Membeli untuk Investasi

Kalau saja saya punya pembaca setia blog, mungkin akan bertanya-tanya ke mana saya selama ini sehingga blog ini tidak diupdate. Tapi kayaknya pembacanya ga sesetia itu, jadi diampuni lah ya, saya absen nulis blog berabad-abad gini (lebay sih).

Saya cerita saja di sini, kalau senjata saya untuk menulis (sebut saja laptop) yang sudah menemani saya bekerja sebagai jurnalis dan membantu saya menulis fiksi selama 2 tahun, harus saya hibahkan kepada adik saya di kampung. Usia mereka sudah memasuki usia membutuhkan laptop. Jadi saya pikir, daripada saya membelikan mereka laptop baru, lebih baik saya memberi mereka laptop bekas saya dan saya membeli laptop baru. Bentar, jangan protes dulu. Bukan berarti pelit, tetapi kalau nanti laptop itu rusak, saya ga sakit hati amat, toh sudah tua juga laptop itu :D

Dan sambil menunggu saya mengumpulkan uang kembali untuk membeli laptop, jadilah saya harus mengorbankan blog ini untuk sementara. Bisa sih update blog di kantor, tapi saya penganut azas profesionalisme sehingga tidak menggunakan fasilitas kantor untuk urusan pribadi (sumpah ini pencitraan).

Dan ternyata dalam perjalanan mengumpulkan uang itu, saya malah lebih dulu beli tablet (yang harganya jauh lebih mahal dari laptop). Ini penampakannya:




Mengapa saya membeli tablet?
Saya sudah mengincarnya sejak tahun lalu, tapi karena ditunda-tunda terus, saya ga jadi-jadi belinya. Saat ini saya paksakan beli mumpung uangnya ada.

Mengapa mendahulukan tablet?
Karena smartphone lama juga dihibahkan kepada adik yang satu lagi, sehingga saya tidak megang smartphone lagi. Kenapa tablet? Karena mata saya minus, sehingga saya butuh media yang lebih besar untuk mengakses internet dan bisa mobile. Sebagai jurnalis, saya butuh sekali gadget ini untuk motret saat liputan (saat tidak dibekali kamera kantor), juga untuk livetweet ke akun kantor. Terbukti, sejak punya tablet ini, banyak pekerjaan bisa saya lakukan selama liputan. 

Ada kelebihan lain?
Tentu saja. Dengan tablet ini, saya bisa main game saat menunggu liputan yang selalu ngaret, saat macet dan mati gaya di taksi, atau saat menunggu bus TransJakarta yang super duper lama itu, dan tentu saja main game sepulang kantor untuk melepas stres. Sejak punya tablet, saya merasa lebih 'hidup'. Lagipula, bayar psikolog itu harganya lebih mahal dari tablet. Jadi selama stres bisa dihapus dengan bermain tablet, benda ini jadi investasi jangka panjang untuk kesehatan mental saya. 

Nah, setelah mulai akrab dengan mainan baru di atas, saya mulai merindukan laptop. Terutama saat harus meng-upload video ke youtube untuk beberapa audisi yang ingin saya ikuti (untuk audisi ini masih rahasia sampai hasilnya keluar hehehe). 

Yang jelas, saya jadi kesulitan soal upload-upload youtube ini karena sulit mengedit video di tablet, juga saat meng-uploadnya jadi beraaaat buanget. Entahlah saya yang masih gaptek atau bagaimana, tapi saat itu saya jadi betul-betul merindukan laptop. Akhirnya saya putuskan, akhir Agustus 2014, saya harus beli laptop.

Akhirnya benda ini saya beli juga:



Cukup banyak menguras keuangan, membeli laptop dan tablet dalam waktu yang berdekatan. Tetapi saya pikir, kedua benda yang menurut saya cukup mahal ini adalah investasi jangka panjang saya. Mungkin akan ada yang bertanya: 

Sudah punya tablet kok beli laptop lagi? Boros amat!
Saya sangat gemar menulis. Selain tugas rutin sebagai jurnalis, saya juga senang menulis blog (isinya random) dan menulis fiksi (salah satu cerpen saya akhirnya masuk koran). Saya pikir, jika saya lebih rajin lagi, dengan laptop baru ini saya seharusnya bisa menghasilkan cerpen-cerpen baru, juga novel-novel baru yang akan menghasilkan untuk jangka panjang. Dan ini bukan soal uang. Meski memang, siapa sih yang tidak butuh uang? Setiap penulis juga pasti ada sedikit saja keinginan agar karyanya menghasilkan uang. Tapi yang lebih penting bagi saya adalah, saya tidak bisa hidup tanpa menulis. Jadi, tanpa laptop, saya seperti burung tanpa sayap. Lalu mengapa saya tidak memilih salah satu dan malah membeli dua-duanya?

Laptop dan tablet punya fungsi yang berbeda. Tablet saya gunakan untuk mobile karena hampir 2/3 waktu saya dalam sehari berada di luar rumah. Dan zaman sekarang bawa-bawa laptop ke mana-mana tentu saja rempong cyinn ... jadi tablet adalah pilihan tepat!

Sedangkan laptop, tentu saja, akan saya tempatkan khusus untuk di rumah (kosan sih). Untuk itulah mengapa saya sekarang memilih laptop dengan layar yang lebih besar (14''). Fungsinya lebih besar akan saya gunakan untuk tugas ketik-mengetik karya fiksi baru, update blog, edit dan upload foto-foto hasil karya fotografi amatiran saya, juga fungsi lain yang tentu saja tidak bisa di-handle tablet.

Jadi, meski awalnya berat (dalam hal pembayaran tentu saja), membeli dua benda ini dalam waktu berdekatan adalah keputusan terbesar saya tahun ini. Namun, akhirnya saya tidak menyesal karena dua benda ini adalah investasi jangka panjang saya untuk kehidupan profesional dan spiritual. 

Bolehlah saya bela diri sendiri bahwa saya membeli bukan untuk ikut-ikutan tren, ingin gaya-gayaan, atau pamer punya banyak gadget. Saya membeli untuk investasi. Dan saya bahagia atas keputusan ini. 



Comments