#5BukuDalamHidupku: Pengingat Idealisme Jurnalis


Buku ini punya sejarah dalam hidup saya, saat saya sedang cinta-cintanya dengan jurnalistik. Saat itu saya masih mahasiswa, dengan segala idealisme di kepala saya. Menjadi mahasiswi Ilmu Jurnalistik di sebuah Perguruan Tinggi swasta di Bandung, yang juga aktif di Pers Kampus dan sempat menjadi Pemimpin Redaksi. Tak hanya itu, di luar kampus, saya juga aktif bertanya dan belajar dari seorang wartawan Tempo newsroom biro Bandung, inisialnya RAF. Darinya saya tak hanya belajar soal teori-teori jurnalistik, tapi juga bagaimana menjadi wartawan yang idealis. Kebetulan ia juga saat itu aktif di Aliansi Jurnalis Independen kota Bandung.

Ketertarikan saya kepada jurnalistik awalnya hanya karena saya mengidolakan sosok Rosiana Sialalahi. Ya, mantan news anchor Liputan 6 SCTV yang namanya pernah melambung pada masa kekerasan STPDN diketahui publik. Namun setelah menjadi mahasiswa jurnalistik, begitu saja saya jatuh cinta pada dunia ini, terlepas apakah saya akan bisa menjadi news anchor sebaik Rosi atau tidak. Saya hanya ingin menjadi wartawan, seumur hidup!

Banyak hal yang saya lakukan untuk bisa mewujudkan cita-cita itu. Selain kuliah tentunya, aktif di pers mahasiswa, dan belajar dari mas RAF, saya juga banyak baca buku. Kerjaan saya adalah nongkrong di perpustakaan dan di depan tv (nonton berita). Tapi diantara semua buku yang saya baca kala itu, buku inilah yang paling kuat mengajarkan saya untuk menjadi wartawan yang idealis, seperti pesan mas RAF.



Berikut saya kutip resensi dari Andreas Harsono dari link blognya di: http://www.andreasharsono.net/2001/12/sembilan-elemen-jurnalisme.html


Hati nurani jurnalisme Amerika ada pada Bill Kovach. Ini ungkapan yang sering dipakai orang bila bicara soal Kovach. Thomas E. Patterson dari Universitas Harvard mengatakan, Kovach punya "karir panjang dan terhormat" sebagai wartawan. Goenawan Mohamad, redaktur pendiri majalah Tempo, merasa sulit “mencari kesalahan” Kovach. 
Wartawan yang nyaris tanpa cacat itulah yang menulis buku The Elements of Journalism bersama rekannya Tom Rosenstiel. Kovach memulai karirnya sebagai wartawan pada 1959 di sebuah suratkabar kecil sebelum bergabung dengan The New York Times, salah satu suratkabar terbaik di Amerika Serikat, dan membangun karirnya selama 18 tahun di sana.
Kovach mundur ketika ditawari jadi pemimpin redaksi harianAtlanta Journal-Constitution. Di bawah kepemimpinannya, harian ini berubah jadi suratkabar yang bermutu. Hanya dalam dua tahun, Kovach membuat harian ini mendapatkan dua Pulitzer Prize, penghargaan bergengsi dalam jurnalisme Amerika. Total dalam karirnya, Kovach menugaskan dan menyunting lima laporan yang mendapatkan Pulitzer Prize. Pada 1989-2000 Kovach jadi kurator Nieman Foundation for Journalism di Universitas Harvard yang tujuannya meningkatkan mutu jurnalisme.
Sedangkan Tom Rosenstiel adalah mantan wartawan harian The Los Angeles Times spesialis media dan jurnalisme. Kini sehari-harinya Rosenstiel menjalankan Committee of Concerned Journalists –sebuah organisasi di Washington D.C. yang kerjanya melakukan riset dan diskusi tentang media.
Dalam buku ini Bill Kovach dan Tom Rosenstiel merumuskan sembilan elemen jurnalisme. Kesimpulan ini didapat setelah Committee of Concerned Journalists mengadakan banyak diskusi dan wawancara yang melibatkan 1.200 wartawan dalam periode tiga tahun. Sembilan elemen ini sama kedudukannya.  (Andreas Harsono)

Nah, berikut ini Sembilan Elemen Jurnalisme yang dirumuskan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel:

1. Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran
2. Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga Negara
3. Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi
4. Jurnalis harus menjaga independensi dari obyek liputannya.
5. Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau independen dari kekuasaan.
6. Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling-kritik dan menemukan kompromi
7. Jurnalis harus berusaha membuat hal penting menjadi menarik dan relevan
8. Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional
9. Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya.




Sembilan Elemen Jurnalisme (terjemahan)
judul asli: 

The Elements of Journalism, 
What Newspeople Should Know 
and the Public Should Expect
Oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (April 2001) 
205 halaman




Meski media saat ini sudah lebih bebas dari pada zaman orde baru, namun jika ada yang melakukan survei kepada jurnalis-jurnalis Indonesia, tentu ke-9 elemen jurnalisme yang dirumuskan di atas, masih saja sulit dilakukan.

Pertama, kewajiban utama jurnalisme ada pada kebenaran. Nah, kebenaran yang mana? Di pihak siapa? Kebenaran versi pemilik media, pemerintah, atau siapa?

Ke-dua, loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga. Kenyataannya, banyak wartawan yang tidak bisa tidak, harus tunduk kepada pemilik modal, pengiklan, dan mengabaikan hak-hak warga untuk mendapatkan informasi yang berimbang.

Ke-tiga, esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi. Kenyataannya, masih banyak wartawan yang menayangkan berita sekenanya, sedapatnya saja, tanpa mau verifikasi ulang kepada narasumber. Bahkan, tak sedikit yang comot berita sana-sini, tanpa menyebutkan sumber, dan menjadikannya seolah-olah karya jurnalistik orisinal yang dibuatnya. Data yang disampaikan belum tentu benar, sudah tayang saja, atas nama kecepatan.

Ke-empat, jurnalis harus menjaga independensi dari obyek liputannya. Bicara soal independensi, masih ada saja wartawan yang menggunakan opini pribadi untuk men-judge narasumber, lupa asas praduga tak bersalah. Atau, terpengaruh pada opini atasan atau media tempatnya bernaung, sehingga memposisikan obyek liputan atau narasumber sesuai dengan kaca mata mereka, bukan sebagaimana adanya mereka.

Ke-lima, jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau independen dari kekuasaan. Jangankan menjadi pemantau kekuasaan, saat ini masih banyak media yang justru jadi corong parpol untuk kampanye, atau sekadar menampilkan satu sosok yang ditonjolkan parpol tersebut. Kritik yang ditujukan kepada pemerintah masih saja ada yang tidak diimbangi dengan saran yang membangun, tentu saja dari narasumber yang kompeten.

Ke-enam, jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling-kritik dan menemukan kompromi. Memang ada beberapa stasiun televisi yang memulai memberi kesempatan kepada penonton untuk mengungkapkan pendapatnya terhadap sebuah persoalan bangsa, saling kritik dan saling kompromi. Begitu pula media cetak. Tapi sejauh mana hal ini sudah efektif, perlu kajian lebih lanjut dari kalangan akademisi.

Ke-tujuh, Jurnalis harus berusaha membuat hal penting menjadi menarik dan relevan. Alih-alih membuat hal penting menjadi menarik dan relevan, wartawan media kini malah lebih sering membuat sesuatu yang tidak penting menjadi hal yang cukup menarik saja. Lihat saja bagaimana soal akun instagram ibu Negara yang over expose, atau seorang Vicky yang di-bully media habis-habisan.

Ke-delapan, jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional. Komprehensif dari segi nilai berita, unsur-unsur berita, dan proporsional dalam artian berimbang, cover both side. Kenyatannya? Boleh lihat kasus beberapa media yang lebih suka mendiskriminasikan narasumber ketimbang membahas hal penting di balik peristiwa secara berimbang.

Ke-sembilan, yang terakhir, jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya. Tak sedikit jurnalis yang harus menahan tangis karena tak dapat memberitakan sebuah fakta hanya karena tidak disetujui oleh petinggi medianya. Contoh: Seno Gumira Ajidarma yang tak bisa menuliskan soal insiden Dili di medianya dan justru memilih menuliskannya dalam karya sastra berjudul SAKSI MATA. Ia yang akhirnya mengeluarkan istilah: ‘ketika jursnalisme dibungkam, sastra bicara.”


Memang tidak semua media mengingkari ke-sembilan elemen jurnalisme yang dirumuskan dalam buku ini. Meski tidak semua elemen terpenuhi, Indonesia juga masih punya media dan jurnalis yang bisa menjalankan elemen-elemen jurnalisme dalam buku ini. Dan lagipula, praktek jurnalisme adalah DUNIA TANPA KOMA, kalau kata Leila S. Chudori dalam naskah skenario serial televisi yang ditulisnya. Tanpa henti, tanpa akhir. Oleh sebab itu, perjuangan menjalankan Sembilan Elemen Jurnalisme juga musti dilakukan terus menerus, diaplikasikan terus menerus, bukan hanya sebagai buku pedoman usang yang wajib dibaca mahasiswa lalu dilupakan. Tapi juga harus diimplementasikan oleh jurnalis di seluruh dunia, terutama Indonesia, untuk melengkapi kesempurnaan KODE ETIK JURNALISTIK yang sudah lebih dulu ada di Indonesia.

Saya yang dulunya membaca buku ini saat menjadi akademisi, kini mulai gamang saat telah menjadi praktisi jurnalistik. Tak semua elemen bisa saya terapkan, dengan alasan yang kurang lebih sama: dominasi pemilik modal, dominasi atasan, dominasi penguasa, dan lainnya. Tapi mengingat dan membaca kembali buku ini saat telah menjadi praktisi, membuat idealisme saya ketika menjadi akademisi, kini kembali lagi.

Mungkin, jika saya jadi melanjutkan pendidikan S2 di bidang jurnalistik, saya akan mengangkat materi dalam buku ini untuk jadi bahan tesis :)


Dan saya bersyukur pernah memiliki dan membaca buku ini. Sebab, katanya, buku ini sudah tidak diproduksi lagi di Indonesia :D


Comments