Cerita Pendek yang Tidak Pendek

Sepanjang pengalaman saya membaca cerpen karya penulis Indonesia, saya baru menemukan cerita pendek yang panjangnya 72 halaman buku, berjudul Susanna Susanna! karya Rio Johan di dalam buku berjudul Aksara Amananunna ini. Jika satu halaman buku rata-rata berisi 300-an kata, maka 72 halaman kemungkinan berisi 21.600 kata. Padahal, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), cerpen adalah akronim dari cerita pendek, yaitu kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi.



Ini baru satu keunikan dari buku ini. Rio Johan, penulis muda yang menggemari film dan video game ini rupanya tak terkungkung aturan baku tentang panjang cerpen. Cerpen-cerpen Indonesia yang selama ini beredar, kebanyakan menggunakan standar cerpen koran: berisi tak kurang dari 10.000 karakter (itu artinya lebih pendek lagi dari pengertian cerpen menurut KBBI). Keterbatasan halaman koran membuat cerpenis mau tak mau harus memangkas cerpennya seefisien mungkin, disesuaikan dengan kebutuhan koran (jika ingin karyanya dimuat). Tapi Rio tidak membutuhkan itu. Ia membebaskan imajinasinya dan menuliskan cerpen sepanjang 72 halaman seperti yang dilakukan cerpenis dunia. The Curious Case of Benjamin Button karya F. Scott Fitzgerald misalnya, adalah salah satu cerpen yang bisa dijadikan contoh. Panjangnya kurang lebih 53 halaman buku (tentu saja ukuran buku menentukan jumlah kata per halaman). Saya teringat ucapan Eka Kurniawan dalam launching kumcer Esquire bahwa cerpen-cerpen koran di Indonesia masih terlalu pendek. Eka pernah diminta menulis cerpen oleh media asing dan saat ia meminta media itu memilih cerpen-cerpennya yang sudah ada, Eka terkejut karena menurut media asing tersebut, cerpen-cerpennya kependekan. Tak heran, buku terakhir Eka, kumpulan cerpen berjudul Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi hanya setebal 167 halaman, padahal berisi 15 cerpen. Sedangkan buku Aksara Amananunna, setebal 237 halaman, hanya berisi 12 cerpen.

Barangkali keengganan Rio untuk menjadi mainstream ini yang membuat karyanya masuk dalam long list Kusala Sastra Khatulistiwa kategori Prosa tahun 2014. Namun yang membuat saya kemudian membeli bukunya adalah setelah buku Aksara Amananunna ini terpilih sebagai Buku Sastra Terbaik  Pilihan Tempo tahun 2014. Apa yang membuat Tempo memilih buku ini?




Saya menemukan kemungkinan pertama: panjang ceritanya tidak ada yang mainstream. Sehingga penulis lebih bebas menuliskan ide-ide dan imajinasinya tanpa ketakutan kehabisan halaman atau jatah karakter. Tapi bukan berarti cerpennya jadi bertele-tele. Simak cerpen Undang-Undang Antibunuhdiri yang menjadi pembuka buku, sekaligus cerpen favorit saya di buku ini. Karya satire ini memiliki ending yang monohok. Bagaimana seorang Perdana Menteri yang sedang menghadapi peningkatan kasus bunuh diri di negerinya justru berpikiran untuk bunuh diri karena tak kuat menghadapi masalah itu.

Yang mengusik saya dari buku ini adalah selain satire soal pemerintah di Undang-Undang Antibunuhdiri, Rio juga menampilkan kisah homoseksual. Setidaknya ada 3 judul cerpen yang mengisahkan tentang perilaku homoseksual, yakni Riwayat Benjamin, Robbie Jobbie, dan Susanna Susanna! 
Dalam cerpen Susanna, Susanna! Rio bahkan secara rinci mendeskripsikan alat kelamin palsu yang terbuat dari kulit babi yang digunakan Susanna untuk bercinta dengan pelacur-pelacur bayarannya.

Sedangkan tema prostitusi kelas atas tergambar dengan jelas dalam cerpen Komunitas. Entah dari mana Rio mendapatkan referensi atau apakah ia pernah berbicara langsung dengan pelaku prostitusi premium ini, yang jelas saya seperti membaca laporan jurnalistik investigasi tentang komunitas. Simak paragraf berikut:
Markas Komunitas terletak di daerah pinggiran, tidak terlalu jauh dari kota sebetulnya, tapi terletak bukan pada jalur yang ramai dan sering dikunjungi. Markas yang dimaksud berada di balik tembok tinggi yang memberikan kesan penjara, ditambah kehadiran dua penjaga berbadan besar pada gerbang besi, malah menguatkan kembali perasaan ngeri dan sesal yang masih menyisa di dalam kepalaku. Tapi, setelah menembusnya, sebetulnya isi tembok itu tidak semengerikan yang kuduga. Berhektar-hektar padang rumput rapi langsung menyambar mataku, sebuah taman yang tertata dan terjaga, barisan pohon rindang berjajar di kiri-kanan jalan, dan pada ujung jalur lurus yang kami lintasi berdiri sebuah kediaman besar nan megah, dengan puluhan jendela berjajaran dan sebuah pintu kayu besar tepat di tengahnya. Sebuah chateu, menurut wanita itu. 
"Selamat datang di Komunitas," sambut wanita itu dengan suara dan senyum khasnya yang formal dan instruksional. 
Keunikan lain dari cerpen-cerpen dalam buku ini adalah adanya karya surealis. Simak cerpen Ketika Mubi Bermimpi Menjadi Tuhan yang Melayang Di Angkasa dan "Apa Iya Hitler Kongkalikong Dengan Alien?" juga cerpen Ginekopolis yang mengisahkan tokoh utama yang terbangun di tahun 8475. Saya sebetulnya tidak begitu suka karya surealis dan tiga cerpen ini agak mengawang-awang tapi bisa dinikmati sebagai khayalan tingkat tinggi Rio.

Saya malah lebih suka cerpen Tidak Ada Air Untuk Mikhail yang lebih 'nyata' atau 'membumi' ketimbang ketiga cerpen di atas. Sederhana saja, mengisahkan anak kos yang harus ekstra sabar karena selalu kehabisan air di kamar mandi kos karena telah digunakan oleh belasan anak lain. Terlebih karena di akhir kisah Rio mengakui bahwa cerpen ini terinspirasi dari kondisi air di kosannya yang sering ngadat, cerpen ini jadi punya intimasinya sendiri.

Cerpen Aksara Amananunna dan Pisang Tidak Tumbuh Di Atas Salju memiliki plot yang hampir serupa. Kisah tentang keluarga yang hendak mewariskan sesuatu kepada keturunannya. Jika di Aksara Amananunna tokoh utama ingin mewariskan aksara yang ditemukan sendiri olehnya, maka di cerpen Pisang .. tokoh utama ingin mewariskan kebiasaan berpetualang di negeri asing dan menemukan hal-hal baru di sana. Salah satunya saat sang ayah menemukan pisang, yang tak pernah tumbuh di negerinya sendiri. Tanpa berpetualang, keluarga itu tak akan pernah mencicipi buah lonjong berwarna kuning itu.

Terakhir, cerpen Kevalier D'Orange yang mengisahkan tentang teka-teki apakah seorang Kevalier berkelamin lelaki atau perempuan. Negeri jadi terbelah dalam dua kubu, yang meyakini ia laki-laki dan yang meyakini ia perempuan. Rio begitu lihai menyimpan fakta sehingga baru di akhir cerita pembaca mengetahui, apakah Kevalier D'Orange seorang lelaki atau perempuan. Cerpen ini bisa menjadi karya satire (terlepas disengaja atau tak disengaja oleh penulisnya), bahwa terkadang prestasi seseorang menjadi tidak penting, tetapi jenis kelamin lah yang penting. Simak paragraf berikut:
Pada hakikatnya, lelaki-lelaki itu tak percaya, dan boleh jadi terusik juga, dengan gagasan bahwa bahadur yang perkasa itu, yang telah berjasa pada kemaharajaan, adalah seorang perempuan, dan bukan laki-laki. Di barak, anggota legian yang dipimpin Sang Kevalier seringkali menjenakai gunjingan itu,"Masa iya, pimpinan kita perempuan? Hahaha!"
Intinya, buku Aksara Amananunna memang unik, memiliki banyak tema sehingga tak membosankan. Panjang ceritanya anti mainstream, tak sependek cerpen-cerpen koran. Setahu saya, penerbit mainstream seperti KPG (yang menerbitkan buku ini) jarang menerbitkan kumpulan cerpen kecuali cerpen-cerpennya sudah pernah dimuat di berbagai media, atau nama penulisnya sudah tenar sekali. Kehadiran buku ini memberi angin segar bagi penulis cerpen muda, bahwa tanpa berkarier di cerpen koran pun kita bisa menerbitkan buku kumpulan cerpen, selama cerita kita out of the box! dan kita dispilin menuliskannya dengan struktur yang baik dan enak dibaca.


Comments