Candid

Gadis itu mencari pose terbaik untuk mengabadikan wajah dan tubuhnya di usia 25 tahun. Katanya, kecantikan perempuan tidak bertahan lama. Untuk itu, sebelum ulang tahun ke-25 datang, ia memintaku memotretnya. Hari ini adalah kesempatan pertama bagiku, memotret manusia, hidup, perempuan, dan ia akan berulang tahun. Aku harus bisa memberinya foto-foto terbaik sebab akan dipandanginya seumur hidup. "Ini foto nenek saat berusia 25 tahun lho. Cantik, ya..." mungkin itu yang akan dikatakan gadis itu kelak, puluhan tahun mendatang, kepada cucu-cucunya. Namanya Zephirine.

Sebetulnya aku sangat jarang memotret model. Kalaupun memotret manusia, aku lebih suka memotret secara candid, bukan mengabadikan manusia berpose. Namanya fotografi Human Interest, yakni menangkap momen yang bernilai kemanusiaan. Biasanya fotografi Human Interest digunakan untuk artikel feature jurnalistik, untuk memancing empati pembaca. Selain untuk artikel jurnalistik, banyak fotografer yang senang dengan konsep fotografi ini karena bisa menangkap ekspresi dengan lebih fokus.

Dalam konsep Human Interest, butuh kejelian mata seorang fotografer untuk menangkap momen, sebab momen itu biasanya langka dan hanya berlangsung beberapa detik. Inilah bedanya dengan memotret model. Pemotretan dengan menggunakan model yang diminta berpose, bisa diulang-ulang sampai menemukan angle dan ekspresi yang diinginkan. Meski tampak lebih mudah, namun memotret model butuh persiapan matang: properti, outfit (busana, aksesori), lighting (menyiapkan lampu yang disesuaikan dengan kebutuhan pemotretan). Jika pemotretan dilakukan di luar ruangan, maka pemilihan tempat juga harus diperhatikan.

Itu sebabnya Aku lebih sering memotret alam, gedung, kereta, jalanan, segala hal yang mati. Sebab aku bisa mengambil gambar di mana pun, kapan pun aku mau. Tak perlu banyak persiapan. Saat sedang ingin hunting foto, aku bisa jalan ke mana saja. Syukur-syukur menemukan foto Human Interest. Lagipula fotografi hanyalah hobi bagiku, di luar profesiku yang selalu berhubungan dengan komputer. Kadang aku memotret bersama teman-teman di komunitas fotografi, biasanya bertema, dan ada yang memfasilitasi properti.

Aku menerima tawaran  Zephirine karena ingin kembali belajar memotret model. Ku pikir, daripada membayar model lagi, memotret Zephirine bisa menjadi sarana untukku belajar lagi. Kami berdua sepakat, melakukan pemotretan dengan konsep ‘gembira ria’. Dia ingin merasakan bagaimana menjadi model, dan aku bisa kembali belajar ‘menangani’ model.

Hari ini Zephirine sudah mencoba berbagai pose dan mengubah-ubah ekspresinya sendiri, tapi kameraku tidak juga bisa menangkap ekspresi yang ia inginkan. "Aku ingin tampak bahagia di usia 25 tahun, menikmati hidup, mencintai diriku apa adanya."

Aku selalu menanamkan kata-kata itu setiap kali membidik senyum dan wajahnya. Aku memang pernah memotret model, bersama teman-temanku yang hobi memotret juga. Tak ada kesulitan bagi kami untuk menangkap gesture tubuh dan ekspresi karena para model yang kami bayar sudah terbiasa dengan pekerjaannya. Zephirine berbeda. Aku tak mau mengatakan ia amatir, tetapi aku sendiri jadi merasa amatir, karena tak sanggup menangkap ekspresi terbaik yang ia inginkan. Aku jadi takut tidak bisa memberikan kado ulang tahun terbaik untuknya.

Entah mengapa begitu sulit mendapatkan senyum yang tulus dari wajahnya, padahal ia termasuk perempuan yang berwajah manis. Gesture tubuhnya juga tidak seluwes para model yang biasa kupotret. Berulang kali aku memintanya relaks, tetapi ia semakin tegang. Akhirnya aku ajak ia bicara, tentang apa pun. Saat itulah aku tiba-tiba bisa menemukan pose dan senyum yang mendekati apa yang Zephirine inginkan.

Kami mencoba banyak pose di banyak tempat, baik indoor maupun outdoor. Ternyata Zephirine lebih bergerak lepas saat berada di tempat terbuka. Ia bisa berjalan bak model di runway sehingga aku terus mengambil gambar dengan relaks. Saat hujan turun pun, ia berinisiatif membuka sepatunya dan menikmati hujan, meski masih di bawah payung. Aku suka saat Zephirine sudah bisa menikmati tubuhnya sendiri seperti ini.

Sampai saat kami duduk di sebuah kafe setelah pemotretan outdoor, kameraku menangkap apa yang tidak ia ungkapkan lewat bibirnya. Dengan sigap, tanganku membidik wajahnya yang sedang menatap ke luar jendela cafe, tanpa ia sadari, sebab sebelumnya aku izin ke toilet sambil membawa kamera. Tak ku duga saat kembali, aku menemukan ia dalam pose seperti itu.

Pose itu jadi pose terbaiknya sepanjang pemotretan ini. Tapi ia tidak tahu ada pose itu di kameraku. Ia tidak tahu apa yang ku tangkap dari matanya di dalam kameraku. Ia tidak tahu aku mengabadikan dirinya yang betul-betul murni, tanpa pose yang direncanakan atau disepakati, tanpa ekspresi yang dibuat-buat.

Ah, mungkin aku memang betulan cocok jadi fotografer candid saja.




***

Jika pembaca pernah menonton film Indonesia berjudul ‘Rayya, Cahaya di Atas Cahaya’, kisah ini bisa saja berakhir bahagia dengan penutup yang romantis: aku dan Zephirine saling jatuh cinta selama proses pemotretan, lalu memutuskan untuk hidup bersama. Persis seperti jalan cerita film itu: kisah seorang model papan atas dengan seorang fotografer yang menjalani proses pemotretan lalu saling jatuh cinta.

Atau, bisa saja kisah ini berakhir tragis. Seminggu setelah pemotretan, Zephirine mengalami kecelakaan pesawat. Aku sebagai fotografer, mempublikasikan foto-fotonya dan aku tag di facebook Zephirine, agar teman-temannya bisa melihat wajah dan tubuh Zephirine sebelum tubuh itu hancur bersama puing-puing pesawat. Kisah ini akan mengharukan sebagai cerpen, juga akan mengharukan sebagai laporan jurnalistik. Aku akan diwawancara oleh banyak wartawan.

Atau, bisa saja aku mengikutsertakan foto itu ke dalam lomba foto. Meski kalah lomba, foto itu tetap jadi unggulan dan dipublikasikan di pameran foto yang digelar di Bentara Budaya. Lalu ada seorang pria yang ingin membeli foto itu dengan harga tinggi. Karena butuh uang, usai pameran, aku pun menjualnya kepada lelaki itu yang ternyata adalah suami Zephirine. Lalu lelaki itu menghadiahkan foto itu di hari ulang tahunnya. Zephirine tak menyangka suaminya akan memiliki foto selangka itu. Zephirine tak pernah secantik itu di dalam foto-foto yang dimilikinya. Ia pun berterima kasih kepadaku, meski mengira bahwa aku bersekongkol dengan suaminya, demi kejutan ulang tahun. Hatiku senang sekaligus teriris, sebab aku baru sadar bahwa aku mencintai Zephirine setelah aku tahu bahwa ia sudah bersuami.

Tapi di antara ketiga kemungkinan akhir kisahku dengan Zephirine, tak ada satu pun yang benar-benar terjadi. Sembari menuliskan kisah ini, aku sesekali memandangi foto Zephirine yang sedang memandang ke luar jendela café. Aku melihat dengan jelas apa yang dilihatnya: sepasang suami-istri yang sedang bermain dengan seorang anak kecil. Wajah bahagia terpancar jelas dari senyuman suami-istri itu, dan Zephirine memandangnya dengan tatapan hampa, lalu ia menghela napas berat. Sepasang mata itu tak bisa berbohong dalam bidikan kameraku. Lalu Zephirine menunduk dan kembali menghela napas berat. Saat ia mengangkat kepala, ada seekor kupu-kupu mendekatinya, lalu hinggap di atas bunga mawar merah. Aku terus mengabadikan ekspresinya. Perubahan ekspresi itu terekam jelas oleh kameraku. Apalagi saat mata Zephirine mengikuti kepakan sayap kupu-kupu yang meninggalkannya karena Zephirine berusaha menyentuh sayapnya yang hijau seperti daun.

Dalam 10 frame, aku memiliki ekspresi depresi dan bahagia Zephirine sekaligus, tanpa pernah ia ketahui. Ulang tahunnya hanya tinggal menghitung hari. Aku ingin mencetak foto-foto ini dan menghadiahkan kepadanya, tetapi aku memilih menyimpannya saja. Sebagai masterpiece-ku. Sebagai foto-foto kesayanganku seumur hidup.

Sebab kesepuluh foto itu selalu bergerak di depanku setiap kali aku menjejerkannya di atas meja. Kapan pun aku merindukan Zephirine, aku akan menyusunnya sesuai dengan urutan saat aku memotret, baik di atas kasur, di atas meja kerja, atau di atas lantai. Foto-foto itu akan bergerak sendiri, seperti sebuah video dokumenter dan aku tak pernah bosan memandanginya.

Wajah, senyum, dan tubuh Zephirine bergerak begitu nyata di hadapanku. Tapi gerakan-gerakan itu tanpa suara, sehingga aku tak bisa bertanya, mengapa ia terlihat begitu depresi memandangi pasangan suami-istri yang sedang mengajak bermain seorang anak. Bukankah itu pemandangan membahagiakan? Apalagi sang anak tampak begitu lucu. Lalu mengapa Zephirine bisa tiba-tiba berubah tersenyum bahagia hanya karena melihat kupu-kupu yang hinggap di atas bunga mawar? Ah, aku tak pernah berani bertanya kepadanya langsung, sebab jika aku bertanya maka ia akan tahu bahwa aku tahu ia bersedih melihat pasangan suami-istri itu. Dia akan bertanya apakah aku memotretnya.

Jadi, inilah keputusanku: Zephirine tak perlu tahu aku pernah mengambil 10 frame secara candid dan foto-foto itu tak pernah kutunjukkan atau kuberikan kepadanya. Zephirine juga tidak perlu tahu bahwa aku selalu memandanginya setiap pagi, siang, malam, kapan pun aku merindukannya. Aku sudah menyerahkan semua foto hasil pemotretan, kecuali 10 foto itu. Tugasku sudah selesai dan kisah ini selesai.

Apakah aku mencintainya? Aku tak akan memberitahukan jawabannya kepada siapa-siapa.



Comments

Endingnya bener2 diluar dugaan. Keren euy cerpennya (y)
Tenni Purwanti said…
ini sebenarnya bingung nyari ending, sampai dua hari mikirnya hihi, jadinya begitu :D Alhamdulillah kalau suka :)