#5BukuDalamHidupku: Mewawancara dan Diberi Buku Oleh Irshad Manji

Saya seorang jurnalis. Sebelum menulis panjang lebar, saya ingin mengingatkan pembaca, bahwa apapun yang saya tulis disini, tidak mewakili media tempat saya bekerja. Apa yang saya tulis ini adalah opini pribadi saya, yang tak mungkin saya tulis di media massa.

Irshad Manji. Nama yang asing bagi saya. Saya tidak tahu nama itu sampai timeline Twitter saya ramai pada Jumat (4/5/2012) malam karena diskusi bukunya di Salihara dibubarkan ormas yang mengaku Front Pembela Islam (FPI). Saya pun mengikuti pemberitaan dari media tempat saya bekerja. Diskusi buku kedua kalinya di kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ternyata berlangsung tertib keesokan harinya.
Saya tidak menyangka pada Senin (7/5/2012), saya malah mendapat kesempatan untuk bertemu wanita asal Kanada ini secara langsung. Tanpa harus menjelaskan kronologi penugasan dari kantor, singkat cerita, siang itu saya pun mendatangi hotel tempat Irshad menginap. Tidak ada pengamanan khusus, hanya pengamanan standar dari hotel.
Saya pun bertemu dengan perwakilan dari penerbit Indonesia yang menerbitkan terjemahan buku Irshad : “Allah, Liberty, and Love” serta seorang asisten perempuan bernama Emily. Saya diajak ke sebuah kamar (saya pikir tadinya wawancara akan dilakukan di ruang meeting).


Meski sebelum wawancara, saya sudah mendengar dan membaca kabar bahwa Irshad seorang lesbian, namun tak ada ketakutan dalam diri saya ketika Emily menutup pintu kamar dan membiarkan saya dan Irshad hanya berdua saja di dalam kamar itu.


Wawancara hanya berlangsung selama kurang lebih 30 menit. Hasil wawancara sudah dimuat di media saya dan tidak akan saya tuliskan di sini. Yang akan saya tulis disini adalah apa-apa yang tidak bisa saya tulis di media saya.
Kesan pertama bertemu Irshad Manji adalah : ia orang yang sangat ramah. Ia menyambut saya dengan hangat dan mempersilakan saya duduk dan menanyakan apakah saya mau dipesankan minuman dingin.
Kesan kedua : pelafalan bahasa Inggrisnya sangat jelas, sehingga saya tidak kesulitan memahami kata-katanya. Irshad lahir di Uganda, dari seorang ayah India dan Ibu Egyptian. Sejak usia empat tahun ia pindah ke Kanada. Mungkin inilah yang membuat bahasa Inggrisnya sangat jelas dan mudah dipahami dalam percakapan. Ini modal baginya untuk bisa mengemukakan pendapat di kalangan internasional. Bayangkan kalau ia hanya bisa bahasa India atau bahasa ibunya.
Wawancara pun berjalan. Di tengah wawancara, ia bertanya apakah saya sudah membaca bukunya versi Bahasa Indonesia. Saya bilang belum. Irshad pun meminta Emily membawakan buku “Allah, Liberty, and Love” untuk saya usai wawancara nanti. Seperti janjinya, usai wawancara, Emily masuk kamar dan membawakan buku itu, yang sudah dibungkus rapi.
Beberapa hari ini saya coba membaca bukunya, dan mencocokkan kata-katanya dalam wawancara, dengan isi buku itu. Berikut adalah sedikit ulasan saya tentang buku ini :

judul buku: Allah, Liberty, and Love (terjemahan)
Penulis: Irshad Manji
Tebal: 351 halaman




Buku dibuka dengan catatan penulis, yang menjelaskan tentang Tuhan, Kebebasan, dan Cinta, sesuai dengan judul bukunya. Juga alasan mengapa buku itu ditulis. Berikut petikan yang saya suka :
Melalui keyakinanku akan kapasitas kreatif setiap setiap individu, aku berharap dapat berbicara dengan penuh hormat kepada mereka yang beragama dan tidak beragama. Bagaimana kau tahu Tuhan itu ada? Aku tidak tahu, tapi aku meyakininya.
Lalu, buku dilanjutkan dengan Kata Pengantar berjudul ‘Dari Amarah Menuju Aspirasi’. Setelah itu, bab demi bab pun hadir, menjamu pembaca dengan berbagai literatur, pengalaman, bahkan sejarah yang diramu Irshad dengan apik. Gagasan utama dari bukunya adalah tentang Ijtihad.
Ijtihad. Kata ini berasal dari akar yang sama dengan kata jihad (berjuang) , tapi tidak seperti jihad (berjuang) yang penuh kekerasan, ijtihad terkait dengan perjuangan untuk memahami dunia kita dengan menggunakan pikiran.
Mengapa Irshad menekankan gagasan Ijtihad di dalam bukunya? Karena ia berpacu pada Al Qur’an Surah 13 ayat 11 :
Tuhan tidak mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri
Usai wawancara, Irshad sempat bertanya pada saya, apakah masyarakat Indonesia mendukung FPI? Saya bilang, menurut pendapat pribadi saya, tidak. Lalu Irshad bertanya lagi : lalu mengapa takut kepada FPI?
Ya, pertanyaan Irshad cukup menggugah pemikiran saya. Mengapa kita harus takut pada FPI? Allah tak akan mengubah Indonesia jika Indonesia tidak mengubah keadaan dimana kebebasan berpendapat masih dikekang oleh tekanan ormas.
Saya memang baru mengenal Irshad Manji. Saya memang baru membaca bukunya. Saya menulis ini bukan untuk menunjukkan dukungan karena telah berbincang langsung dengannya dan diberi buku. Di luar kenyataan apakah ia lesbian atau tidak, saya mengapresiasi bukunya sebagai kebebasannya untuk mengemukakan pendapat melalui tulisan. Bukankah UUD 45 pasal 28 telah menjamin kebebasan itu? Dan siapapun berhak untuk setuju atau tidak setuju dengan pemikirannya. Ia sendiripun mengungkapkan hal itu dalam wawancara.
Jadi, mumpung ia masih di Indonesia, bukankah lebih baik diskusi bukunya tidak dicegah dimana-mana? Bukankah lebih baik ikut berdiskusi dengannya, bertanya tentang pemikirannya, tentang pemahamannya terhadap Islam? Saya rasa ia tak akan keberatan jika didebat, apalagi kalau sekadar diskusi santai.
Buku “Allah, Liberty, and Love” adalah hasil diskusinya dengan orang dari beragam latar belakang agama, negara, profesi, dan pengalaman hidup, ditambah dengan beragam literatur. Di akhir buku, Irshad menyertakan bahan bacaan (sebanyak 55 buku) yang bisa dibaca sebagai pendamping buku yang ditulisnya. Ia memancing pembaca untuk cerdas menyikapi bukunya dengan membaca literatur lain yang juga ia baca dan telaah selama ini.

Selamat menyelami Irshad Manji …


Tulisan di atas memang pernah saya posting di akun kompasiana saya, di link berikut: 

Saya sempat menariknya dari kompasiana, dan hanya menyimpan tulisan ini sebagai draft karena tak kuat membaca perang komentar di bawahnya. Tulisan itu dimuat di Headline, dibaca ribuan orang, dikomentari puluhan orang. Saya tak peduli. Saya menyembunyikannya sebagai draft setelah beberapa jam jadi perbincangan 'panas'. Padahal, tulisan itu diminta langsung oleh penanggung jawab Kompasiana, mas Iskandar Zulkarnaer (mas Isjet) sesaat setelah saya mewawancara Irshad dan beritanya tayang di Kompas.com. Mas Isjet merasa kompasianer perlu tahu sentuhan personal dari saya soal pertemuan itu. Bukan hanya dari berita yang sudah dimuat di link berikut :

http://internasional.kompas.com/read/2012/05/07/21225469/Irshad.Manji.Buku.Saya.Bukan.tentang.Gay.dan.Lesbian
(seingat saya, komentar pembaca di kompas.com tidak kalah sengit dengan yang di kompasiana, tapi di link yang saya share di atas, semua komentarnya hilang. Apakah dihapus oleh admin?)



Bagaimana mungkin buku ini tidak bersejarah dalam hidup saya? Saya tidak kenal sebelumnya sama Irshad Manji. Dan meski muslim, saya juga tidak sebegitu radikalnya mendukung atau menolak Irshad Manji. Tapi tiba-tiba saya diberi kepercayaan untuk mewawancara perempuan fenomenal ini, dan menuliskan (tidak hanya hasil wawancara) tapi juga pengalaman personal saya. Dalam satu hari, tiba-tiba saya menjadi pusat perhatian. Ah, rupanya saya belum siap menjadi orang terkenal saat itu :)







Comments