#5BukuDalamHidupku: Recto Verso, 'Warisan' Sang Mantan

Sebetulnya buku terbaik yang pernah saya baca menurut saya bukan buku ini, tapi Supernova Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Meski penulisnya sama, tetapi menurut saya, Supernova KPBJ punya kesempurnaannya sendiri. Hanya saja, karena saya mengikuti sebuah proyek menulis #5BukuDalamHidupku, saya rasa buku pertama yang perlu saya bahas adalah RECTO VERSO.


Judul Buku: Recto Verso
Penulis: Dewi 'Dee' Lestari
jumlah halaman: 154
Waktu dibelikan mantan, masih diterbitkan Goodfaith Production, 
tahun ini diterbitkan ulang oleh Bentang Pustaka




Buku dan CD Recto Verso pada zamannya adalah buku yang saya idam-idamkan karena saya resmi jadi penggemar Dewi Lestari sejak baca buku Supernova KPBJ. Dan buku ini akhirnya dihadiahkan oleh mantan pacar saya (dulu masih pacar) sebagai kado valentine. Siapa yang tak kegirangan?

Ada 11 kisah dalam buku ini (jika tak layak disebut Cerpen), namun ada beberapa yang sangat berbekas di hati saya karena mengingatkan saya pada si pemberi buku ini. Jadi, mantan saya itu saat kami pertama kali jadian, beberapa bulan pertama, dia adalah tipikal lelaki yang sangat cuek dan seperti menunjukkan ketidak tertarikan kepada kekasihnya sendiri. Sedangkan saya, menyayanginya sepenuh hati. Untuk itulah saya sering menyindirnya dengan memutar lagu Malaikat Juga Tahu di mobilnya, agar ia tahu isi hati saya.
Namun kasih ini, silahkan kau adu ... Malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya ...
Lirik itu saya nyanyikan keras-keras setiap kali dia menjemput saya. Akhirnya dia malah menyukai lagu itu dan mungkin pelan-pelan lagu itu juga mempengaruhi sikapnya kepada saya. Kami bisa menjadi pasangan yang lebih 'dekat' dan dia malah menyarankan agar saya juga membuat kumpulan cerpen seperti Dewi Lestari. Sarannya: "Daripada novel ga selesai-selesai, coba bikin cerpen deh, yang banyak. Terus dikumpulin, nanti diterbitkan kayak gini," katanya sambil menunjuk buku bercover hijau itu. Saya pun mulai menulis cerpen, seperti sarannya. Pelan tapi pasti, cerpen-cerpen itu mulai terkumpul. Padahal sebelumnya saya tidak bisa menulis cerpen, saya lebih tertarik menulis novel. 

Recto Verso merupakan karya Dee yang paling unik karena berisi 11 kisah dengan 11 lagu pengiringnya. Bisa didengarkan masing-masing maupun bersamaan. Saya pribadi lebih suka membaca kisah-kisah di dalam buku ini sambil memutar CD-nya, terutama di malam hari menjelang larut. 

Nah, saat saya dan pacar saya itu akhirnya putus, kisah dan lagu yang berjudul PELUK akhirnya sukses menyayat hati saya. 


Lepaskanku ... segenap hati dan jiwamu ... dan tak layak kau didera ....

Sukses, sukses sekali membuat saya menangis tersedu. Bahkan hingga saat ini, setiap kali mendengar lagu itu dan membaca cerpennya dengan judul yang sama, saya akan mengingat mantan saya itu. Mengingat sarannya agar saya menerbitkan kumpulan cerpen, dan tak berhenti menulis.

Satu tahun setelah kami putus, saya memang menerbitkan kumpulan cerpen saya, judulnya LUKA. Meski saya menerbitkannya secara selfpublishing di nulisbuku.com, namun saya bangga karena saya sudah menuntaskan janji saya kepada mantan saya itu. Saya menerbitkan buku kumpulan cerpen! Dan hingga kini saya tidak berhenti menulis. Tidak berhenti bermimpi suatu hari kelak saya akan bisa seperti Dewi Lestari.

Buku ini, selain punya kenangan teramat pribadi dengan saya, juga sekaligus menjadi tempat saya belajar untuk menulis cerpen yang sederhana tapi 'mengena'. Tak perlu hal yang rumit untuk bisa menyentuh hati seseorang lewat karya fiksi. Cukup ceritakan hal-hal sehari-hari, yang mungkin pernah dialami oleh pembaca. Contohnya cerpen 'Selamat Ulang Tahun' yang hanya menceritakan bagaimana kisah seseorang yang tidak bisa mengucapkan selamat ulang tahun tepat waktu. Pergulatan batin seseorang yang ingin segera bertemu orang yang berulang tahun sungguh mengaduk emosi. Dan tentu saja cerpen 'PELUK' tentang perpisahan sepasang kekasih yang sama-sama sadar bahwa perpisahan adalah yang terbaik bagi kedua belah pihak.  Membuat pembaca mengerti, jika sebuah hubungan sudah menodai kebahagiaan kedua belah pihak, mengapa perpisahan harus jadi sesuatu yang mengerikan? 

Seperti saya dan mantan yang akhirnya melanjutkan kehidupan kami masing-masing ... dan tiga tahun kemudian kami menjadi pribadi yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih berguna dibandingkan saat kami masih bersama :)

Comments

Sama, mba. Buku ini juga mengingatkan sama seseorang :') sekarang sudah hidup masing2 dan ternyata luka jg bisa disembuhkan hehe
Tenni Purwanti said…
wah, semoga bahagia selalu ya ...