Sepilihan Sajak Sapardi Djoko Damono

Saya tidak begitu mengerti tentang puisi atau sajak, terlebih, tak bisa menciptanya juga. Namun sesekali saya suka membaca buku puisi atau sajak.. Kali ini, saya membaca buku karya Sapardi Djoko Damono dan hendak mengutip beberapa sajak yang saya suka. 


Judul buku; Hujan Bulan Juni, Sepilihan Sajak
Karya: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 120 (102 sajak)



DALAM DIRIKU

Because the sky is blue
It makes me cry
(The Beatles)

dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga darah,
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma
hidup namanya!
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya


(1980)


YANG FANA ADALAH WAKTU

Yang fana adalah waktu. Kita abadi;
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
    "Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?"
tanyamu. Kita abadi.

(1978)




PADA SUATU HARI NANTI

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari

(1991)


MATA PISAU

mata pisau itu tak berkejap menatapmu;
kau yang baru saja mengasahnya
berpikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu

(1971)


NARCISSUS

seperti juga aku: namanu siapa, bukan?
pandangmu hening di permukaan telaga dan rindumu dalam
tetapi jangan saja kita bercinta
jangan saja aku mencapaimu dan kau padaku menjelma

atau tunggu sampai angin melepaskan selembar daun
dan jatuh di telaga: pandangmu berpendar, bukan?
cemaskah aku kalau nanti air hening kembali?
cemaskah aku kalau gugur daun demi daun lagi?

(1971)


DALAM DOAKU

dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman
       tak memejamkan mata, yang meluas bening siap
       menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena
       akan menerima suara-suara

ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam
      doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau
      senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan
      muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana

dalam doaku sore ini menjelma seekor burung gereja yang
     mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di
     ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang
     tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hingga di dahan mangga itu

magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat 
      perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan kecil itu,
      menyusup di celah-celah jendela dan pintu, dan menyentuh-nyentuhkan
      pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang
     dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah
     batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang
     tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai 
       mendoakan keselamatanmu

(1989)


SAJAK-SAJAK EMPAT SEUNTAI

/1/

kukirim padamu beberapa patah kata
yang sudah langka --
jika suatu hari nanti mereka mencapaimu
rahasiakan, sia-sia saja memahamiku

/2/

ruangan yang ada dalam sepatah kata
ternyata mirip rumah kita:
ada gambar, bunyi, dan gerak-gerik di sana --
hanya saja kita diharamkan menafsirkannya

/3/

bagi yang masih percaya pada kata:
diam pusat gejolaknya, padam inti kobarnya --
tapi kapan kita pernah memahami laut?
memahami api yang tak hendak surut?

/4/ 

apakah yang kita dapatkan di luar kata:
taman bunga? ruang angkasa?
di taman, begitu banyak yang tak tersampaikan
di angkasa, begitu hakiki makna kehampaan

/5/

apa lagi yang bisa ditahan? beberapa kata
bersikeras menerobos batas kenyataan --
setelah mencapai seberang, masihkah bermakna,
bagimu, segala yang ingin kusampaikan?

/6/

dalam setiap kata yang kaubaca selalu ada
huruf yang hilang --
kelak kau pasti akan kembali menemukannya
di sela-sela kenangan penuh ilalang

(1989)


AKU INGIN

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(1989)


HUJAN BULAN JUNI

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(1989)







Comments