Satu Hari untuk Selamanya

Saya sengaja mengutip judul film Indonesia, Tiga Hari untuk Selamanya dan mengubahnya menjadi Satu Hari untuk Selamanya. Saya rasa itulah spirit Kelas Inspirasi. Bagi Anda, satu hari cuti mungkin tidak berarti apa-apa, tetapi bagi mereka, satu hari mendapat kelas yang menginspirasi, bisa mengubah hidup mereka. Tagline "Bangun Mimpi Anak Indonesia" pun mengalir deras dalam darah saya ketika melangkahkan kaki hari itu.

Seingat saya, seumur hidup saya tidak pernah bangun sepagi itu. Saya termasuk orang yang sering insomnia, kalau sedang stres, sehingga jam 3 pagi biasanya saya baru bisa tidur. Tapi hari itu (24 April 2014), saya malah tidur cepat dan bangun jam 3 pagi, karena takut terlambat datang. Malam sebelumnya saya berhasil dapat janji tumpangan dari salah satu fotografer dan diancam akan ditinggal kalau jam 5 tidak muncul di Slipi. Yang jelas, karena saya blank soal di mana letak SDN 6 Pagi Kembangan Utara, maka saya memang harus usaha bangun pagi agar tidak tertinggal tumpangan (oke, soal ini skip saja).

Mengapa saya harus bangun sepagi itu? Karena saya adalah salah satu relawan pengajar Kelas Inspirasi. Sesuai namanya, jika ingin memberikan kelas yang menginspirasi, maka saya harus tampil menginspirasi, dimulai dengan bangun pagi dan datang tepat waktu. Salut pada para guru SD yang setiap harinya sanggup bangun sepagi itu. Apalagi yang sudah punya keluarga, pasti harus sigap mengurus keluarga sebelum akhirnya mengurus pendidikan anak orang lain.

Sebelumnya saya tidak pernah mengenal SDN 6 Kembangan Utara. Sehingga di kepala saya, SD Negeri memiliki ruang kelas yang rusak di sana-sini. Mungkin saya kebanyakan menonton berita tentang kondisi SDN-SDN di berbagai daerah. Jakarta ternyata tidak semalang itu. SDN 6 Kembangan Utara ternyata memiliki gedung yang sangat modern, megah, dan bersih. Masing-masing kelas dilengkapi dengan microphone dan speaker. Jendelanya besar dan bagus. Meja dan kursinya baru. Kantinnya juga lengkap, bersih, dan teratur. Hanya kamar kecilnya saja yang kurang terawat, tetapi masih bisa dikatakan wajar. Saat pertama kali memasuki gedung sekolah ini, saya jadi takjub sendiri. SDN 6 Kembangan Utara berada satu wilayah dengan SDN 5,7, dan 8. Semuanya dibangun dengan standar yang sama.

copyright Ruben

Menjadi guru sehari, adalah pengalaman yang tak kan saya lupakan seumur hidup. Berkat Kelas Inspirasi, saya baru tahu bahwa ternyata menjadi guru itu tidak mudah. Selain harus bangun sepagi mungkin dan tidak terlambat sampai di sekolah, saya juga harus punya tabungan kesabaran. Meski setiap kelas ada speaker dan microphone, namun saya masih tetap harus teriak-teriak karena ruang kelas yang jendelanya selalu terbuka lebar tidak bisa meredam suara anak-anak yang semuanya ingin didengar. Ada pula yang bicara sendiri-sendiri. Dari empat kelas yang saya masuki, dua diantaranya adalah kelas dengan murid-murid superaktif. Saat saya bicara, ada saja yang melakukan aktivitas lain, seperti mengusili temannya, naik ke atas meja, ngerumpi, seolah-olah saya tidak ada di sana. Tapi karena seminggu sebelumnya saya sudah diberi pembekalan dari Indonesia Mengajar, saya bisa mengalihkan kembali perhatian mereka kepada saya, dengan tepukan woooshhh dan pertanyaan yang memancing mereka fokus. Meski memang hanya bertahan beberapa detik dan mereka kembali gaduh. Duh!

copyright Ima Lolaita

Saya memulai kelas dengan membagikan foto-foto berwarna. Isinya antara lain foto-foto saya bersama narasumber (kaum selebritas maupun tokoh mancanegara), juga foto-foto suasana liputan dan foto perjalanan dinas saya ke luar kota. Meski hanya satu-dua anak yang akhirnya bisa menebak profesi saya, setidaknya murid-murid saya itu cukup antusias melihat-lihat foto tersebut. Lalu saya jelaskan kepada mereka bahwa menjadi wartawan itu bisa keliling Indonesia bahkan keliling dunia GRATIS. Selain itu, bisa bertemu artis dan orang dari seluruh dunia. Mereka langsung terbelalak dengan mengatakan "Wah .." "Oooo..." 

copyright Nurfitriani 'Pipit'



Sejujurnya saya senang sekali melihat ekspresi polos itu. Ekspresi yang menunjukkan bahwa mereka mulai antusias. Sayang saya tidak bisa mengeluarkan kamera dengan cepat. Akhirnya saya hanya bisa menikmati ekspresi mereka untuk melangkah ke penjelasan berikutnya. Yakni bagaimana cara wartawan bekerja. Saya mencoba menjelaskan dengan bahasa anak-anak, apa itu berita. Saya jelaskan konsep 5W+1H dengan bahasa sesederhana mungkin agar mereka mengerti. Lalu saya meminta anak-anak menulis ulang contoh dari saya, tetapi dengan imajinasi mereka masing-masing. Siapa yang berani, bisa membacakan berita yang mereka tulis, di depan kelas. Saya membuat simulasi reporter televisi yang sedang melakukan siaran langsung. Ternyata mereka antusias!














copyright Ruben



Melihat foto-foto di atas, saya terharu. Tadinya saya pikir, di antara semua relawan pengajar, hanya saya yang tidak menarik, membosankan, dan tidak punya persiapan optimal. Sebab saya tidak menyiapkan alat peraga selengkap teman-teman saya yang mengajar di sekolah ini. Di luar dugaan, ternyata anak-anak tersebut tetap antusias ikut simulasi dan berebutan ingin baca berita. Yang lebih seru lagi, lebih banyak yang ingin jadi kameramen daripada yang jadi reporter. Teman yang jadi reporter langsung dikerumuni oleh para kemaramen dadakan. Hampir di semua kelas yang saya masuki, sesi simulasi ini yang paling membuat anak-anak antusias. Mereka berebutan ingin tampil, semua memanggil nama saya. Ingin membacakan beritanya. Meski tak bisa saya pungkiri, masih ada juga anak-anak yang cuek. Sama sekali tidak punya niat menulis berita, jangankan itu, mengeluarkan alat tulis saja malas. Tapi melihat teman-temannya yang antusias tampil di depan, sebagai anak-anak, mereka pun terbawa antusias. Setidaknya saya tidak dicuekin amat :)

Setelah semua kelas selesai saya masuki, begitu juga teman-teman relawan pengajar lain yang berjumlah 12 orang, saat pulang pun tiba. Para murid diberi kesempatan untuk melakukan cap tangan lalu menuliskan nama dan cita-cita mereka.

copyright Ruben



Melihat mereka yang polos dengan senyum dan semangat sebesar itu, rasanya semua masalah hidup saya luruh. Lelah akibat teriak-teriak di kelas pun hilang seketika. Meski hampir sebagian besar masih saja menuliskan cita-citanya seperti dokter, polisi, dan guru (bukan wartawan), setidaknya mereka sudah punya cita-cita. Saya berharap kelak, suatu hari, saat mereka sudah lulus SMA dan hendak melanjutkan ke perguruan tinggi, mereka ingat alternatif profesi yang kami sharing hari itu. Mereka bebas memilih, sesuai dengan minat mereka. Dan kami hanya membantu memberi gambaran, bahwa di luar sana, ada profesi lain selain dokter, guru, dan polisi, yang bisa mereka pilih.

copyright Ruben

Usai semua kegiatan hari itu, para murid masih saja semangat saat kami membawa mereka berkumpul di lapangan. Meski hari sedang terik-teriknya (saat itu jam 12 siang), tapi anak-anak itu tidak mengeluh panas. Mereka menyanyikan lagu kebangsaan sambil melambaikan tangan. Mereka juga menyimak salam perpisahan dari kami, kelompok 6 Kelas Inspirasi Jakarta 3.

Setelah para murid pamit pulang, barulah kami berinteraksi dengan para guru di ruang guru. Para guru mulai 'curhat' bahwa apa yang kami alami selama satu hari penuh itu adalah yang mereka alami setiap hari. Sekali lagi salut pada tabungan kesabaran mereka setiap hari. Lalu, uniknya, guru di SDN 6 Kembangan Utara ini semuanya perempuan, baik yang masih single atau yang sudah menikah. Hanya satu orang guru laki-laki. Betul-betul sekolah berjiwa Kartini. Tak lupa, kami berpose bersama, mengabadikan kebersamaan yang kami janjikan akan terus berlanjut, tak hanya hari itu saja.

copyright Ruben


Terakhir, barulah kami foto dengan gaya super duper heboh, hanya Sixpiration (nama kelompok kami)

copyright Ruben


Saya perlu berterima kasih kepada teman-teman Sixpiration yang sudah kreatif membuat konsep cap tangan dan menulis cita-cita di selembar kain putih. Sejak kami semua memiliki grup di whatsapp, grup ini tak pernah sepi. Hampir setiap jam, ada saja yang dibicarakan. Apalagi semalam menjelang Hari Inspirasi. Heboh cat kurang, nanya lokasi, nyari tumpangan, dll. Semuanya dilakukan dengan riang gembira. Saya yang cenderung diam dan kurang kreatif ini mungkin jadi yang paling pasif. Saya bahkan lebih sering jadi silent reader. Tapi dalam hati, saya tak berhenti bersyukur, disatukan dengan orang-orang kreatif, energik, dan supel seperti mereka. Semoga kebersamaan kami tetap terjaga dan semoga saya tetap bisa belajar banyak dari mereka semua.



Hari Inspirasi telah memberi saya banyak hal. Bukan hanya belajar cara menjadi guru, saya juga belajar memasuki dunia anak-anak, belajar berkomunikasi lagi, belajar berkelompok lagi, mendapat temna-teman baru, jaringan baru, pengalaman emas yang tak bisa dinilai dengan uang. Tetap kompak ya guys! Mari berdoa semoga semua cita-cita anak-anak murid kita hari itu dapat terwujud dan mereka memiliki masa depan secerah mentari.

Aamiin ...


Comments