Kehebatan Satire Film India

Film India tidak bisa lepas dari hujan dan pohon. Melihat pohon yang diguyur hujan, ingatan kita pasti akan langsung mengingat adegan film India saat aktor dan aktris utamanya menyanyi sambil menari dalam guyuran hujan. Entah lagunya sedih atau senang, mereka akan menyanyi sambil menari mengelilingi pohon. Adegan yang hampir selalu ada di film India itu mau tak mau memang akan diingat bagi siapapun yang pernah (apalagi sering) menonton film Bollywood. 




Film PK, yang sempat jadi trending topic di twitter dengan hastag #PK itu pun tak luput dari adegan mainstream ini. Namun, apa yang membuatnya dibicarakan oleh netizen hingga para penulis sekaliber Goenawan Mohamad pun me-review-nya dalam cacatan pinggir? Bahkan, seperti dikutip oleh tempo.co, Film PK yang dibintangi Aamir Khan ini dinobatkan sebagai film India yang paling banyak mendapat untung sepanjang sejarah. 
Keuntungan tidak hanya didapat dari penjualan hak putar, tapi juga dari pemasangan iklan. Film yang inspiratif tapi diprotes oleh sejumlah kelompok Hindu di India ini dikabarkan telah memperoleh keuntungan sebesar US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,2 triliun dan masih akan terus bertambah. Keuntungan dari film yang disutradarai Rajkumar Hirani tersebut didapat dari pemutaran di seluruh dunia. Selain itu, ada keuntungan yang ditangguk dari iklan yang bertebaran sepanjang film. Setidaknya ada 415 merek yang beriklan saat film ditayangkan. "Iklan di bioskop menjadi salah satu cara berpromosi yang menjanjikan," kata Ajay Mehta, managing director interactive television, kepada India TodayFilm itu sendiri telah ditayangkan di 4.000 bioskop di India dan 844 bioskop di luar India (Tempo.co, 14 Januari 2015). 
Meski memiliki adegan mainstream menari dan menyanyi di bawah hujan, PK adalah salah satu film India yang unsur satirnya begitu kuat. PK mengisahkan tentang tokoh utama yang merupakan makhluk luar angkasa yang mengunjungi bumi. Karena remot kontrol yang menghubungkan dirinya dengan pesawat luar angkasanya dicuri, tokoh utama ini pun terjebak di bumi. Berkat perkenalannya dengan manusia dan konsep "Tuhan" dan "Agama", ia pun menyerahkan penyelesaian masalahnya kepada sesuatu yang dianggap "Tuhan". Ia mempelajari semua agama yang ada di India, meminta kepada semua "Tuhan" yang dikenalnya melalui percakapan dengan manusia.

Kekuatan satir yang dimiliki PK sebetulnya sudah didahului film-film India sebelumnya. Sebelum PK, Bollywood telah memproduksi beberapa film dengan kekuatan satir yang tak kalah dengan PK. Sebut saja film Boothnath (2008) dan Boothnath Return (2014), juga film 3 Idiots (2009), Slumdog Millionaire (2009) dan My Name is Khan (2010). Seperti PK, film 3 Idiots juga diperankan oleh Aamir Khan. Sedangkan tokoh utama dalam kedua film Boothnath adalah Amitabh Bachchan. Dan pemeran utama My Name is Khan adalah Shahrukh Khan. Bukan hanya karena ketiga film ini diperankan aktor-aktor kelas satu Bollywood, namun juga karena cerita filmnya yang bermakna.








Slumdog Millionaire, meski dibuat oleh orang Inggris (sutradara Danny Boyle dan skenario ditulis oleh Simon Beaufoy), namun film ini merupakan adaptasi dari novel berjudul Q & A karya penulis India, Vikas Swarup. Pemain film ini pun semuanya orang India dengan setting yang juga di India. Film ini memenangkan Academy Award tahun 2009 dalam kategori Best Picture, Best Director, dan Best Adapted Screenplay. Meski meraih piala Oscar berkat sentuhan tangan orang Inggris, namun ide cerita yang ditulis oleh Vikas dalam novel Q & A terinspirasi dari kuis yang sangat terkenal di Inggris dan menjadi kuis yang 'go international', yakni Who Wants to Be a Millionaire (kuis ini juga sempat terkenal di Indonesia)Sebelum diadaptasi menjadi film, novel Q & A telah memenangkan sejumlah penghargaan, salah satunya South Afrika Boeke Prize 2006 dan hingga kini telah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa.



Sedangkan Boothnah dan Boothnath Return adalah kebalikannya. Ini film yang diproduksi oleh orang India namun diadapatasi dari cerpen yang ditulis oleh penulis Irlandia, Oscar Wilde yang berjudul "The Canterville Ghost". Film ini bercerita tentang sosok hantu (atau jiwa yang tak bisa moksa atau gentayangan karena urusannya di bumi belum selesai). Awalnya tokoh utama hanya ingin menyelesaikan urusan pribadinya, namun ia dihadapkan pada persoalan bangsa yakni pejabat korup. Hantu ini pun malah mencalonkan diri menjadi menteri untuk menandingi pejabat korup tersebut dan ia memenangkan pemilihan. Film ini bertema politik namun dengan genre supernatural komedi. Sungguh menyenangkan menontonnya.



Film yang ditulis dan dibuat oleh orang India adalah 3 Idiots. Film ini mengisahkan tokoh utama seorang mahasiswa yang out of the box. Ia selalu berbeda pendapat dengan dosen hingga berkali-kali harus diusir dari kampus atau diancam dapat nilai paling buruk di kelas. Aamir Khan yang berperan sebagai Ranchoddas Shamaldas Chanchad (dipanggil Rancho) sesungguhnya bukanlah Rancho yang asli. Ia hanya menggantikan Rancho asli demi bisa bersekolah, sebab ia merupakan anak dari pelayan di rumah Rancho yang tak punya biaya untuk sekolah. Rancho membutuhkan gelar dan Phunsuk Wangdu (dirinya) membutuhkan ilmu. Sehingga, setelah lulus, Rancho palsu ini harus menghilang dari teman-temannya dan menghapus jejak. Setelah sepuluh tahun, teman-teman Rancho pun mencari dirinya dan akhirnya rahasia ini pun terkuak. Berkat ilmu yang dimiliki, Phunsuk Wangdu memiliki puluhan paten yang diakui internasional dan mendirikan sekolah yang out of the box, sementara Rancho, si anak orang kaya asli, hanya memiliki gelar dan bekerja mengandalkan proyek-proyek dari koneksi ayahnya.



Satu lagi film yang ditulis dan diproduksi oleh orang India, yakni My Name is Khan. Film ini mengangkat tema terorisme, yang melekat pada umat muslim hampir di seluruh dunia. Meski India identik dengan umat Hindu, namun film ini mengisahkan tentang umat muslim di India yang juga mengalami kesulitan saat harus memasuki wilayah Amerika hanya karena nama belakang. Saat itu, tokoh utama Rizwan Khan (yang notabene berkebutuhan khusus atau menderita Asperger Syndrome) pun bersikeras ingin bertemu dengan Presiden AS untuk mengeluhkan diskriminasi yang dialaminya. Film ini memang happy ending. Terlepas dari ending-nya yang terlihat sangat mudah (atau dibuat mudah, ala ending-ending film hollywood), namun keseluruhan film bisa membuka mata dunia tentang kekesalan umat muslim yang selalu diidentikkan dengan teroris dan terorisme.

Jika My Name is Khan menyindir soal terorisme yang 'mengkambinghitamkan' umat muslim, maka Bothnath dan Bothnath Return mengisahkan tentang pejabat korup di India. Lalu film 3 idiots menyindir sistem pendidikan yang sudah usang dan mengekang kreativitas siswa. Menyindir pendidikan yang hanya mencetak sarjana bertitel tapi belum tentu berguna bagi masyarakat.  Slumdog Millionaire, mengangkat realitas kuis yang mendunia dan membuat seseorang bisa kaya raya mendadak, dengan bekal keberuntungan, bukan kerja keras. Yang terbaru, PK, lebih berani lagi dengan mengangkat tema tentang "Tuhan", "Agama", dan penganutnya yang fanatik, dengan kisah yang sangat kocak.

Meski 2 dari film-film ini diangkat dari cerpen Irlandia, atau diproduksi oleh orang Inggris, namun kita bisa sepakat bahwa Bollywood bukan cuma soal menyanyi dan menari di bawah pohon. Lebih dari itu, mereka tak pernah melepaskan ciri khas India dalam film-filmnya, misalnya kain sari yang selalu melekat di tubuh wanita India, atau makanan-makanan khas India dan tentu saja musiknya. Dan, ini yang masih belum dimiliki oleh film-film Indonesia, bahwa Bollywood mampu membuat karya satire yang menghibur. Tidak menggurui, namun penonton tersentil dengan sendirinya usai menonton. Setidaknya kesan itu terasa untuk saya, sebagai penulis review ini.

Jika teman-teman memiliki list film India dengan satire yang kuat seperti film-film yang telah saya sebutkan, silakan sampaikan via kolom komentar ya.

Comments