#5BukuDalamHidupku: 'Gelap'nya Hidup Sang Jurnalis Perempuan


Kami menemui Ibu yang sudah membiru. Wajah yang membiru, bibir yang biru keunguan yang mengeluarkan busa putih. Di atas lantai yang licin itu, aku tak yakin apakah Ibu terlihat lega karena bisa mengatupkan matanya, atau karena dia kedinginan. Kami menemukan sebuah sosok yang telentang bukan karena sakit atau terjatuh, tetapi karena dia memutuskan: hari ini, aku bisa mati. Mungkin ibu tak pernah bahagia.

Inilah pembuka kisah hidup seorang jurnalis perempuan bernama Nadira.

Dia meluncur di hadapanku sebagai sosok yang memasuki jurnalisme dengan penuh daya hidup. Dia perempuan muda yang segar; berambut ikal panjang  (yang agak jarang disisir, tapi selalu cukup rapi untuk digerai hingga menyentuh bahunya); malas berdandan seperti lazimnya wartawan perempuan lainnya di dunia media berita (kecuali seulas bedak tipis dan polesan gincu yang samar-samar, nyaris berwarna seperti bibirnya). Hari pertama di Majalah Tera, Nadira mengenakan jins dan kemeja putih. Dia menyandang sebuah ransel dari bahan jins yang sudah memudar yang penuh dengan buku-buku. Mungkin Nadira mengira Majalah Tera adalah sebuah kampus. Tetapi sejak hari pertama kedatangannya, dia sudah menjadi bahan pembicaraan. Aku rasa karena dia sudah dikenal sebagai penulis. Atau bisa juga karena Nadira sangat ekonomis dengan kata-kata sehingga dia memilih untuk membaca saja daripada berbincang dengan rekan-rekannya. 

Nadira kelihatan lebih sibuk dengan tugasnya, dengan tantangannya mengejar Menteri Sudomo dalam kasus Petisi 50 dan mengejar beberapa narapidana dalam rubrik kriminalitas. Pada saat yang agak luang, Nadira akan tenggelam dengan buku-buku yang dibawanya, dan  meladeni satu-dua pertanyaan atau komentar rekannya. Tetapi kesanku, dia bukan perempuan yang gemar bersosialisasi. Tepatnya, dia bukan orang yang senang berada di dalam rombongan. Buktinya jika dia sedang berbincang berdua saja dengan Tara atau dengan Andara, dia tidak kikuk. Tetapi begitu dia berada dalam sebuah kelompok, matanya terlihat redup, dan perlahan dia akan melipir keluar rombongan, dan mengambil buku dari sakunya, lalu tenggelam sendiri dalam dunianya.

Kematian ibunya yang mendadak telah membuat Nadira begitu tua. Sejak penguburan ibunya setahun silam, lingkaran hitam di bawah kedua matanya tak pernah hilang. Dan sejak kematian itu pula, Nadira memandang segala sesuatu di matanya tanpa warna. Semuanya tampak kusam dan kelabu. Dia tidur, bangun, dan merenung di kolong meja kerjanya.  Setiap hari. Dia hanya pulang sesekali menjenguk ayahnya, tidur semalam dua malam di rumah, untuk kembali lagi merengsek di kolong meja itu. 


Saya jatuh cinta berkali-kali kepada kisah hidup Nadira. Bukan hanya karena kelihaian penulisnya menggabungkan 9 cerita pendek menjadi sebuah kesatuan (kalau boleh disebut novel?), tapi juga karena tokoh utamanya adalah seorang jurnalis, perempuan pula. Membaca karya sastra ini, saya langsung dapat mengimajinasikan wartawan, ruang redaksi, rapat redaksi, deadline, narasumber penting, berita, isu besar, semua hal berada di sekeliling saya selama hampir tiga tahun. Dunia yang saya cintai: jurnalistik.

Saat akan memilih buku terakhir untuk malam terakhir #5BukuDalamHidupku, saya akhirnya memilih buku ini. Sebab, ini novel, fiksi, tapi berkisah tentang kehidupan seorang jurnalis perempuan. Saya baru sadar telah menemukan sebuah paket kombo, paket komplit, dalam sebuah buku. Seingat saya, inilah novel pertama tentang kehidupan seorang jurnalis yang saya baca. Dua dunia yang saya cintai, saya nikmati betul dalam satu novel ini. Meski tokohnya fiksi, namun peristiwa-peritiwa yang dialami Nadira, sang tokoh utama, adalah peristiwa nyata. Mungkin karena penulisnya, Leila S. Chudori adalah seorang jurnalis Tempo, maka referensi yang dimilikinya sangat mumpuni.

Sebetulnya saya sudah pernah menuliskan review tentang buku ini di blog saya. Tapi karena saya jatuh cinta pada novel ini berkali-kali, maka menuliskan review berkali-kali dengan angle yang berbeda tentu bukan suatu yang berlebihan.

Nadira adalah sosok yang berkelebat dalam hidup saya selama 20 tahun terakhir. Dia sosok yang tidur di bawah meja kerja dan melalui ruang membawa segala luka dan rasa pedih karena kehilangan, pengkhianatan, dan kesendiriain. Tetapi ini bukan kisah muram kematian. Ini adalah keinginan seseorang untuk bertahan hidup (Leila S. Chudori, sang penulis 9 dari Nadira, dalam kata pengantar). 


 Judul : 9 dari Nadira
karya: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia.
Jumlah halaman: 267


Ya, kisah Nadira memang gelap, sangat gelap. Isinya penuh luka, penuh duka, tapi tidak mendayu-dayu cengeng. Saya jadi bisa merasakan bagaimana seorang jurnalis yang harus profesional menjalankan tugas meski kehidupan pribadinya sedang hancur-hancurnya. Saya pernah ada di posisi itu.

Membaca ulang buku ini, meski berkali-kali, tetap tak akan pernah menghilangkan keharuan saya akan perasaan kehilangan, kesakitan akan pengkhianatan, dan bagaimana semua itu harus dihadapi dalam hiruk pikuk jurnalistik yang menuntut seorang jurnalis bekerja profesional, apapun masalah pribadi yang dihadapinya.

Setiap kali membaca ulang buku ini, saya PULANG ke dalam diri saya sendiri. 





Comments

damar .yanti said…
salam kenal ya mbak ,,, penggemar baca tulis juga nih
Tenni Purwanti said…
hai, salam kenal juga. Terima kasih sudah mampir :)