Cinta 24 Jam



"Mengapakah kesendirian selalu terasa mengerikan? Bukankah kita lahir dan mati seorang diri? Apakah karena kesendirian mengingatkan bahwa kita pun tak pernah memiliki diri kita sendiri? Karena ada yang lebih berhak ..." - halaman 157. 
"Apakah yang tak tertanggungkan dari cinta yang tak termiliki? Bukan hanya rindu yang tak tertebus waktu, tapi juga derita yang membuat tubuh makin keropos," - halaman 113. 
"Pada akhirnya ia sendiri terkagum-kagum melihat bagaimana kepalsuan bisa terlihat begitu mengagumkan," - halaman 129.
"Kita selalu bersembunyi, dari wajah kita sendiri. Kita membutuhkan topeng, karena dunia hanya memenangkan dusta," - halaman 147.
"Mengapakah kita diberi mimpi? Agar kita percaya bahwa suatu saat hidup kita akan menjadi lebih baik? Karena itu kita mencoba bertahan, meskipun hidup jauh lebih sulit dari yang dijalani," - halaman 93.



Cinta 24 Jam (167 halaman)
Karya: Andrei Aksana
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama


Lagi-lagi saya membeli buku metropop karena sudah diobral murah :D dan lagi-lagi saya tidak salah ambil. Metropop kali ini cukup mampu menendang saya seperti metropop sebelumnya yang saya baca: so real/surreal. 

Andrei Aksana punya keunggulan dalam puisi-puisi yang ia selipkan di setiap narasi. Tapi tak hanya itu, novel ini unik sebab menceritakan kisah seseorang hanya sepanjang 24 jam hidupnya, tetapi merupakan hubungan sebab-akibat dengan masa lalu dan masa kininya. Twist cerita dapat banget, sehingga saya puas membacanya sampai akhir. Dan sekali lagi, metropop ini pun saya tuntaskan hanya dalam sekali duduk. 

Buku yang menarik, menampar sebagian kita tentang arti kebahagiaan, hantu bernama masa lalu, dan ketidakpastian bernama masa depan. Layak dibaca orang-orang urban, sebagai refleksi diri.







Comments