The Raid 2

Kalau saya tidak salah (dan koreksi kalau saya salah), film ini akan diputar di Sundance Film Festival. Saya ingin menyebut ini film Indonesia, meski sutradaranya bukan orang Indonesia. Sebab, pemainnya 90 persen orang Indonesia, dialognya berbahasa Indonesia, dan syutingnya pun di Indonesia (blok M salah satunya). Pertanyaan saya hanya satu: kalau film ini menang festival film, negara mana yang bakal bangga? Negara tempat sutradaranya lahir dan tinggal, atau kita, Indonesia?

Terlepas dari itu, sebetulnya saya tidak begitu suka film yang berdarah-darah, entah itu film horor, film drama, apalagi film action (laga semacam ini). Asal ada darahnya, saya paling benci. Tapi karena malam itu saya diajak teman nonton film ini midnight, di festival film ARTE pula. Saya pikir, pasti suasananya bakal menyenangkan.

Dugaan saya benar. Studio blitz yang memutar The Raid 2 malam itu (22/3/2014) tengah malam, diisi hampir 99 persen penonton. "Baru kali ini lihat penonton film Indonesia sepenuh ini," ujar teman saya Christian Pramudia saat masuk studio. Kami juga tak menyangka kalau Gareth Evans, sutradara film ini akan ikut menonton bersama kami, malam itu.

Seperti yang saya katakan, saya tidak suka film berdarah-darah, sebelumnya saya tidak pernah menonton The Raid bagian pertama. Tapi untunglah The Raid 2 ini bisa ditonton secara terpisah dari bagian pertamanya. Saya bisa mengerti jalan ceritanya dengan baik.



The Raid 2 ini berkisah tentang seorang pembunuh bayaran yang bernama Rama/Yuda (diperankan Iko Uwais). Oh iya spoiler sedikit, semua tokoh film ini bakal mati, kecuali Iko :D

Rama ini memiliki track record tidak pernah kalah dalam berkelahi dan ia berada dalam satu penjara dengan Uco (diperankan Arifin Putra). Uco adalah anak dari Bangun (diperankan Tio Pakusadewo), big boss mafia yang menjadi backing banyak pelanggar hukum di negeri ini. Asal punya uang 'pelicin' yang banyak, Bangun dan kerajaan mafianya akan melindungi usaha ilegal apapun yang Anda bangun. Sebagai anak big boss mafia, Uco membutuhkan pelindung agar ia bisa selamat di penjara. Itulah sebabnya ia mendekati Rama/Yuda. Saat Uco dan Rama/Yuda sudah keluar dari penjara, Rama/Yuda kemudian direkrut oleh Bangun untuk jadi tukang pukul/pembunuh bayarannya yang paling diandalkan. Dalam tugasnya, Iko bertemu banyak sekali lawan tangguh yang harus ia taklukkan. Bermain intrik, mengungkap kelicikan lawan, juga menjaga keselamatan tuannya sendiri.

Saya melihat beberapa kritik sosial yang berusaha diangkat dalam film ini, diantaranya:
1. Usaha ilegal yang di-beckingi oleh kelompok mafia.
2. Maraknya kekerasan dalam penjara dan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Perebutan kekuasaan, meski dalam perusahaan keluarga.
4. Kisah cinta. Bahwa seorang tukang pukul/pembunuh bayaran pun juga manusia, punya hati. Apapun profesinya, seorang laki-laki juga bisa menangis saat merindukan anaknya.

Meski didominasi adegan berkelahi, darah, dan benda-benda tajam, pistol, tapi film ini punya plot yang memberi ruang cukup untuk drama. Misalnya drama suami-istri saat Rama/Yuda, sang suami yang tukang pukul/pembunuh bayaran itu menelepon istrinya dan ingin mendengar suara anaknya. Atau adegan saat Bangun memukul Uco, karena Uco bersikeras dialah yang paling pantas memimpin/melanjutkan kerajaan mafia milik ayahnya.

Akting Tio Pakusadewo sudah tak bisa diragukan lagi. Ia mendalami betul, menjadi seorang bos mafia yang sangar, tapi penuh perhitungan dalam mendidik anaknya, agar menjadi pemimpin yang siap. Namun karena jiwa muda anaknya terlalu menggebu, Uco mati di tangan ayahnya sendiri sebelum sempat mengkhianati ayahnya (eh spoiler lagi ya? :D)

Film ini dihiasi banyak sekali nama selebritas yang sudah 'punya nama' diantaranya: Julie Estelle, Marsha Timoti, Oka Antara, Donny Alamsyah, Zack Lee, Alex Abbad. Kalau tidak suka film berdarah-darah, minimal bisa cuci mata lihat wajah-wajah bening ya :)

Disarankan agar tidak membawa anak kecil di bawah 10 tahun untuk menonton film ini, sebab adegan kekerasannya sungguh butuh bimbingan orang tua untuk mencernanya. Saya bukan pembuat film, sehingga setiap kali membuat review film, saya tidak membahas dari sisi sinematografi. Saya fokus laporan pandangan mata saja. Dan review ini pun hanya untuk memberi gambaran seperti apa filmnya.

Silakan nonton trailernya di sini dan mari dukung perkembangan perfilman Indonesia dengan menontonnya di bioskop atau membeli DVD aslinya (jika ada).







Comments