannya. Aku hanya menunduk lalu meminta maaf lalu kembali ke meja kerja dan melanjutkan semua pekerjaan yang mulai ‘merengek’ minta disegerakan untuk dikerjakan. Sementara ibu juga merengek, menelepon di jam kerja, meminta perhatian.

“Ada apa lagi, Bu?”

“Jadi telepon ibu menganggu?”

“Maaf, ini jam kerja. Jadi aku ga bisa bicara lama-lama. Ada apa, Bu?”

“Tak perlu lah. Tutup saja teleponnya.”

Ibu marah. Entah mengapa ia begitu sensitif. Biasanya memang sensitif, tapi kali ini menurutku keterlaluan.

Aku memutuskan untuk balik meneleponnya setelah jam kerja usai.

“Ayah, apa Ibu ada di rumah?” tanyaku saat ayah mengangkat telepon.

“Ibumu masuk rumah sakit.”

“Kenapa?”

Stroke.”

Seperti ada petir menggelegar di kepalaku. Seketika itu juga aku menelepon Pemred dan meminta izin untuk pulang kampung. Tapi jawaban Pemred sungguh mengecewakan.

“Besok deadline terakhir. Majalah mau naik cetak. Kalau kamu tidak masuk, siapa mau mengerjakan pekerjaanmu?”


***
Seorang wanita karier adalah manusia kuat. Ia tak bisa digoyahkan oleh apapun. Persaingan kerja menuntutnya untuk selalu tampil prima. Tak peduli bagaimana pun kondisi kehidupan personalnya, ia adalah maskot, pembawa nama besar perusahaan tempatnya bekerja….

Aku batal pulang dan tetap duduk di meja kerja. Menyelesaikan semua tulisan hingga majalah siap naik cetak. Telepon bordering tepat saat aku selesai mengetik kalimat terakhir.

“Neng, ibu meninggal.” aku mendengar jelas pernyataan itu dari mulut ayah di seberang telepon.
Tanpa bicara kepada atasan mana pun, aku memutuskan pulang. Aku meninggalkan Jakarta hari itu juga, bergegas menuju kampung, tempat ibu dan adikku meninggal tanpa kehadiranku.

***
Seorang wanita karier adalah manusia kuat. Ia tak bisa digoyahkan oleh apapun. Persaingan kerja menuntutnya untuk selalu tampil prima. Tak peduli bagaimana pun kondisi kehidupan personalnya, ia adalah maskot, pembawa nama besar perusahaan tempatnya bekerja….

Ia masih di depan komputer di meja kerjanya. Melanjutkan pekerjaan, merampungkan deadline, sebab ia harus tetap bekerja, untuk membantu sang ayah membayar hutang-hutang keluarga. Sebab ibunya, sang wanita tegar yang selama ini membantu ekonomi keluarga, sudah tiada.

Ia tak boleh berlama-lama menangisi kematian sang adik dan sang ibunda, juga kepergian kekasihnya. Sebab ia wanita karier yang tegar. Sebab ia tangguh, tak tergoyahkan oleh apa pun.

Meski sesekali ia harus mengusap air mata yang muncul tak tahu diri. Air mata yang mengalir malu-malu dari sudut mata, meski ia sedang sibuk bekerja. Sebisa mungkin ia harus memusnahkan air mata itu, yang membuatnya menjadi tidak cantik, tidak segar, tidak elegan.

Sebab dia wanita karier …

Seorang wanita karier adalah manusia kuat. Ia tak bisa digoyahkan oleh apapun. Persaingan kerja menuntutnya untuk selalu tampil prima. Tak peduli bagaimana pun kondisi kehidupan personalnya, ia adalah maskot, pembawa nama besar perusahaan tempatnya bekerja….







 Gedung Femina, 24 Juli 2013, 13.15 WIB

Comments