Kisah Jenaka di Cerpen Pilihan Kompas 2013

Rasanya di hampir semua buku Cerpen Pilihan Kompas, kita akan menemukan penulis-penulis yang hampir sama: Seno Gumira Ajidarma, Agus Noor, Putu Wijaya, Budi Darma, Arswendo Atmowiloto, Triyanto Triwikromo, bahkan di buku terbaru ini, saya menemukan nama penulis yang betul-betul tidak asing: Djenar Maesa Ayu!




Judul Buku: Cerpen Pilihan Kompas 2013
Klub Solidaritas Suami Hilang
Penerbit: Kompas
Jumlah halaman: 248

Saya tidak mengerti mengapa cepen "SAIA" karya Djenar bisa masuk ke dalam buku ini, sebab dari segi tema, sudah sangat basi: anak kecil yang merupakan korban keluarga broken home. Baiklah, mungkin memang tak ada tema yang betul-betul baru lagi di dunia ini, sebab cerita pendek ya pastinya akan berputar di kisah itu-itu juga. Tetapi bahkan Djenar sendiri sudah terlalu sering mengangkat tema yang serupa, sehingga saya tidak melihat unsur kebaruan dari cerpen ini.




Bercerita soal anak, saya malah lebih suka cerpen karya Sungging Raga yang berjudul "Alesia". Tak heran jika cerpen ini akhirnya dibuat versi film pendek dari 2 kelompok mahasiswa yang berbeda kota. Meski temanya juga lagi-lagi bukan tema baru: yakni anak kecil yang menunggui ibunya yang sedang sakit dan tak kunjung sembuh. Tetapi Raga (panggilan saya kepadanya -kebetulan kenal), seperti biasanya masuk ke dalam cerita dengan semena-mena dan membuat cerpen yang beraura kesedihan ini menjadi semacam parodi. Raga berhasil memparodikan karyanya sendiri. Kita simak cuplikan berikut:

Sejujurnya, Alesia -dan saya sebagai penulis cerita ini- masih tak yakin apakah benar yang datang itu memang malaikat atau hanya tokoh dongeng yang salah diberi nama sebagai malaikat, tapi baiklah kita ikuti terus apa yang terjadi. Sang malaikat lantas mengangkat cangkir kopi itu, meminumnya perlahan.
Alesia, halaman 171. 

Selain "Alesia", saya juga menggemari karya-kaya jenaka lainnya seperti cerpen "Eyang" milik Putu Wijaya dan "Piutang-Piutang Menjelang Ajal" karya Jujur Prananto. Cerpen-cerpen seperti ini membawa kesegaran di tengah cerpen-cerpen koran yang temanya kadang terlalu serius dengan teknik bercerita yang juga terlalu kaku. Kedua cerpen ini, memiliki ending yang hampir serupa, tetapi keduanya memiliki cerita yang sama sekali berbeda. Cerpen "Eyang" berkisah tentang seorang tua kaya raya yang dititipkan kepada anak buah sang anak. Meski dalam keadaan kesulitan keuangan, keluarga ini menerima eyang dengan senang hati, memberi eyang kehidupan yang 'manusiawi' sehingga eyang betah tinggal di sana. Ketika akhirnya eyang harus kembali ke rumah sang anak, eyang memberikan keluarga itu uang ratusan juta, tetapi dikembalikan kepada anaknya dengan alasan uang bukan segalanya. Padahal mereka sendiri sebetulnya butuh. Pokoknya cerpen ini kocak sekali karena endingnya adalah saat tokoh suami-istri yang sudah mengembalikan uang itu harus menerima kembali kehadiran eyang yang memutuskan untuk tinggal sebulan lagi, padahal uang sudah dikembalikan dan mereka juga tak punya tabungan. Sedangkan cerpen "Piutang-Piutang Menjelang Ajal" menceritakan seorang seorang keponakan yang bingung bagaimana harus membayar utang kepada omnya yang sedang sekarat hampir meninggal. Cerita berpusat pada Chaerul yang berusaha melunasi utang-utangnya sebelum Om Sur meninggal sampai menjual rumah dan mentrasfernya ke Arifin, anak Om Sur. Padahal, kenyataannya, endingnya seperti ini:

"Om ingin... menganggap lunas semua utangmu... Dengan nama Allah, Om bersumpah, tak ada lagi... utang-piutang... di antara kita... Lailaha ilalaah..."
     Terdengar suara alarm apanjang pertanda terhentinhya detak jantung. Dokter dan para perawat berdatangan. Mereka sempat bingung, mana yang harus mereka tangani lebih dulu, Almarhum Om Sur, atau Chaerul, yang tergolek lemah di lantai dengan mulutnya yang berubah bentuk.
Piutang-Piutang Menjelang Ajal, halaman 87. 
Cerpen yang tak kalah kocak datang dari Joko Pinurbo dengan "Laki-Laki Tanpa Celana". Lelaki yang akrab disapa Jokpin ini menggunakan sudut pandang orang pertama untuk 2 tokoh utama (perempuan dan laki-laki). Kedua tokoh bercerita secara bergantian secara kronologis. Teknik yang juga pernah saya lakukan pada beberapa cerpen saya dan mungkin juga pernah digunakan oleh penulis lain. Butuh ketelitian dalam menulis dengan teknik seperti ini. Uniknya, Jokpin berhasil memasukkan tokoh Sapardi Djoko Damono (penyair yang hidup di dunia nyata) di sela-sela cerpennya yang notabene fiksi ini. Bahkan tokoh gadis kecil yang ada dalam puisi Sapardi pun dimasukkan ke dalam cerpen ini, menjadi tokoh yang mulai tumbuh dewasa, lalu bertemu dengan penulisnya: Sapardi. Mari simak cuplikan cerpen berikut:
Saya hampir tak percaya melihat Sapardi duduk manis di samping perempuan itu sambil membolak-balik halaman-halaman buku Laki-Laki Tanpa Celana. Sesekali mereka berdua berbincang akrab sambil ketawa-ketawa, padahal dulu perempuan itu mengaku tidak mengenalnya. Saya tak tahu apakah mereka diam-diam bersekongkol untuk menghancurkan mental saya. Mudah-mudahan hanya kebetulan saja.
Laki-laki Tanpa Celana, halaman 146. 
Di akhir cerpen, Jokpin pun menuliskan pengakuan bahwa cerpen ini sebetulnya adalah hasil gubahan dari puisinya sendiri yang berjudul sama: Laki-laki Tanpa Celana.

Percaya atau tidak, saat membeli buku ini dan memperhatikan satu-persatu nama penulis cerpen di dalamnya, saya sudah berniat akan membaca karya Jokpin ini sebagai penutup, artinya dibaca paling terakhir, meski cerpen terakhir dalam cerpen ini adalah karya Seno Gumira Ajidarma (SGA). Saya punya insting kuat bahwa membaca karya Jokpin paling akhir akan memberikan punch line atau twist saat membaca buku ini dan insting saya benar adanya! Teknik membaca yang menggunakan istilah save the best for the last ini memang selalu saya gunakan setiap kali membaca kumpulan cerpen.

Dan meski saya mulanya lebih menyukai karya-karya SGA ketimbang Jokpin, namun di buku ini karya SGA sayangnya hanya berbentuk seperti pamflet: mengisahkan kembali fakta-fakta yang bertebaran di media massa dan disajikan ke dalam karya sastra. Dalam buku ini saya sedang mencari kesegaran-kesegaran dari cerpen dan saya mendapatkan itu dari 4 cerpen yang sudah saya bahas di paragraf-paragraf sebelumnya.

Ya, dari 23 cerpen dalam buku ini, saya hanya menggemari 4 cerpen saja untuk saya jadikan bahan belajar menulis cerpen. Selebihnya tentu saja sudah saya baca tetapi hanya sebatas mengisi waktu luang saat menunggu bus TransJakarta, atau menunggu seseorang yang akan menjemput, atau saat menunggu jumpa pers dimulai. Bahkan cerpen "Klub Solidaritas Suami Hilang" yang menjadi pemenang tahun 2013 tidak begitu mencuri hati saya karena mungkin sudut pandang penceritaannya yang agak 'njelimet' sehingga membuat kening saya berkerut.

Demikian dari saya dan silakan jika teman-teman pembaca blog ini memiliki pandangan lain. Saya terbuka untuk diskusi.





Comments