Belajar dari Eka Kurniawan

Saya berkenalan dengan karya Eka Kurniawan sejak membaca novel "Cantik Itu Luka". Sebetulnya sangat terlambat sebab novel itu pertama kali terbit tahun 2004, saat saya baru masuk kuliah. Dan saya baru membacanya 10 tahun kemudian, setelah novel ini cetak ulang sebanyak 3 kali dan 2 kali ganti cover. Sejak perkenalan dengan novel itu, saya langsung jatuh cinta pada karya Eka dan sebagaimana kebiasaan saya ketika jatuh cinta kepada karya satu orang penulis, saya akan mengoleksi semua buku yang pernah ditulisnya untuk membuktikan bahwa penulis tersebut layak dijadikan penulis favorit. Sebab, saya sudah menemukan beberapa penulis yang salah satu karyanya best seller tetapi karya lainnya biasa-biasa saja. Tidak demikian dengan Eka. Saya jatuh cinta berkali-kali pada karyanya. Setelah novel "Cantik Itu Luka", saya membaca novel "Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas", baru kemudian kumpulan cerpen "Corat-Coret di Toilet". Ketiga buku ini sukses membuat saya jadi sangat ingin bertemu dengan penulisnya!




Dan keinginan itu pun terwujud! Saya hadir dalam Kemang Art & Coffe Festival 2014 di Galeri 678, Kemang khusus untuk menemui Eka yang dijadwalkan akan menjadi pembicara talkshow bertema "Creative Thinking" bersama Joko Pinurbo. Ini seperti peribahasa Pucuk Dicinta Ulam Tiba! Bahkan saya tak hanya dapat satu, tapi 4: foto bareng, minta tanda tangan, ngobrol langsung berdua saja, dan ditutup dengan menyimak talkshow.
























Sebelum talkshow dimulai, saya sudah melihat kehadiran Eka dan saya langsung menemuinya untuk meminta tanda tangan dan foto bareng (yah bagaimana lagi, namanya juga fans!). Karena semua orang asyik sendiri dengan urusannya dan saya lihat Eka sedang tidak diajak ngobrol oleh siapa pun, saya pun memberanikan diri untuk mengajak ngobrol seputar karya-karya yang pernah ditulisnya. Rasanya wajah saya merah saat itu karena saya merasakan hawa panas di wajah saya dan sesekali saya bingung mau bertanya apa (padahal saya wartawan dan sering bertemu narasumber penting). Keahlian saya mewawancara narasumber pun luntur seketika di depan Eka. Akhirnya saya hanya bisa ngobrol sebatas saling berkenalan dan meminta alamat email lalu membahas sedikit karya Eka. Lagipula beberapa menit lagi Eka juga akan bercerita panjang lebar soal creative thinking, jadi biarkan semuanya diceritakan pada tempatnya.



Saya duduk paling depan untuk menyimak dengan seksama sharing dari 2 penulis yang menurut saya sudah tak diragukan lagi karyanya: Eka dan Jokpin! Tapi mohon maaf karena dalam postingan ini saya hanya akan banyak bercerita soal Eka. Berikut rangkuman talkshow selama kurang lebih 2 jam (saya awalnya tidak mengira akan selama ini):


  1. Eka Kurniawan lahir di Tasikmalaya tetapi menjalani masa kecil di pantai Pangandaran yang memiliki banyak kisah untuk diceritakan, tetapi ia terganggu pada kisah pemerkosaan yang memenuhi pikirannya hingga menjelang dewasa. Kisah pemerkosaan ini yang memicunya menulis novel "Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas". Ia lantas memasukkan tokoh 2 orang polisi sebagai pelaku pemerkosaan, yang ia jadikan simbol kebobrokan negeri ini: penegak hukum yang melakukan pelanggaran hukum. Sedangkan tokoh supir truk yang menjadi tokoh utama novel ini terinspirasi ketika ia tak sengaja bertemu supir truk di Tanjung Priok saat berkunjung ke sana untuk menemui teman atau saudara. Ide awal tentang pemerkosaan kemudian dirangkai dengan kehidupan tokoh supir truk ini sukses menjadi sebuah novel. Intinya, inspirasi menulis itu bisa datang dari mana saja, dari kehidupan sehari-hari. Penulis harus bisa menjadi seperti spons yang menyerap apa saja di sekelilingnya. Hal inilah yang dirasakan Eka saat menjalani proses "Creative Thinking".
  2. Sementara dalam novel "Cantik Itu Luka", Eka mendapat inspirasi dari cerita sejarah yang diubahnya menjadi cerita parodi. Menurut saya novel ini berkisah tentang sejarah Jugun Ianfu (perempuan pribumi yang diperkosa dan dijadikan pelacur saat penjajahan Jepang), tetapi ia tidak mengatakannya. Persis seperti yang dilakukan Pramoedya Ananta Toer dalam novel "Perempuan dalam Cengkeraman Militer", Eka juga memfiksikan fakta sejarah. Perbedaan kedua penulis ini tentu saja dari teknik bercerita. Jika Pram lebih suka menulisnya seperti jurnalisme sastrawi, Eka lebih suka menulisnya dengan gaya parodi. Sejarah kelam bangsa ini bisa saya nikmati dengan cara yang lebih menghibur, bisa saya resapi dengan cara yang lebih 'fun'. Meski banyak cerita yang demikian lucu, saya tidak menganggap bahwa novel ini sedang meremehkan sejarah. Justru Eka sukses menyajikan sejarah dengan caranya sendiri. Ini persis ketika saya bertanya, mengapa Eka senang menggunakan kata-kata vulgar dalam novelnya dan tidak menggunakan kata pengganti. Ia jawab: ia tidak ingin seperti penulis lan. Ketika ia ingin menulisnya seperti itu, ya seperti itu yang tertulis. Ia berhasil jadi dirinya sendiri ketika menulis sebuah karya, meskipun ia begitu banyak membaca buku karya penulis mana pun, baik dari dalam maupun luar negeri. 
  3. Dari hasil bacaannya itu, Eka memang menggemari beberapa karya yang akhirnya menginspirasi dirinya menulis karya baru. Ada yang ia caplok kalimat pertamanya untuk menjadi kalimat pembuka salah satu cerpennya, ada pula yang ia adaptasi jadi judul buku. Ia tak memungkiri, seorang penulis pasti akan terpengaruh oleh penulis lain. Sebuah buku pasti akan mempengaruhi buku lainnya. Begitu pun yang terjadi pada Eka. Namun, bagaimana membuat karya itu memiliki ciri khas? Inilah yang dilakukan Eka kemudian. Eka selalu ingin menciptakan karya-karya yang demikian berbeda satu sama lain. Misalnya ia telah menulis "Cantik Itu Luka" sepanjang hampir 500 halaman dengan banyak sekali tokoh dan karakter yang masing-masing dikisahkan jalan hidupnya. Kemudian untuk novel berikutnya "Lelaki Harimau", Eka lalu mengubah seratus persen karyanya menjadi demikian pendek (kurang dari 200 halaman kalau tidak salah) dengan tokoh yang lebih sedikit dan kisah yang tidak berbelit-belit. Hal ini diakuinya dalam talkshow dan menurut saya cukup menarik karena Eka berhasil keluar dari zona nyaman untuk menjadi penulis yang begitu-begitu saja. Ia selalu men-challenge dirinya sendiri dan karyanya selalu memiliki konsep.
  4. Ngomong-ngomong soal konsep, Eka juga bercerita soal proses kreatif menulis novel. Setiap kali menulis novel, Eka selalu mengutak-atik bab pertama sehingga bab inilah yang paling banyak memiliki draft. Ia mengaku paling boros nge-print karena setiap kali revisi ia akan mencetak ulang draft-nya itu, mencorat-coretnya, revisi lagi di MS Word, dan cetak lagi, sampai dapat bab pertama yang utuh sempurna menurut versinya sendiri. Bagi Eka, setelah novel melewati bab pertama, maka bab selanjutnya akan lancar jaya. Inilah yang membuat novel Eka begitu melekat di hati pembaca. Bagaimana pun, diakui atau tidak, pembaca pasti akan memilih untuk melanjutkan membaca atau membuang buku setelah membaca bab pertama. Kedispilinan Eka untuk menyempurnakan bab pertama membuat novelnya  patuh pada konsep yang dibangun sejak awal sehingga cerita tidak melenceng ke mana-mana, dan tentu saja sukses menggiring pembaca membuka halaman bab selenjutnya.
  5. Oh iya, terakhir, Eka ternyata mengungkapkan satu rahasia yang selama ini mungkin belum pernah ia ungkapkan di mana-mana, yaitu bahwa sebelum menulis prosa, Eka lebih dulu menulis puisi. Berdasarkan pengakuannya, Eka pernah menganggap menulis puisi lebih mudah karena lebih pendek. Tapi dalam perjalanannya menulis puisi, Eka menyerah dan menganggap bahwa sebetulnya puisi malah lebih susah dari prosa. Maka ia salut kepada penyair, kepada profesi penyair, yang bisa merangkai kata menjadi demikian indah dan bermakna, seperti yang juga dilakukan Jokpin (saya melihat Jokpin agak sedikit terkejut mendengar pengakuan itu lalu tersenyum). Karena dalam talkshow itu pun Jokpin juga menceritakan bahwa satu puisi yang pendek dan tampak sederhana sekalipun, ia tulis dalam beberapa kali revisi, sambil melakukan pemilahan kata. Menulis coretan-coretan di kertas juga dilakukan Jokpin seperti Eka saat menulis bab pertama novel. Jadi menulis puisi memang tidak gampang, begitu pengakuan keduanya. Tetapi bukan berarti tidak bisa dipelajari. Jokpin dan Eka sama-sama mengajak saya (dan teman-teman yang hadir di talkshow) untuk tidak berhenti belajar. Bahwa proses menghasilkan sebuah karya memang panjang dan melelahkan (bahkan Jokpin mengaku modalnya juga kadang lebih besar dari hasil yang ia dapatkan), tetapi ketika karya itu sudah jadi dan dinikmati pembaca, maka akan menjadi rekaman perjalanan hidup kita yang paling jujur sebagai penulis. 

Bagi yang tidak menyimak dengan baik talkshow ini, mungkin akan menganggap 2 jam adalah kelamaan untuk sebuah talkshow yang hanya diisi 2 pembicara. Tapi bagi saya, mendengar Jokpin dan Eka bercerita begitu detail tentang proses kreatif menulis, sungguh kepuasan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Saya dapat banyak pelajaran dan memicu saya untuk kembali menulis, kembali berproses, kembali belajar, kembali menjadi spons yang menyerap kehidupan di sekeliling saya dan memberikannya makna.

Terima kasih Eka Kurniawan dan Joko Pinurbo telah membuat hari saya demikian sempurna!

Comments