Gelombang, Seri Supernova yang Menggemaskan

Sebelumnya saya ingin mengingatkan, review ini bisa jadi berisi 90 persen spoiler dan 10 persen opini.

Saya menamatkan Supernova Gelombang selama 2 hari (mengambil dari jatah 5 hari cuti kerja). Kesan saya selama dan setelah membaca adalah: seri Supernova kali ini sungguh-sungguh sangat menggemaskan. Mulai dari pemilihan nama tokoh, alur, dialog, sampai endingnya.



Novel dibuka dengan kelanjutan dari Supernova Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh (KPBJ) dengan adegan Gio yang kehilangan Diva Anastasia di hutan Amazon. Untuk yang belum pernah baca KPBJ tentu akan bingung siapa tokoh Gio dan Diva ini. Oh sayang sekali, saya sarankan Anda baca KPBJ dulu agar tidak bingung baca Gelombang. Bahkan saya juga sarankan Anda membaca semua seri Supernova setelah KPBJ yakni Akar, Petir, dan Partikel, sebelum baca Gelombang agar tidak syok, sebab seri yang terakhir ini sungguh-sungguh akan menghubungkan Anda dengan seri KPBJ (pada bab pembuka) dan seri Akar (pada endingnya -maaf spoiler dimulai).

Setelah satu bab pembuka tentang paniknya Gio akan hilangnya Diva (yang tak akan terjawab sepanjang novel ini ke mana dan mengapa hilang), maka cerita kemudian beralih ke keping 43. Pembaca setia serial Supernova pasti memperhatikan bahwa Dee tidak pernah menggunakan kata "Bab" tetapi menggantinya dengan kata "Keping". Dan bagian awal saat Gio kehilangan Diva bukanlah bagian dari "Keping 43" yang merupakan isi novel ini, melainkan terpisah, tersendiri, seolah-olah ia hanya kelanjutan dari "Keping 33" di KPBJ dan ditaruh di awal untuk menunjukkan bahwa serial Supernova harus terhubung oleh tokoh bernama Gio dan Diva.

Novel ini beralih begitu saja ke "Keping 43" yang mengisahkan tokoh baru bernama Alfa. Pembaca akan mengetahui bahwa dialah sang "Gelombang" di halaman 339, saat Alfa bertemu dengan Bintang Jatuh. Semakin jauh mengikuti perjalanan Alfa, maka semakin pembaca mengerti mengapa Alfa bisa bertemu Bintang Jatuh dan apa tujuan pertemuan mereka.

Dari sini saya merasa Dee memang begitu matang mempersiapkan serial Supernova. KPBJ terbit pertama kali tahun 2001 (meski selesai sebagai manuskrip sejak tahun 2000). Dan Supernova Gelombang terbit September 2014 (artinya lebih dari 10 tahun pembaca harus menunggu kepastian serial ini mau dibawa ke mana). Betapa setianya pembaca menanti satu serial demi satu serial muncul. Jika ceritanya tidak sebegitunya menarik dan membuat penasaran, pasti pembaca sudah berguguran di seri ke-dua atau ke-tiga. Tapi kenyataannya, menurut saya sudah bisa dipastikan, seri Intelegensi Embun Pagi (sebagai seri terakhir Supernova) akan diburu laskar pembaca setia Supernova seperti pembaca setia Harry Potter yang rela menanti berjam-jam di depan toko buku saat serial terakhir novel fantasi itu terbit. Dee, dengan hak prerogatifnya sebagai penulis, menuliskan ending yang menggantung di serial Gelombang ini dan "memaksa" pembaca menunggu kelanjutannya di Intelegensi Embun Pagi. Dee juga menghubungkan Alfa dengan Bodhi, sang "Akar". Mungkin ini adalah pencarian pertama  "Gelombang" yakni menemukan "Akar" sebelum menemukan "Petir" dan "Partikel".




Tak ada yang akan protes sekiranya saya menyebut Dee sebagai "JK Rowling"-nya Indonesia. Dengan lihainya Dee menghubungkan Supernova KPBJ dengan Gelombang, lalu ending Gelombang dengan Akar. Saya iseng buka lagi Akar dan menemukan ending Akar yang menyebut-nyebut nama tempat: Asko (yang ternyata akan dijelaskan secara detil di Gelombang). Kalau tidak baca semua serinya, mana bisa mengerti? Sebagai "Ibu" yang mengandung dan melahirkan Supernova, Dee sungguh-sungguh jenius!

Baiklah, terlepas dari kekaguman saya terhadap rapi dan konsistennya Dee membuat penasaran pembaca setia Supernova, saya ingin menuliskan keunikan-keunikan Gelombang:

1. Setelah menulis Supernova sebanyak 4 seri, akhirnya dalam buku ke-5, Dee menuliskan tokoh dari suku Batak, darah yang mengalir di tubuh Dee sejak lahir. Di Kata Pengantar (yang justru disimpan di halaman terakhir), Dee menceritakan bahwa ia sampai sengaja ke Tambunan Sunge, Balige (kampung halaman orang tua), setelah puluhan tahun tak ke sana,  hanya untuk riset. Sejak tahun 2001 ia sudah tahu bahwa ia akan menulis karakter lelaki Batak untuk Supernova Gelombang. Dia juga ke Medan, bertemu Monang Naipospos, seorang tokoh Parmalim, berbicara tentang agama asli Batak dan nilai-nilai spiritualismenya, bagaimana suku Batak memandang kehidupan manusia dan semesta. Ia yang berdarah asli Batak pun baru kali itu mengenal kosmologi Batak yang luar biasa.
"Setiap babak dalam kehidupan Alfa mendorong saya belajar hal baru sekaligus mengapresiasi apa yang selama ini saya lewatkan. Di babak berikutnya, lewat perantauan Alfa ke jantung modernitas yang diwakili Jakarta dan New York, saya memaknai ketangguhan dan kerja keras suku perantauan yang merupakan bagian dari tradisi banyak suku di Indonesia."
Tak heran, jika KPBJ dihujani istilah-istilah ilmiah, maka Gelombang akan dihujani istilah-istilah Batak yang bertebaran dan menambah wawasan kita sebagai bangsa Indonesia.

2.  Hampir di semua karya Dee saya menemukan bahwa Dee memiliki selera humor yang tinggi sebagai penulis. Tak terkecuali Gelombang. Kali ini ia menamakan tokohnya sangat-sangat lucu: Albert Einstein, Sir Isaac Newton, dan Thomas Alfa Edison (pakai F bukan V). Tiga Sagala bersaudara yang kemudian nama ketiganya diplesetkan menjadi Eten, Uton, dan Ichon oleh warga karena nama mereka yang terlalu sulit dieja. Ichon, sang bungsu, kemudian mengganti namanya menjadi Alfa Sagala saat berangkat ke New York (nama ini memang terdengar lebih 'normal' dibanding nama yang didapatnya saat lahir). Ditambah lagi soal nama Frank Sinaga di halaman 110 yang membuat saya terpingkal.

3. Di halaman 152 saya menemukan kata "Tergemap". Ini baru bagi saya dan saya sampai membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia dan menemukan kata dasar "Gemap" yang artinya tercengang, tertegun, bingung. Dee tak hanya lihai merangkai cerita tetapi juga lihai memilih kosakata. Ini harus dimiliki semua penulis.

4. Novel ini akan banyak bercerita tentang alam mimpi. tetapi di halaman 419-420, pembaca akan diajak menelaah kembali pengertian tubuh, kematian, dan kehidupan dari sisi yang berbeda. Juga pengertian akan dimensi akan dijelaskan panjang lebar sejak halaman 432 hingga 439. Lalu di akhir halaman 448 tertulis:
"Yang mendengarnya sebagai kabar burung, banyak. Yang benar-benar tahu dan percaya, sangat sedikit. For the rest of the world, our story is a myth at best. A grim fairytale."
Kalimat itu seperti ingin menunjukkan kepada pembaca bahwa kisah dalam serial Gelombang bisa dianggap mitos, fairytale, atau dipercaya sebagai kenyataan (yang sedang difiksikan oleh Dee).

5. Di awal, saya menyebutkan bahwa serial Gelombang ini sungguh menggemaskan. Ya, dari segi nama tadi sudah saya ceritakan di poin dua, Lalu menggemaskan dari sisi ending. Siapapun yang baca pasti gemas karena endingnya jelas-jelas bersambung ke Intelegensi Embun Pagi. Mau tidak mau harus beli seri terakhir itu. Dan satu lagi yang menggemaskan adalah: dialog. Saya sebal dengan Dee yang tidak menerjemahkan dialog berbahasa Inggris dan menganggap semua pembaca akan mengerti. Biar bagaimana pun mudahnya dialog Bahasa Inggris yang ditulis, betapa pun familiarnya di mata pembaca, harus diterjemahkan dong! Terlebih lagi dialog campuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Saya jadi bingung, sebetulnya tokoh-tokoh di novel ini bicara dalam bahasa apa? Kalau memang mereka semua bicara dalam bahasa Inggris dan Dee menerjemahkan langsung ke dalam bahasa Indonesia, lalu mengapa tetap ada selipan bahasa Inggris yang tidak diterjemahkan? Buat apa? Terlebih lagi kalau ada dialog dalam bahasa Spanyol, dll, yang otomatis sudah diterjemahkan Dee ke dalam bahasa Indonesia. Mengapa ada sisipan bahasa Inggrisnya juga dan tidak diterjemahkan? Saya jadi bingung, tokoh-tokoh ini sebetulnya bicara menggunakan bahasa apa? Simak dialog ini:
"You're not. Tidak sekarang, Nicky. Kamu lebih aman bersama Norbu atau kembali ke Zedeng." (dialog Alfa ke Nicky yang notabene orang New York).
Berarti Alfa sedang bicara dalam bahasa Inggris dong ke Nicky. Kok dialognya setengah-setengah begini? Kalau mau diterjemahkan, ya terjemahkan semuanya. Kalau setengah begini, kan pembaca jadi mikir, mereka sebetulnya bicara dalam bahasa apa? Kok ada selipan bahasa Inggrisnya?

Anehnya, dialog macam begini digunakan oleh Dee untuk hampir semua dialog dalam novel ini. Saya jadi mikir, Dee terlalu tertekan deadline sampai sebegini cerobohnya atau bagaimana? Apa fungsinya menerjemahkan sepotong-sepotong? Kecuali kalau yang berdialog sama-sama orang Indonesia lalu ada selipan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya baru saya mengerti. Ini sesama orang New York terus dialognya begini, gimana ya logikanya?

Saya akui, kelemahan serial Supernova kali ini memang di dialognya. Semoga di serial Intelegensi Embun Pagi, Dee lebih teliti lagi. Pengalaman menulis belasan tahun seharusnya mematangkan Dee, bukan membuat dirinya tampak jadi mentah begini.

Demikian review semi spoiler yang ingin saya sampaikan. Jika teman-teman memiliki pendapat lain, silakan kirimkan melalui kolom komentar.




Comments