Je t’aime

: Rangga Rivelino

Hanya dengan memelukmu aku merasa tak ada lagi yang ku butuhkan di dunia selain rasa aman. Hangat itu tak bisa kusandingkan dengan apa pun. Dalam pelukanmu aku tak ingat lagi segala ragu yang pernah menjangkiti pikiran kita. Ragu adalah benalu yang akan selalu memisahkan tangan-tangan kita yang saling menyambut.

Kepalamu adalah lalu lintas paling sibuk yang pernah ku tahu. Kadang tubuh dan jiwamu berpisah meski kau sedang di depanku. Tapi aku tahu hatimu tak pernah ke mana-mana. Ia selalu setia menunggu seorang perempuan berambut hitam panjang seperti air terjun dan badai dalam kepalanya. Serta bibir seumpama laut bergelombang tenang yang siap menyeret segala kecemasanmu.

Rindu memang selalu datang tak tepat waktu. Kadang ia datang saat seluruh dunia menyeret kita dengan segala kerumitannya. Kadang ia juga datang saat kita tak memiliki sepeser pun uang untuk saling menghalau jarak. Tapi setiap kali aku berhasil menatap matamu, aku tahu, semua itu tak akan bisa menghancurkan kokohnya cinta yang telah kita bangun justru dari sebuah kesederhanaan.

Aku tahu diri selamanya aku tak akan pernah bisa menuliskan puisi untukmu. Tapi cintaku kepadamu adalah puisi yang tak perlu digubah lagi. Selamanya ia akan tetap seindah apa yang pernah kau rasa, yang pernah kau cecap, yang pernah kau hirup. Yang kau perlu lakukan hanyalah tetap percaya, bahwa mimpi kita bisa nyata dan meraksasa selama tangan kita tetap saling menggenggam.



Comments