Kisah Pelayan Kulit Hitam Paling Setia


Film berdurasi 132 menit ini berhasil mengaduk-aduk perasaan saya. Tak cuma bercerita tentang sejarah Amerika, film ini juga punya sentuhan emosional yang kuat. Tak berlebihan rasanya saya menunggu kehadiran film ini berbulan-bulan. 

Film dimulai dengan adegan masa kecil tokoh utama, Cecil Gaines (diperankan Forest Whitaker), saat ayahnya meninggal karena ditembak warga kulit putih Amerika. Sebelumnya, sang ibu diperlakukan semena-mena oleh orang yang sama. Tapi rasa sakit hati Cecil kepada warga kulit putih tidak lantas membuatnya dendam dan bertindak anarkistis. Jalan hidup justru membawanya menjadi kepala pelayan Gedung Putih hingga masa kepemimpinan 8 Presiden di AS. Ia mengabdi selama 20 tahun di Gedung Putih. Padahal, 8 Presiden yang menjadi atasannya semuanya kulit putih. 

Kebalikan dengan Cecil, anak pertamanya justru tumbuh menjadi seorang aktivis gerakan kaum kulit hitam yang memperjuangkan hak-hak hidup warga kulit hitam. Jika sang ayah berjuang dengan jalan yang santun, sang putra pertama justru berjuang dengan cara anarkistis.





Yang membuat saya sedih adalah, dan justru karena ini kisah nyata: Cecil yang menjadi orang terpercaya di Gedung Putih justru mengundurkan diri sesaat sebelum Barack Obama terpilih. Memang karena kesehatannya, tapi ia bahkan tidak sempat mengabdi kepada Presiden AS pertama yang berkulit hitam tersebut.

Pesan moral yang bisa saya ambil dari film ini adalah:

  1. Setiap orang perlu memperjuangkan haknya. Tetapi memperjuangkan hak dengan santun dan bermartabat, tidak semua orang bisa. Contohnya anak Cecil yang memilih menjadi demonstran garis keras yang menentang pemerintah dengan cara anarkistis. Sedangkan sang ayah memilih menjadi kepala pelayan yang setia, sebagai satu-satunya cara dia mengabdi kepada negara, meski negara tak pernah berpihak kepadanya dan kaumnya. Akhirnya para Presiden AS pun mengagumi sikapnya dan mempertimbangkan hak-hak kaumnya (kulit hitam).
  2. Bahwa jika kita mencintai sebuah negara, mengabdilah sepenuh hati, meski hanya sebagai kepala pelayan. Sebab sekecil apapun peran kita, jika kita menjalaninya sungguh-sungguh, maka suatu ketika kita akan tahu bahwa kita berdampak besar pada tempat dimana kita bekerja, bahkan untuk negara. 
  3. Saya jadi berkaca soal menjadi manusia yang bersungguh-sungguh dalam bekerja. Kisah Cecil ini 'menampar' saya yang selama ini masih setengah-setengah dalam mendalami sesuatu. Sedangkan Cecil, meski hanya sebagai pelayan, tapi ia menguasai pekerjaannya 100%, tekun, mau belajar, bekerja rapi dan tuntas, punya attitude yang baik meski kehidupannya tak selalu baik. Seumur hidupnya, ia selalu melayani dengan hati. Saya belum tentu bisa seperti itu. 

Pokoknya film ini memberi kepuasan yang sama besar dengan ketika saya menonton film The Iron Lady. Kebutuhan otak saya akan sejarah terpenuhi dengan cara yang fun (menonton di bioskop), ditambah kepuasan batin karena ceritanya yang menyentuh sisi emosional saya karena ada hubungannya dengan konflik keluarga, masalah ras, persamaan hak. Semuanya berpadu apik dalam konflik politik yang menjadi sejarah AS. 

Edukatif, menghibur, sekaligus mengharukan. Terlebih karena ada Oprah Winfrey yang sukses memerankan tokoh Gloria (istri Cecil) dengan penghayatan yang optimal. Film ini layak jadi tontonan keluarga dan warga negara manapun, terutama AS, untuk mengajarkan kira tentang makna menjadi negarawan yang hakiki. 




Comments