Lindungi Perempuan dan Anak

Tahun lalu, saya menulis artikel ini untuk media tempat saya bekerja, dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia. Semoga masih bisa jadi bahan perenungan untuk tahun ini dan bisa mengingatkan kita untuk terus waspada terhadap penyakit mematikan satu ini.




Pada peringatan hari AIDS sedunia, Desember lalu, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Linda Amalia Sari Gumelar, mengimbau agar kaum pria, termasuk para suami, ikut meningkatkan partisipasi dalam melindungi kesehatan reproduksi dirinya, pasangannya, da keturunannya dari ancaman HIV/AIDS. Simak data-data berikut:

Epidemi HIV dan AIDS di Indonesia:
Kementrian Kesehatan melaporkan, sejak pertama kali kasus HIV ditemukan di Indonesia (1987) hingga Maret 2012, terdapat 30.430 kasus AIDS dan 82.870 kasus infeksi HIV di 33 propinsi di Indonesia. Prosentase kumulatif AIDS tertinggi terjadi pada kelompok umur 20-29 tahun (46 persen). Rasio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 2:1 (laki-laki 71 persen, perempuan 28 persen). Selama periode pelaporan sejak Januari hingga Maret 2012, prosentase kasus tertinggi adalah akibat hubungan heteroseksual (77 persen), penggunaan jarum suntik tidak steril pada pengguna narkotika suntik (8,5 persen), dari ibu HIV positif ke anak (5,1 persen), dan dari hubungan LSL (lelaki seks lelaki) atau homoseksual sebanyak 2,7 persen.

Ingat-ingat terus ini!
Virus imunodifisiensi manusia (human immunodeficiency virus atau HIV) adalah virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS. Virus ini menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dan tidak berdaya dalam melawan infeksi.

Sedangkan Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala (sindroma) dan infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat virus HIV atau virus-virus lain yang mirip dan menyerang spesies lainnya, seperti SIV, FIV, dan lain-lain.

HIV dan virus-virus sejenis umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan presimenal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi. Adapun penularan dari ibu ke bayi terjadi selama kehamilan, persalinan, saat menyusui, serta lewat kontak-kontak lainnya yang melibatkan cairan-cairan tubuh tersebut.

Suami jangan 'jajan'!
Seperti dikutip dari Tempo.co, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengatakan, penyebaran HIV dan AIDS di Indonesia masih tinggi. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kegiatan seks berisiko. Menurut Nafsiah, tingginya penularan HIV dan AIDS disebabkan oleh banyaknya pria dewasa yang memelihara kebiasaan 'belanja seks' dan kurangnya kesadaran untuk menggunakan kondom. "Dari 240 juta penduduk, sebanyak 3,1 juta pria membeli seks," katanya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi Kesehatan DPR, 25 Juni 2012 lalu.

Hal ini menyebabkan perempuan Indonesia berisiko tinggi tertular HIV/AIDS. Ini, kata Nafsiah, menjadi salah satu alasan pentingnya kampanye penggunaan kondom di masyarakat. Kemenkes juga meningkatkan program sosialisasi kesehatan reproduksi melalui kurikulum sekolah dan mempercepat rehabilitasi melalui sistem kesehatan di 322 rumah sakit di Indonesia.

Penularan dari ibu ke anak
Proyeksi 2010-2014 memprediksi adanya jumlah peningkatan ODHA (Orang Dengan HIV dan AIDS) pada kelompok perempuan, dari sebesar 19 persen pada tahun 2008 menjadi 26 persen pada tahun 2014. Pada tahun 2011 lalu, diperkirakan terdapat 8.170 ibu hamil yang positif HIV di Indonesia (Kementerian Kesehatan, Model Matematika Epidemi HIV di Indonesia, 2008-2014. Jumlah ibu positif HIV ini berisiko tinggi menularkan virus HIV kepada bayinya selama kehamilan, melahirkan, hingga menyusui. Untuk itu, pasangan suami istri disarankan melakukan tes HIV/AIDS untuk memastikan diri tidak tertular penyakit ini sebelum merencanakan kehamilan.

ARV, juru selamat
Ibu hamil yang positif terinfeksi HIV/AIDS masih bisa mencegah penularan virus dan penyakit tersebut kepada anak yang dikandungnya dengan cara rutin mengonsumsi ARV (Anti Retroviral) sejak kehamilan minggu ke-14 (rekomendasi Badan Kesehatan Dunia-WHO). ARV mampu menghambat replikasi (penggandaan) HIV di dalam tubuh. Di negara-negara Afrika yang penggunaan ARV-nya telah berjalan baik, ibu hamil yang positif HIV/AIDS tetap dapat melahirkan secara normal dan dapat memberi ASI eksklusif kepada bayinya. Sayangnya, di Indonesia, masih banyak ibu hamil positif HIV/AIDS yang baru meminum ARV setelah hamil besar, atau bahkan tidak mengonsumsi ARV sama sekali. Akibatnya, mereka tidak diperbolehkan melahirkan dengan cara normal, bahkan dilarang menyusui bayinya sendiri.

Mengapa tidak boleh melahirkan secara normal? "Karena dikhawatirkan HIV/AIDS akan menular melalui darah dan luka sobekan selama melahirkan. Tetapi selama sang ibu tidak mengidap IMS (Infeksi Menular Seksual) dan rutin mengonsumsi ARV sejak awal kehamilan, maka persalinan normal bisa dilakukan," kisah Dr. Pandu Riono, PhD, pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, yang juga aktif di Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, komisi AIDS. Ia menambahkan, ibu yang rutin mengonsumsi ARV sebaiknya diperbolehkan menyusui anaknya selama 3 bulan, tanpa diselingi susu formula, demi menjaga kesehatan pencernaan bayinya dan memperkuat daya tahan tubuhnya. Namun selama 3 bulan itu, sang ibu tidak boleh berhenti minum ARV. Setelah 3 bulan, barulah bayinya boleh minum susu formula dan tidak lagi diberi ASI.

Obat HIV/AIDS akan semakin murah
Pada 3 September 2012 lalu, pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 76 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Paten oleh Pemerintah terhadap Obat Antiviral dan Antiretroviral, yang mengatur tentang 'hak guna pemerintah' - sejenis lisensi wajib yang membebaskan pemerintah dari pembatasan hak paten. Langkah ini ditempuh guna memproduksi tujuh jenis obat-obatan generik yang sangat penting dalma terapi HIV dan Hepatitis B. Paten yang diambil alih ini tadinya dimiliki perusahaan farmasi terkemuka, seperti Merck, GSK, Vristol, Myers Squibb, serta Abbot and Gilead.

Obat-obatan tersebut meliputi efavirenz, abacavir, tenofovir, lopinavir/ritonavir, didanosine, kombinasi dosis tetap tenofovir/emtricitabine, serta tenofovir/emtricitabine/efavirenz, yang selama ini didapat dengan cara mengimpor dari luar negeri, sehingga harganya menjadi sangat mahal. Dengan Perpres tersebut, produksi obat-obatan tersebut bisa dilakukan oleh perusahaan dalam negeri yang ditunjuk pemerintah, dengan kewajiban membayar royalti, sebesar 0,5 persen pada perusahaan pemegang paten. Hal ini akan menjamin sekitar 310.000 orang yang hidup dengan HIV di Indonesia untuk memiliki akses terhadap obat-obatan penyambung nyawa mereka.



oleh Tenni Purwanti
Konsultan: Dr. Pandu Riono, PhD, 
pengajar di FKM UI, 
anggota komisi AIDS di Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia

Comments