Proses Kreatif Cerpen Joyeux Anniversaire

Sebelumnya terima kasih kepada koran Kompas yang telah memuat karya cerpen saya hari ini, Kompas Minggu, 29 Juni 2014, halaman 31. Berikut akan saya ceritakan sedikit tentang proses kreatif penulisan cerpen ini:


Cerpen ini memang lahir dari pengalaman pribadi. Saya patah hati. Biasanya saya hanya menuliskannya di twitter, jadi kicauan tidak jelas yang membuat follower saya bosan. Entah mengapa siang itu saya menggerakkan jemari saya untuk membuka file word dan mulai mengetik cerita. Saat itu ceritanya masih betul-betul curhat, seperti menulis diary. Lalu saat saya buntu, saya memilih untuk memasak dulu, dan meninggalkan naskah yang sudah jadi tapi mirip diary itu.

Alhamdulillah, saya malah dapat inspirasi sambil mengiris kangkung. Ya, sambil masak. Jadi, mulai dari tanda bintang sampai ending, itu kisahnya saya dapatkan sambil memasak di dapur. Setelah masakan selesai, saya segera menuju laptop dan mengubah total cerita saya. Dari yang awalnya hanya ada satu tokoh "aku", menjadi dua tokoh "aku". Dua orang yang menceritakan kisah dirinya sendiri, dalam satu cerita. Juga ceritanya jadi murni fiksi dan kisah pribadi saya betul-betul menghilang dari cerpen ini.

Setelah jadi, saya pikir, kok sayang kalau langsung diposting blog. Saya pun iseng membuka file-file lama soal kultwit tip menulis dan mengirimkan cerpen ke Kompas Minggu, yang pernah dipublikasikan Bli Fajar Arcana di akun twitternya. Setelah baca poin-poinnya, saya pun kembali 'memoles' cerpen saya sehingga bisa masuk kriteria cerpen yang baik menurut kultwit itu. Saya lakukan editing akhir, mulai dari tanda baca, ejaan, juga data-data yang saya selipkan, saya periksa lagi. Setelah yakin semuanya aman, barulah saya kirimkan ke redaksi Kompas Minggu melalui email, tanggal 16 Maret 2014.

Waktu pun berlalu. Tidak ada kabar dari Kompas. Saya tidak banyak berharap sebetulnya, jadi akhirnya memang terlupa begitu saja. Hanya saja, menjelang ulang tahun saya 2 Mei 2014, saya pernah menghubungi Christian Pramudia, teman saya di Surabaya yang senang membuat film pendek. Saya meminta dia membuatkan film pendek dari cerpen itu, sebagai hadiah ulang tahun buat saya. Bahkan saya menawarkan diri untuk terjun langsung dalam proses produksinya di Surabaya. Tapi karena satu dan lain hal, pembuatan film pendek itu pun belum terlaksana sampai sekarang.

Dan hari ini, setelah saya betul-betul lupa sama cerpen itu, ada mention di akun twitter saya pada pagi hari, dari mas Oddie Frente. Saya bahagia sekali karena mention kedua juga hadir, dari pembaca cerpen saya yang lain. Saya belum sadar benar pagi itu, baru bangun tidur soalnya. Pas cek twitter, antara ada dan tiada, saya pelototin layar laptop. Lalu saya bergegas ke loper koran dekat kosan dan saat melihat nama saya betulan ada, langsung saya borong 3 :D

Begitulah. Hari ini saya banjir mention twitter dan notifikasi dari FB. Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman saya yang sudah baca cerpen itu dan mengapresiasinya. Hari ini saya bahagia sekali. Juga terima kasih kepada Bli Wayan Suja yang telah membuatkan ilustrasi cerpen yang begitu indah. Sampai saya jadikan wallpaper laptop sekarang. Terima kasih karena telah mengirimkan soft copy ilustrasi itu kepada saya.

karya I Wayan Suja


Terakhir, terima kasih kepada lelaki di masa lalu saya yang menginspirasi cerpen ini. Dan terima kasih kepada lelaki di masa kini yang telah menjadi Elang versi nyata, yang sudah menyembuhkan luka hati saya.

Sungguh, hari ini rasanya seperti mimpi. Surealis. Tapi ini nyata.

Terima kasih, Tuhan ...

Comments

WAYAN SUJA said…
Ciyee
Tenni Purwanti said…
wah, dibaca Bli Wayan. Jadi malu :D
Muhammad Ulum said…
Selamat ya atas cerpennya yang telah dimuat di Kompas. I like it!
Tenni Purwanti said…
Terima kasih sudah baca ya Muhammad Ulum