Siapa Inggit Garnasih?

Sebelum nonton film Soekarno garapan sutradara Hanung Bramantyo, saya tidak mengenal siapa Inggit Garnasih. Yang saya ketahui hanyalah nama Fatmawati, sebagai penjahit bendera pusaka yang pertama kali dikibarkan setelah pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan RI. Pengetahuan sejarah saya hanya mentok sampai di situ. Untunglah, di film Soekarno, Hanung menonjolkan sosok Inggit, istri kedua Bung Karno, yang ternyata punya andil lebih besar dalam sejarah Indonesia, dibandingkan Fat (panggilan untuk Fatmawati, yang ternyata adalah istri ketiga).

Dari film itu saya kemudian mengidolakan sosok Inggit, bukan karena ia perempuan Sunda seperti saya, melainkan karena ia menolak poligami yang ditawarkan Bung Karno, dan, ia adalah sosok di tepi sejarah, yang mengantarkan Indonesia pada kemerdekaan. Perannya mungkin sepele bagi yang mengartikan perjuangan adalah dengan senjata, dengan debat-debat panjang, dengan orasi di podium, dengan menulis. Inggit tidak melakukan semua itu. Ia hanyalah pendamping. Pendamping hidup Soekarno selama 20 tahun.

Tapi memang, sesuai judulnya, film itu tentu menonjolkan sosok Soekarno, bukan Inggit. Sehingga, ketika ada undangan liputan pertunjukan "Monolog Inggit" yang diperankan oleh Happy Salma, saya langsung mengajukan diri untuk meliput. Saya ingin tahu lebih dalam, siapa Inggit Garnasih dan bagaimana perjalanan hidupnya.



Sejak dipentaskan pertama kali di Gedung Kesenian Jakarta, Dewi Asri Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, 22 Desember 2011, Monolog Inggit telah tampil di lima tempat dengan sebelas kali pementasan: di Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) Bandung, Teater Salihara Jakarta, Bale Rumawat Universitas Pajajaran Bandung, Universitas Indonesia Depok, Universitas Pasundan Bandung, dan Galeri Indonesia Kaya (GIK) Jakarta. Tahun 2014 ini, Monolog Inggit kembali dipentaskan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (10/5).

Monolog ini merupakan tasfir ulang "Kuantar ke Gerbang" karya Ramadhan K.H yang dijadikan monolog oleh Ahda Imran. Pementasan berdurasi kurang lebih 120 menit ini disutradarai oleh Wawan Sofwan. Sebagai orang awam yang tak pernah menonton pertunjukan monolog, saya salut pada Happy Salma yang berhasil mementaskan Monolog Inggit untuk ke-14 kalinya (sesuai pengakuan saat wawancara) tanpa lupa naskah. Sebab, selama durasi 2 jam itu, ia harus bicara sendiri, mengisahkan perjalanan Inggit Garnasih selama mendampingi Soekarno. Beberapa kali penonton bergumam sendiri, bahkan tertawa, saat Happy dengan logat Sunda yang menonjol, mengisahkan hidupnya bersama Soekarno.

Saya sebagai bagian dari penonton, sungguh merasa sedang didongengkan sehingga kadang terbawa suasana marah, sedih, bahagia, yang dirasakan oleh Inggit. Salut pada Happy Salma yang sukses memerankannya. Ditambah lagi para penari yang melakukan visualisasi adegan dengan sangat indah (sekaligus sensual), dan sinden yang menyanyikan suara hati Inggit dengan lengkingan suara yang menyayat hati, pertunjukan ini sukses membuat saya haru. Saya bangga bisa mendapat kesempatan menonton pertunjukan berkualitas seperti ini, sekaligus mengenal Inggit lebih dalam.

Kembali ke pertanyaan: lalu siapa Inggit Garnasih?





Saya akan coba rangkum, siapa Inggit Garnasih di kepala saya, setelah menonton pertunjukan ini:

Inggit Garnasih (1884-1984) adalah istri kedua Soekarno. Istri pertama Soekarno bernama Utari, yang menurut pengakuan Soekarno, ia nikahi karena rasa hormat kepada H.O.S. Tjokroaminoto. Soekarno merasa seperti tidur dengan adik sendiri. Soekarno betul-betul jatuh cinta kepada Inggit sebagai lelaki kepada perempuan, meski Inggit saat itu telah bersuami. Soekarno meminta Inggit kepada suaminya. Anehnya, suami Inggit (H. Sanusi) memberi izin, bahkan menjadi saksi pernikahan mereka.

Selama 20 tahun Inggit mendampingi Soekarno. Membiayai kehidupan mereka berdua dengan cara berjualan bedak, menjahit pakaian. Boleh dikatakan, Inggit adalah tulang punggung rumah tangga. Ia juga yang selalu menjamu semua tamu-tamu Soekarno setiap kali ada rapat-rapat para tokoh di rumah mereka. Inggit juga yang selalu setia menjenguk Soekarno saat ia dipenjara di Bandung. Lalu ikut mendampingi Soekarno yang dibuang ke Ende dan Bengkulu. Ia mendampingi Soekarno tanpa pernah mengeluh, bahkan terus memberi, memberi, dan memberi. Ia bisa menjadi istri, sekaligus ibu, dan teman bagi Kusno (panggilan sayang Inggit kepada Soekarno).

Namun sayang, saat berada di Bengkulu, Soekarno jatuh cinta kepada perempuan lain (di monolog ini disebut namanya Fatima, meski banyak orang lebih mengenal dengan nama Fatmawati -saya sendiri tak tahu mana yang betul). Singkat cerita, Soekarno meminta izin kepada Inggit untuk melakukan poligami, namun tentu saja Inggit menolaknya. Dan inilah yang disampaikan Happy Salma sebagai penutup Monolog Inggit:

Dua puluh tahun aku menemaninya. Mengikutinya ke mana pun. Tak pernah ada kata lain yang diucapkannya pada kolonialisme, kecuali kata "tidak". Jika ia berani mengatakan "tidak" pada kolonialisme, mengapa aku mesti tidak berani mengatakan hal yang sama ketika Kusno ingin menjadikan aku perempuan sebagai koloni lelaki. Apapun alasan yang dipakainya. 
Seperti tanah air yang dibelanya, aku bukanlah sebuah koloni. Jangan hanya karena tubuhku tidak ditakdirkan menjadi tubuh seorang ibu, lantas aku tak berhak mengatakan "tidak". Dan kau tahu bukan, apa yang dia katakan agar aku jangan mengatakan "tidak".
Biarlah ini pula yang menjadi ujung semua kisah perjalananku mendampingi Kusno. Ketika ia sudah dekat dengan yang dimimpikannya. Memimpin tanah air di ambang kebebasan.
Sebagai istri, tugasku sudah selesai. Dan sebagai perempuan, aku sudah menunaikan kewajibanku mengatakan "Tidak" pada kemauan seorang lelaki bernama Soekarno. Dan demi kata itu, baik aku memilih kembali ke Bandung. Membawa kembali peti tua ini dan semua harga diriku. Tapi satu hal yang ingin aku katakan.
Aku, Inggit, akan tetap mencintainya ...

Bagi yang menonton film Soekarno tentu tahu akhir kisahnya. Soekarno menceraikan Inggit dan menikah lagi dengan Fat. Lalu Soekarno melanjutkan perjuangannya hingga sukses membacakan naskah proklamasi 17 Agustus 1945. Fatmawati tercatat dalam buku-buku sejarah, sebagai penjahit bendera merah putih, bendera pusaka, bendera yang pertama kali dikibarkan sejak proklamasi kemerdekaan dikumandangkan. Sesuai keinginan Soekarno, Fatmawati memberinya keturunan, salah satunya Megawati Soekarnoputri.

Tak ada buku sejarah yang menuliskan nama Inggit Garnasih. Dan monolog ini telah berhasil memperkenalkan sosok perempuan Sunda yang hingga akhir hayatnya tetap mencintai macan podium itu....








Comments