Sally Sendiri*

Sudah seratus tahun lamanya gadis itu mendatangi tempat-tempat yang pernah kami datangi. Ia selalu menangis di sana. Terutama di sebuah pantai tempat ia pernah mabuk di pelukanku, mengeluhkan hidup yang tak selalu berpihak kepadanya. Ia akan selalu ingat saat pertama kali aku mengucapkan rasa sayangku kepadanya. "Aku tak ingin kamu menyakiti dirimu sendiri sebab aku menyayangimu."

Ia tak akan pernah lupa kejadian malam itu. Juga kejadian-kejadian apa pun yang telah kami lewati selama sembilan bulan lamanya. Ya, kami hanya menjalin percintaan selama sembilan bulan, tetapi ia mampu mengenangku selama seratus tahun. Selama itu pula aku tak bisa kembali kepadanya. Sudah ku katakan, semua sudah terlambat. Aku tak akan pernah kembali ke pelukannya. Rasa sakitku karena kesombongannya tidak akan tergantikan oleh apa pun. Biarkan ia mencariku di tempat-tempat itu, selama seratus tahun, lima ratus tahun, selama-lamanya, aku tak akan kembali ke pelukannya.

Selama sembilan bulan lamanya aku setia mendampingi dirinya. Selalu menjadi pendengar apa pun keluhannya terhadap hidup dan kehidupan. Selalu jadi orang pertama yang mengkhawatirkan kesehatannya. Yang akan datang dengan makanan dan cerita-cerita lucu hanya demi melihatnya tertawa. Memijat kakinya meski tubuhku sendiri remuk karena bekerja tanpa istirahat. Biarlah rasa lelahku melebur dalam pengabdianku untuknya.

Selama sembilan bulan pula aku selalu sabar meski ia tak pernah mendengarkan keluhanku dan menyebutku lemah. Ia tak pernah tahu bagaimana pegalnya mengangkat barang puluhan kilogram, mendatanya, bahkan menggantinya dengan uang gajiku sendiri jika ada satu saja barang yang hilang. Yang ia tahu hanya tekanan pekerjaannya sendiri. Yang ia tahu bahwa dirinyalah yang paling sengsara di dunia ini. Ia tak pernah tahu, banyak orang di dunia ini yang lebih sengsara dibandingkan dia. Bahkan salah satu di antaranya adalah kekasihnya sendiri, aku, seorang buruh yang tak akan pernah sanggup menyamai penghasilannya.

Tapi setelah sembilan bulan, akhirnya kesabaranku sirna. Dimulai sejak aku sakit dan ia sama sekali tak mau datang membawa makanan untukku. Padahal saat itu aku sedang dalam keadaan nyaris sekarat. Jangankan jalan untuk mencari makan, membuka pintu atau jendela kamar saja aku begitu lemah. Dia malah menyuruhku datang ke tempatnya agar bisa ia rawat. Bodohnya aku masih saja datang. Meski hari itu kami berdua tidak bertengkar, tetapi aku tak akan lupa hari itu. Hari pertama kalinya aku merasa bahwa ia begitu sombong, angkuh, tidak berperasaan. Harus aku yang mengalah.

Puncaknya adalah ketika aku meminta dia mengirimkan sejumlah uang untuk membantuku. Kami berdebat tentang uang yang sebetulnya adalah milikku. Ia memang mengirimkan uang itu, tetapi sambil marah-marah dan memutuskan hubungan kami. Aku sakit hati sekali. Ini penghinaan. Mana mungkin aku bisa hidup dengan perempuan macam begitu? yang tidak mau diajak hidup susah? yang membiarkan kekasihnya sengsara? yang tidak mau membantu kekasihnya ketika sedang dalam kesulitan? Cukup sudah. Aku tak sanggup lagi. Saat ia menyesali keputusannya memutuskan aku, itulah saat yang tepat aku mengatakan padanya: semua sudah terlambat!

Aku pun meninggalkannya.

Baru setelah aku meninggalkannya itulah ia meminta maaf dan menyadari segala kesalahannya. Terlambat, semua sudah terlambat. Aku sudah berubah. Aku bukan lagi lelaki yang tunduk di telapak kakinya, memujanya, meski diperlakukan semena-mena. Aku lelaki sejati yang tak bisa diinjak-injak. Apa pun yang ia katakan, apa pun yang ia lakukan, tak akan mengubah keputusanku. Semua sudah terlambat!

Seratus tahun lamanya gadis itu melanjutkan hidup sendirian. Ia selalu datang ke tempat-tempat kami pernah menjalani indahnya cinta selama sembilan bulan lamanya. Ia lalu menangis dan berharap aku akan datang untuk menghapus air matanya. Tapi itu tak akan pernah ku lakukan.

Meski begitu, ia tetap mendatangi tempat-tempat itu sambil menangis. Tempat makan favorit kami, pantai, bioskop, pusat perbelanjaan, tempat penjualan DVD bajakan, toko buku.

Mengapa aku tahu ia selalu datang ke sana selama seratus tahun? Sebab aku pun selalu datang ke tempat-tempat itu, hanya untuk melihatnya menangis. Tapi aku tak pernah puas. Selama apa pun, seratus tahun, lima ratus tahun, sampai kiamat pun, mungkin aku tak akan pernah puas membalaskan rasa sakit hatiku. Sebab ia pantas menerimanya. Seseorang yang tak bisa menghargai cinta, layak mendapatkan siksa.

***

Sudah seratus tahun lamanya aku setia mencintai lelaki yang pernah mencintaiku. Aku rela menanti hingga seratus tahun untuk mendapatkan kembali cintanya. Aku rela menanti hingga ratusan tahun lagi jika itu dapat menebus segala kesalahanku kepadanya.

Tapi ternyata setelah seratus tahun menanti, akhirnya ia menemuiku di pantai, sama persis seperti pertama kali kami menjalin kisah cinta.

"Mengapa kau masih menungguku?" tanya kekasihku.

"Sebab aku mencintaimu. Aku menyesali perbuatanku. Aku ingin diberi kesempatan, satu kali saja, untuk membuktikan bahwa aku menyesal."

"Berubahlah untuk dirimu sendiri dan biarlah kamu yang baru nanti dimiliki oleh lelaki lain."

"Jadi, setelah seratus tahun menunggu, aku tetap tak diberi kesempatan?"

"Kesempatan untuk apa? Kalaupun kita kembali menjalin hubungan, aku tak bisa memberimu apa-apa. Aku hanya buruh yang mencintai seorang perempuan cantik yang dipuja langit dan bumi. Untuk apa kau memperjuangkan aku, seorang yang tak bisa memberimu apa-apa?"

"Tapi kau memberiku waktu. Tak ada lelaki di dunia ini yang bisa memberiku waktu seperti kau memberikannya kepadaku."

"Aku hanya membuang-buang waktumu. Buktinya, seratus tahun hanya kau habiskan untuk menungguku yang bajingan ini. Tidakkah kau merasa rugi?"

"Aku sama sekali tak merasa rugi. Asalkan pada akhirnya kau kembali ke pelukanku, aku rela menunggu lebih lama lagi."

"Aku tidak bisa."

"Kalau begitu, biarkan aku punah. Aku akan menghilang dari dunia ini. Aku tak akan kau temukan di mana-mana."

"Punah bagaimana maksudmu? Kau sudah bergentayangan menungguku selama seratus tahun dan kini mau punah begitu saja? Mana bisa?"

"Bagaimana pun caranya, jika kau betul-betul tak bisa menerimaku lagi, jika memang keputusanmu tak bisa diganggu-gugat lagi, maka aku memilih punah. Betul-betul tak berwujud lagi. Tak akan kau temui aku lagi di mana pun. Di tempat-tempat kenangan kita, atau di belahan dunia mana pun. Aku akan punah."

"Sally ..."

Itu terakhir kalinya aku mendengar kekasihku menyebut namaku. Setelah itu aku tak dapat mendengar apa pun lagi, melihat apa pun lagi. Tak bisa menulis, atau membaca ... mungkin aku memang betul-betul punah, entah bagaimana caranya.

***

Aku tak mengerti bagaimana caranya kekasihku atau mantan kekasihku bisa punah begitu saja. Dia tak bisa lagi ku temui di mana-mana. Padahal, aku tak betul-betul ingin menolaknya. Padahal aku masih mencintainya. Aku hanya butuh perasaan diperjuangkan. Aku hanya butuh selalu dikejar-kejar oleh seorang perempuan. Aku hanya butuh pengakuan. Aku ingin tahu bagaimana rasanya ditunggu sebab aku lelah selalu menunggu. Selama seratus tahun aku telah menikmati permainanku sendiri. Aku telah menciptakan seorang perempuan yang menungguku selama seratus tahun, bahkan bisa lebih lama dari itu. Tapi kini ia punah, ia hilang. Mungkin karena egoku terlalu tinggi. Seharusnya aku memberinya kesempatan. Seharusnya seratus tahun sudah cukup bagiku bermain-main dengan Sally.

Ah entahlah. Jangan-jangan sebetulnya Sally itu memang tidak pernah ada. Jangan-jangan aku juga hanya tokoh rekaan dari kepala seorang penulis yang sedang kehabisan ide mau menulis apa. Jangan-jangan ... 




*) terinspirasi dari lagu "Sally Sendiri" yang dipopulerkan Peterpan (sekarang band NOAH)



Comments