Rangkaian Kejutan di 2014

Saya biasanya punya ritual di awal tahun, yakni menuliskan refleksi dan resolusi. Tapi sejak tahun kemarin, saya memutuskan untuk menuliskan refleksi saja, tanpa menuliskan resolusi. Sebab saya tak ingin terbebani dengan target dan lebih siap menghadapi kejutan-kejutan dari Tuhan.

Jika tahun 2013 adalah tahun traveling seperti yang pernah saya tulis dalam notes ini:
maka tahun 2014 boleh dibilang sebagai tahun kejutan buat saya. Seperti yang saya harapkan di awal tahun, saya siap menerima kejutan-kejutan. Dan berikut daftar kejutan itu:

1. Menang resensi buku (April 2014)
Saya iseng ikut lomba #ResensiPilihan yang digelar akun twitter @Gramedia yakni merensi buku terbitan Gramedia, menuliskannya di blog lalu mention akun Gramedia dan sertakan link tulisan dan pakai hastag #ResensiPilihan. Saat itu saya merensi buku Simbiosa Alina karya Sungging Raga dan Pringadi Abdi Surya. Tulisan saya pun terpilih sebagai Resensi Pilihan dan hadiahnya adalah memilih satu buku terbitan Gramedia yang saya suka. Akhirnya saya mendapat novel "Cantik Itu Luka" karya Eka Kurniawan. Buku ini sudah lama terbit dan saya ingin sekali membeli dan membacanya tapi selalu ditunda. Mungkin jalannya memang harus dapat buku gratis :)

Ini dia link resensi yang saya buat:

2. Bertemu Eka Kurniawan (Desember 2014)
Saya tidak menyangka kalau tahun 2014 saya akan membaca 3 buku karya Eka sekaligus. Tentu saja ini bermula dari membaca "Cantik Itu Luka" lalu saya ketagihan baca karya Eka yang lain ("Corat-Coret di Toilet" dan "Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas"). Dan di akhir tahun 2014, akhirnya saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bertemu Eka Kurniawan. Ajaib sekali!

Kisahnya sudah saya bagi di blog ini, di link berikut:

3. Cerpen dimuat di Kompas (29 Juni 2014)

Penulis pemula mana yang tak ingin karyanya dimuat di Kompas? Rasanya seperti mimpi. Ya memang ini mimpi yang jadi kenyataan! Seumur hidup saya tidak pernah membayangkan cerpen saya akan dimuat di koran, apalagi Kompas. Saya tidak pernah bisa percaya diri untuk menyatakan karya saya layak dimuat. Maka saya tak pernah mencoba menulis apalagi mengirimkannya. Entah mengapa bulan Maret 2014 saya mendapat ide menulis ini begitu saja dan akhirnya saya kirimkan di akhir bulan itu, langsung ke Kompas! Sebut saja saya nekat. Karya pertama yang saya kirim untuk koran, langsung saya kirim ke Kompas. Dan memang baru dimuat 3 bulan kemudian, bahkan setelah saya lupa bahwa saya pernah mengirimnya. Pengalaman yang tak akan pernah saya lupakan. 

Cerpennya bisa dibaca di sini:
http://www.rosepr1ncess.blogspot.com/2014/07/joyeux-anniversaire.html

4. Jadi relawan pengajar di Kelas Inspirasi (24 April 2014)
Tahun 2013 saya pernah ikut seleksi untuk Kelas Inspirasi, tetapi gagal. Tahun 2014 ini saya ikut seleksi lagi dan ternyata lolos. Akhirnya saya bisa berpartisipasi dalam program Kelas Inspirasi untuk profesional. Berikut cerita selengkapnya sudah saya tulis di sini:

http://www.rosepr1ncess.blogspot.com/2014/04/satu-hari-untuk-selamanya.html

5. Solo trip ke Solo (Mei 2014)
Entah mengapa saya malas sekali menuliskan perjalanan ini di blog. Akhirnya hanya terdokumentasi melalui foto-foto di Facebook. Padahal ini adalah pertama kalinya bagi saya jalan-jalan sendirian ke luar kota. Biasanya saya pergi bersama rombongan wartawan (liputan) atau rombongan backpacker (open trip). Tapi saat ke Solo tahun ini, saya betul-betul berangkat sendirian. Tiga hari dua malam saya menginap di Solo, sendirian. Saya sedang melatih diri agar bisa solo backpacking dan saya merasa cukup berhasil. Semoga tahun 2015 saya semakin rajin solo backpacking. Kota Solo atau Surakarta tahun ini saya pilih sebagai destinasi pertama belajar solo backpacking karena kebetulan sedang hangat-hangatnya masyarahat Indonesia membicarakan Joko Widodo, calon Presiden mantan walikota Solo. Saya jadi penasaran, seperti apa sih kota Solo setelah disulap Jokowi? Memang bersih, teratur, dan makanannya enak-enak hehe. Saya mencoba tengkleng khas Solo di dekat Taman Sriwedari. Rasanya uenak tenan!




Sebelum makan Tengkleng ini, saya mendatangi Keraton Surakarta dan Taman Sriwedari. Beruntung, saat mengunjungi Taman itu, sedang ada sanggar-sanggar tari yang sedang latihan wayang orang. Setelah menengok peninggalan sejarah di Keraton, saya menyaksikan sendiri bagaimana seni dan budaya masih dipertahankan dan bahkan dipelajari generasi muda di Solo saat melihat mereka latihan wayang orang. Ah, salahkan saya yang tidak segera menuliskan kisah ini di blog! 

Selain itu, yang seru dalam perjalanan ini adalah, ini juga pertama kalinya saya naik kereta api seorang diri untuk jarak yang cukup jauh. Bahkan saya nekat ke Bandung dulu untuk mendapatkan tiket kereta api jurusan Bandung-Solo. Jadi perjalanan saya lebih ribet: Jakarta-Bandung-Solo-Bandung-Jakarta. Saya menginap di Tune Hotel di Solo. Lucky me, dapat hotel yang dekat dengan stasiun kereta Solo Balapan dan dapat harga promo hehe.

6. Mengunjungi tanah leluhur di Baduy Dalam (31 Mei 2014)


Tanpa sengaja, trip saya ke Solo waktunya berdempatan dengan trip saya ke Baduy Dalam. Namun kali ini saya berangkat bersama teman-teman backpacker (open trip). Sebagai perempuan yang memiliki darah Sunda, rasanya tak lengkap jika seumur hidup saya tidak pernah menginjakkan kaki di Baduy Dalam. Konon, suku Sunda awalnya berasal dari tempat ini. Itu berarti, leluhur saya terlahir di tanah ini juga. Maka bagi saya, mengunjungi Baduy Dalam adalah seperti melihat kehidupan para leluhur saya sendiri. Kehidupan yang jauh dari modern, apalagi untuk kaum perempuannya. Sebab kaum perempuan di Baduy Dalam tidak diizinkan meninggalkan kampung. Mereka hanya berada di dalam rumah untuk masak dan melakukan pekerjaan domestik lainnya. Sementara para lelaki boleh mengurus kebun dan keluar dari Baduy Dalam ke Baduy Luar, bahkan ke tempat lain seperti Jakarta. Memang rasanya tidak adil tetapi itulah adat di sana yang belum pernah didobrak. Ini foto saya bersama anak-anak suku Baduy di perbatasan Baduy Dalam dan Baduy Luar karena ada larangan untuk berfoto di Baduy Dalam.

7. Beli Laptop dan Tablet sekaligus
Tahun 2014 adalah tahun saya memperbaharui "senjata" saya untuk menulis: laptop. Juga sekaligus gadget yang melengkapinya (tablet). Meskipun penuh drama (hanya saya dan pacar yang akan tahu kronologisnya), saya tetap sangat bersyukur tahun ini bisa mewujudkan memiliki laptop dan tablet sekaligus. Pembelian dua benda ini merupakan pengeluaran terbesar saya tahun ini, namun saya membuktikan bahwa saya bekerja tidak sia-sia. Kalau boleh jujur, saya termasuk orang yang boros dan sulit menyimpan uang, sehingga pada mulanya saya ingin membeli dua benda baru ini hanya untuk membuktikan saya bisa menyisihkan uang. Akhirnya gaji saya ada wujudnya juga!

Kisahnya bisa dibaca di sini:
http://rosepr1ncess.blogspot.com/2014/08/membeli-untuk-investasi.html



Demikian refleksi tahun 2014 yang saya ingat. Selebihnya hanyalah rutinitas membosankan di kantor yang tidak kunjung tuntas dengan kata: resign. Mungkin 2015 akan jadi tahun saya akhirnya memutuskan resign, atau bisa juga tidak. Saya belum berani memprediksikan. Hanya saja saya sedang berpikir untuk membuat gebrakan-gebrakan kecil di tahun 2015 dan siap menerima kejutan yang lebih besar lagi. Saya masih belum berani menuliskan resolusi. Jalani saja, bergerak, bekerja, berusaha, berdoa! Biar Tuhan yang mengabulkan rencana-rencana saya.




Comments